Singapura, tanah singgah

” It’s better to see something once, than to hear about it a thousand times “

Singapura, Desember 2014

Lelaki petugas MRT Changi Airport itu malah tertawa ketika saya mintai penjelasan tentang EZ-Link Card yang barusan saya beli darinya. “Sorry, i’m serious, this is my first time, i’m from Bali”. MRT itu melaju cepat membawa saya. Di dalam gerbong, kursinya nyaman, bersih dan suhunya sedingin ruangan mesin ATM tepi jalan di Indonesia.

Hampir tengah malam waktu setempat, tidak ada kesibukan yang berarti ketika saya tiba di Choa chu kang MTR Station. “Good to see you man!”,  suaranya diikuti gerak tanganya yang menepuk pundak saya, kami berjalan keluar menuju Food court terdekat. Secangkir kopi hitam tanpa gula tersaji cepat dihadapan saya, dan kami memulai obrolan singkat malam itu.

Zander Goh nama panjangnya, dia seumuran dengan saya, matanya sipit, tubuhnya kekar, accent Singlish-nya kental, akhiran –la di akhir kalimat kerap ia ucapkan, seorang kawan lama dari Singapura. Setengah tahun yang lalu dia solo travelling ke Bali, bertanya banyak tentang rafting di Ubud dan hiking di Gunung Batur awal mula saya mengenalnya.

Raut wajah bingung diselingi sesekali tawa mendominasi mimik mukanya, mungkin karena mayoritas pertanyaannya saya jawab dengan “I don’t know”. Ya, saya tidak memiliki rencana perjalanan yang pasti, tidak tahu mau kemana dan tidak tahu kapan akan pulang. Beberapa hal yang saya tahu, saya berada didepannya sekarang karena tiket promo pesawat seharga Rp 140.000,-  yang saya dapat dari seorang teman awal tahun lalu. Saya tidak punya tiket pulang, bawa uang seadanya, dan tidak bersiap secara matang, bahkan passport ini pun baru jadi beberapa hari sebelum keberangkatan.

Satu – satunya rencana yang saya punya beberapa bulan yang lalu adalah menghanguskan tiket promo tersebut. Tapi entah kenapa detik ini saya berada disini.

“So, maybe will be finish on Thailand, or Cambodia if i’m lucky, just looking for the cheapest way, try saving as long as i can and go as far as i can”

Bagi saya, Singapura terlalu mahal. Tadinya hanya ingin sekedar lewat saja dan langsung ke Malaysia. Namun Zander mengijinkan saya menginap, barulah saya putuskan untuk singgah di Negara Kota ini.

Di tahun 1960-an Singapura dipenuhi gubuk-gubuk perumahan liar, dan HDB ( Housing & Development Board ) mampu mengubah kondisi itu menjadi perumahan padat penghuni yang teratur. 80% penduduk Singapura hidup di HDB, termasuk Zander. HDB merupakan perumahan publik yang dikelola langsung oleh pemerintah, kalau di Indonesia bentuk bangunannya mirip dengan apartemen. Satu blok HDB berarti satu bangunan gedung bertingkat yang terdiri dari puluhan lantai. Satu lantai terdapat belasan unit apartemen yang dihubungkan dengan koridor dan elevator.

Seumur hidupnya Zander tinggal di HDB bersama kedua orang tuanya, tipe HDB ini berkapasitas 2 kamar tidur, 1 ruang utama serta dapur kecil dan toilet. Dia bercerita, untuk mendapatkan HDB atau pindah ke HDB lain prosesnya tidaklah mudah. Pemerintah mengawasi dengan ketat, umur, jumlah keluarga, dan besarnya pendapatan mempengaruhi tipe HDB mana yang bisa dimiliki oleh seseorang.

Di lantai sebelah bed, matrass tebal lengkap dengan bantal sudah disiapkan untuk saya. Zander sudah tertidur lelap tanpa selimut. Sementara saya meringkuk kedinginan, suhu Air Conditioner di set amat rendah. Di dalam sleeping bag sobek kesayangan ini, saya lama terjaga.

Pagi itu barulah terlihat wajah Singapura yang sebenarnya. Sidewalk lebar bersebelahan dengan jalan aspal yang mulus dan pepohonan rindang, hijaunya taman terbentang luas. Sepanjang mata memandang tidak ada sampah berserakan atau genangan air di jalan berlubang. Bahkan saya rasa tidak ada debu-debu beterbangan. Gedung – gedung tinggi menjulang angkuh menjadi background yang dominan. Kerumunan para pejalan kaki itu sekilas nampak sama, mereka mengenakan setelan rapi ala pegawai kantor. Para perempuan berjalan cepat dengan high hills di kaki, dan para lelaki dengan gel di rambut membuat kepala mereka nampak mengkilap.

Meskipun mencapai peak jam sibuk, pagi itu tidak nampak penumpukan penumpang di Bouna Vista MRT Station. Setelah berpamitan dan berterimakasih pada Zander, saya duduk sendirian disana. Zander bersatu dengan keramaian, melanjutkan kehidupan kantor di pagi hari. Kerumunan padat itu keluar, kemudian masuk ke gerbong MRT yang datang silih berganti. Situasi di dalam gerbong MRT penuh, pun masih normal. Semua seakan berlangsung cepat dan tertata rapi, nyaman melaju kaku mengejar waktu.

Ingatan saya mundur ke belakang, sebuah kontradiksi. Teringat bagaimana situasi jam sibuk di Stasiun KRL Manggarai Jakarta. Saya terdiam melihat kerumunan padat chaos berlarian kesana kemari mengejar Commuter yang datang. Penumpang menumpuk tertahan lama di Stasiun. Di dalam gerbong, penumpang berdesakan penuh tanpa ampun, banyak wanita yang  terpojok, terhimpit, sampai – sampai pipi dan telapak tangan mereka menempel lengket di jendela kaca. Dari luar saya memandang, dalam otak saya mereka seolah berteriak, “tolong keluarkan saya dari sini”.

Setelah beberapa jam, seorang teman yang saya tunggu akhirya muncul. Chrisyln datang menghampiri, menyapa ramah dilengkapi senyum manis nan lebar. Umurnya lebih muda 2 tahun dari saya, rambut panjang menutupi badannya yang mungil. Seperti halnya gadis Chinese pada umumnya, Chrisyln bermata sipit dan berkulit putih bersih. Dahulu kala, banyak pedagang Cina yang datang untuk singgah dan berdagang di Singapura. Karena letaknya yang strategis kemudian terjadilah imigrasi besar besaran. Para pedagang Cina tak hanya singgah. Mereka menetap, bekerja, dan beranak pinak di pulau kecil ini. Sampai saat ini 75% penduduk Singapura adalah keturunan Cina.

“I thought maybe you are more a nature kind of guy than a city one, some people prefer touristic places so i asked where do you wanna go. Yeah it’s true that SG is an expensive city, but that’s only one side of SG tourist see. Will try to convice you otherwise! it’s not the most perfect country but it’s my home. So i’ll tell you about it!!”

Dan kami temukan sebuah rencana, Chrisyln akan membawa saya ke Singapore Botanical Garden. Sebuah tempat yang dia rasa akan fit dengan saya. Kami berhenti sejenak, duduk untuk sarapan di suatu Food court. Chrislyn memesan makananya, saya mengeluarkan logistik yang sengaja saya bawa dari Indonesia. Boleh dibilang 1/2 volume dari backpack saya isi dengan berbagai makanan. Di dalam ada berbagai jenis roti kering dan basah, bahkan ada beberapa pisang. Di Singapura yang serba mahal, menghemat disini akan memperpanjang langkah pada perjalanan di negara berikutnya.

Beberapa saat kemudian, langit yang sudah mendung sejak tadi akhirnya tak kuasa menahan hujan turun. Hujan tak kunjung henti, rencana tentang Singapore Botanical Garden resmi gagal total.

Bosan menunggu hujan, Chrisyln membawa saya berkeliling untuk melihat suasana sekitar. Menyusuri lorong jalan bawah tanah, tembus di dasar gedung, menyambung di Mall, lewat MRT Station, jalanan berkelok diapit gedung – gedung yang artistik, sampai lagi di beberapa pusat keramaian lain entah apa namanya, lalu berjalan dan berjalan lagi. Saya menikmati menjadi pejalan kaki di Singapura. Dari satu tempat ke tempat lain dapat diakses secara mudah, nyaman, bersih dan efektif. Bahkan di saat hujan seperti ini pejalan kaki tidak perlu basah basahan untuk mencapai tempat yang jauh.

Look, with your big pack, i think everybody know that you are a tourist “, katanya sambil tertawa.

“Well, i think i’m too poor to be a tourist here”.

Chrisyln berjalan dengan cepat layaknya penduduk Singapura pada umumnya. Seringkali saya yang berjalan lambat untuk menikmati suasana sekitar, lalu tertinggal jauh di belakang. Menurut penelitian oleh British Council, Singapura memiliki kecepatan berjalan tercepat. Rata – rata pejalan kaki menempuh jarak 18 meter dalam 10, 55 detik. Itu berarti kira – kira 6,15 km dalam satu jam!

Si pejalan cepat itu menjadi teman jalan yang menyenangkan, dia bercerita banyak hal, dan selera humornya tinggi. Berulang kali ia tegur saya yang selalu lupa untuk selalu berdiri di sebelah kiri saat melalui escalator. Lajur kanan dipakai untuk pejalan kaki lain yang ingin berjalan mendahului saat melalui escalator. Beberapa orang nyaris menubruk saya dari belakang. “ You are a golden fish brain!” kata itu diulangnya berkali – kali sambil cekikikan. Saya hanya tidak terbiasa dengan hal ini. Harusnya di bahu escalator diberi rambu : Lajur kanan hanya untuk mendahului!

Di dalam MRT & LRT system Map, mata saya menangkap nama yang tidak asing. Raffles Place MRT Station. Chrisyln tidak tahu bahwa Raffles yang sama-lah yang  menemukan species bunga terbesar di dunia, yang kemudian dinamai Rafflesia Arnoldi. Salah satu flora langka dari Pulau Sumatra.

Sir Thomas Stamford Raffles adalah pria warga negara Inggris yang juga dikenal sebagai Bapak pendiri Singapura Modern. Sebelum kembali untuk menetap ke Inggris tahun 1823, dalam kurun waktu 4 tahun ia membangun Singapura menjadi kota pelabuhan. Atas jasa pria kelahiran Jamaica ini, Singapura berevolusi menjadi titik penting di semenanjung Malaka yang menghubungkan jalur perdagangan dan pelayaran antara Asia Selatan dan Asia Timur Laut.

Ada cerita unik model believe or not tentang asal usul nama Singapura. Dahulu kala sebelum Raffles datang, Singapura yang dikenal dengan nama Pulau Tumasik merupakan wilayah kerajaan Sriwijaya. Konon suatu hari Nila Utama, Raja Sriwijaya pada waktu itu pergi berlayar. Dalam perjalanan kapalnya diterpa badai hebat. Nila Utama kemudian memutuskan untuk bersandar di Pulau Tumasik.

Dia dan pengawalnya berjalan untuk melihat kondisi pulau. Sang Raja kemudian mendengar suara auman dan sekelebat binatang besar, berbulu berwarna keemasan. “Binatang apa itu?”, tanya Raja. Salah seorang pengawal berkata, “kalau tidak salah orang – orang menyebutnya Singa”. Sejak saat itu Sang Raja menamai tempat itu Singapura, yang berarti Kota Singa. Belakangan diketahui bahwa menurut penelitian, tidak pernah ada singa yang hidup di Pulau Tumasik pada masa itu. Orang – orang menduga bahwa yang dilihat Raja adalah seekor Harimau. Mungkin pengawal itu lelah, haha

Kini, jauh setelah masa Sriwijaya dan Raffles, Singapura menjadi negara nomor satu di Asia Tenggara. Pelabuhan Singapura termasuk dalam 5 pelabuhan tersibuk di dunia. Bahkan tahun 2013 lalu , IMF menobatkan pendapatan rata – rata penduduk Singapura adalah yang tertinggi di dunia. IMF mencatat rata-rata pendapatan tiap orang Singapura dalam setahun mencapai 61.567 dollar AS atau sekitar Rp 601,32 juta. Angka yang menurut saya luar biasa untuk negara yang luas wilayahnya tak jauh beda dengan DKI Jakarta.

Saya dan Chrisyln duduk disebuah area dimana dari kejauhan tampak Hotel Marina Bay Sands, salah satu icon Singapura. Dibelakang Marina nampak Singapore Flayer, yang merupakan bianglala tertinggi di dunia. Chrisyln bercerita, Singapura tidak memiliki keindahan alam untuk menarik wisatawan. Oleh sebab itu pemerintah berusaha menciptakan tempat-tempat super bernuansa artificial yang nantinya akan jadi daya tarik pariwisata. Suntec City merupakan air mancur terbesar di dunia ada disana. Ada juga Henderson Waves Bridge, jembatan kayu raksasa setinggi 36 meter , bentuknya mencerminkan seni arsitektur tingkat tinggi, bergelombang dan meliuk cantik. Masih ada juga Universal Studio, dunia buatan yang amat terkenal.

Bagi Chrisyln, Singapura terlalu monoton, padat, dan sempit. Mimpinya adalah untuk menetap di Spanyol suatu hari nanti. Dia sangat fasih berbahasa Spanyol, beberapa kali dia juga pernah travelling kesana. Baginya segala sesuatu yang bernuansa Spanyol itu indah.

Singapura adalah sebagai tempat singgah bagi Chrisyln untuk melanjutkan mimpi. Singapura adalah sebagai tempat singgah Sir Thomas Stamford Raffles dalam perjalanan hidupnya yang hebat. Singapura adalah sebagai tempat singgah bagi siklus perekonomian dunia. Singapura adalah sebagai tempat singgah ribuan burung yang bermigrasi yang terbang melintasi Asia Timur dan juga bagi jutaan manusia yang datang dan pergi. Dan bagi saya, Singapura adalah sebagai tempat singgah untuk menapaki perjalanan selanjutnya…

DSC02623

                          Mendung & Marina

Advertisements

2 responses to “Singapura, tanah singgah

  1. It is appropriate time to make some plans for the longer term and it
    is time to be happy. I’ve learn this submit and if
    I may just I wish to suggest you some attention-grabbing issues or tips.
    Maybe you can write subsequent articles relating to this article.
    I desire to learn more things about it!

    Like

    • Thanks for the comment. I won’t write about some tips or great intinerary, budget or whatever that is for people to stick on it, people can find that easy on google. I write my journal on my style. My write is my personal journey 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s