Ko Phi Phi, Konsep Lain Tentang Kebebasan

“Travel is rebellion in its purest form”

Thailand, Desember 2014

Seperti anestesi dan eter, begitu pula overland trip dan border immigration check point. Dua hal berhubungan pasti yang tidak dapat dipisahkan. Prosesi antrean panjang, pengisian data kartu imigrasi, pemindaian sidik jari, foto wajah, dan beberapa pertanyaan yang terkesan formalitas dari petugas. Melintasi perbatasan antara dua negara menjadi cerita tersendiri dalam suatu perjalanan. Pagi itu di Sadao, sebuah cap baru pada passport menandai perjalanan saya selanjutnya, meninggalkan Malaysia menapaki Thailand.

Perlahan saya teliti kembali cap baru itu. Saya baru tahu, sebagai WNI ternyata lama waktu kunjungan didapat hanya 15 hari jika kita masuk Thailand melalui jalur darat. Berbeda jika mendarat di Airport, seorang WNI mendapat waktu 30 hari kunjungan. Hal yang tidak saya mengerti, kenapa harus berbeda seperti itu. Tapi apapun itu sudahlah, toh kondisi kantong saya sekarang juga tidak memungkinkan untuk stay lebih dari 2 minggu di Negara ini.

Mini van menepi, menurunkan saya dan Jeje di Krabi Town, sebuah kota di tepi Laut Andaman. Setelah menemukan dorm room murah, saatnya cari makan murah. Night market di tepi sungai Krabi menyediakan berbagai seafood dan menu khas Thailand. Dua piring pad thai, sebotol chang siap sedia di atas meja. Krabi menjadi salah satu titik pariwisata di Thailand Selatan. Selain kota singgah sebelum menyebrang ke Ko Phi Phi atau Phuket, disini terhampar beberapa pantai ternama seperti Ao Nang dan Railey. Jeje tidak punya banyak waktu, jatah cuti 10 hari-nya sudah hampir usai. Jadilah esok kami skip agenda pantai, gantinya kami menaiki 1237 anak tangga Tiger Cave Temple di pagi hari sebelum bertolak ke Ko Phi phi.

PicsArt_1448269620436
Tiger Cave Temple

“Ko” dalam bahasa Thailand berarti pulau, Ko Phi Phi berarti Pulau Phi Phi. Diantara “Ko” lain di Thailand Ko Phi Phi merupakan pulau yang paling touristic. Sebenarya kami lebih ingin ke Ko Pangan atau Ko Samui, dimana suasana mungkin sedikit lebih tenang. Letaknya lebih jauh dari Krabi, harus mencapai provinsi Surat Thani dimana butuh waktu lebih dan uang lebih. Jeje tidak punya waktu lebih dan saya tidak punya uang lebih, jadilah kombinasi yang sempurna dengan pilihan tersisa : Ko Phi Phi.

IMG_0411
Dermaga Phi Phi Don

Ferry menepi, birunya air laut diapit lereng-lereng tinggi gugusan karst. Sepanjang dermaga puluhan bendera Thailand dan Kerajaan berkibar sebelum berakhir di ujung gerbang “Welcome to Phi Phi Island”. Berjalan menyusuri gang kecil, saya temukan yang saya cari, Padi Dive Center. Tentunya bukan berniat untuk diving dengan kondisi kantong saat ini.

Hey, can i help you?”pria kulit putih itu menyapa saya, ramah. “Yea, i’m looking for a friend, Bart”, pria itu lalu memanggil Bart sembari mempersilahkan kami duduk.

Seperti Polish guy pada umumnya, kulitnya putih, posturnya tinggi , rentina berwarna, wajah Eropa timur. Yang berbeda dari Bart Mohart mungkin karena rambut yang gimbal ala Bob Marley dan brewok ala Yesus. Melihat kami yang tampak lelah, Bart tidak lama berbasa basi. Diambilnya peta, ditandainya letak hostel murah, makanan murah, dan berbagai tempat rahasia rekomendasi darinya. Hari ini dia kedatangan teman lain dari Itali, sehingga tidak dapat menampung kami di tempatnya.

Jumlah pengunjung kulit putih yang datang jauh lebih banyak daripada penduduk lokal. Sepanjang jalan berjejal tour agency yang menawarkan paket wisata. Pada umumnya paket wisata half day speed boat tour, mengarah ke area Maya Bay di Phi Phi Leh Island, pantai yang tenar karena film The Beach. Dilanjutkan ke Pileh Cave dan snorkeling di Monkey Beach. Bocoran bahwa Maya Bay sudah seperti pasar bubrah karena padatnya pengunjung, ditunjang masalah klasik kondisi kantong, paket wisata speed boat tidak masuk agenda saya. Dengan berhemat 1000 baht, bisa dialokasikan untuk stay lebih lama disini, pun saving untuk perjalanan selanjutnya.

DSC_0480
Ayunan

Ko Phi phi merupakan salah satu destinasi wisata utama di Thailand. Nama Phi Phi sendiri diambil dari jenis kayu bakau yang ditemukan di pulau ini. Ada 6 pulau yang membentuk gugusan Phi phi. Diantara 6 pulau tersebut, Phi Phi Don tempat dimana saya bepijak sekarang adalah pulau berpenghuni paling padat. Selama akhir 1940-an, Phi Phi Don awalnya dihuni oleh nelayan Muslim dan kemudian menjadi perkebunan kelapa. Hingga kini populasi penduduk asli Phi Phi Don adalah 80% muslim. Namun setelah berkembangnya pariwisata, banyak orang Thailand daratan yang datang mengadu nasib. Jadilah Phi Phi melting pot antara Muslim, Buddha, Thailand-Cina, dan bahkan gipsi laut atau Chao Ley.

Ko Phi phi mungkin bisa dianalogikan seperti Gili Trawangan versi jumbo . Pulau gugusan karst dengan pantai pasir putih, air laut turquoise yang cantik pada siang hari dan berubah menjadi pulau pesta pada malam hari. Teringat tahun 2012 lalu ketika pertama kali mengunjungi Gili Trawangan. Sama seperti di Gili, disini tidak ada kendaraan bermotor. Sepanjang hari kita bisa habiskan dengan berjalan explore pulau. Menyusuri pemukiman penduduk, menepi mandi ke pantai, bersantai membaca, menyelusuri hutan mangrove, atau menaiki bukit menanti senja di Phi phi view point.

Phi phi Island
Phi Phi View Point

Saat malam tiba, Beach club, Bar, Restaurant, Café, semuanya lengkap berjajar gegap gempita dengan berbagai konsep, ada juga atraksi fire show. Saya menuju Banana Bar, tempat nongkrong Bart tiap malam. Sebuah bar favoritnya, berkonsep rooftop dengan alunan musik santai.

IMG_0426
Banana

Bart adalah seorang teman, seorang senior nomad. Menghidupi hidup dengan mimpi tidaklah mudah. Di masa mudanya dia meninggalkan kuliah IT, mengikuti passion untuk belajar Nautical Archeology ( Arkeologi laut ). Dan hasilnya, sudah lebih dari 10 tahun dia berhasil merealisasikan mimpi untuk hidup nomaden. Berpindah dari satu negara ke negara lain, satu benua ke benua lain. Termasuk Flores, Indonesia. Di Phi phi dia seorang dive instructor di siang hari, dan berubah menjadi manusia santai dengan kepulan asap marijuana-nya di malam hari. Saya sependapat dengan filosofi hidupnya yang ia kutip dari penulis Leo Buscaglia.

“To place your ideas, your dreams before the crowd is to risk being called naive. To love is to risk not being loved in return. To live is to risk dying. To hope is to risk despair, and to try is to risk failure. But risks must be taken because the greatest hazard in life is to risk nothing. The person who risks nothing does nothing, has nothing, and becomes nothing. He may avoid suffering and sorrow, but he simply cannot learn and feel and change and grow and love and live. Chained by his certitudes, he is a slave, he’s forfeited his freedom. Only the person who risks is truly free”

Berbekal peta yang ditandai Bart, malam itu kami berjalan menuju sisi lain pulau. Sepanjang jalan berjejer toko yang menyediakan bucket. Yang dimaksut bucket di Phi Phi adalah gabungan dari beberapa jenis minuman beralkohol dicampur dalam satu wadah ember kecil. Mulai terlihat kerumunan orang menenteng bucket-nya masing-masing sebelum akhirnya kami sampai di tempat yang dituju. Menilik bagaimana kehidupan malam di pulau ini.

Ini adalah malam natal, hampir semua party bertemakan natal. Para waitress mengenakan kostum minimalis ala Santa, begitu juga dengan para pengunjung dengan pakaian nyleneh minimalis bernuansa natal. Banyak traveller yang bilang “Full moon party in Ko Phangan is the best party in Thailand”. Saya tidak paham bagaimana kategori sebuah best party, tapi disini rasanya party malam ini sudah super heboh. Di banyak tempat terpampang tulisan “Girls : Topless = Free Bucket” atau “Boys : Naked = Free bucket”. Hingar bingar teriakan tourist barat yang mulai mabuk seperti kesurupan, beberapa sudah terkapar, dentuman musik berisik meraung di tepi pantai. Dua setengah tahun hidup di Bali dan sekarang, ah semacam pemandangan seperti ini (lagi).

IMG_0416
Cukup tau

Ada sebuah konsep mengenai kebebasan yang berbeda di tempat seperti ini. Filusuf Isaiah Belin, dalam bukunya Two Concepts of Liberty berbicara tentang freedom from. Kebebasan yang merupakan tindakan individu, namun pada praktiknya tidak melanggar kebebasan individu orang lain. Selama tindakan kebebasan itu tidak mengganggu, mengusik, atau merugikan orang lain semua orang bebas bertindak apa saja. Namun, tanggungjawab atas tindakan harus menyertainya. Singkatnya, berarti keunikan dari tatanan sosial merupakan acuan suatu kebebasan.

Dan Ko Phi phi memiliki keunikan tatanan sosial itu, demikian pula kebebasan yang mengikuti. Seperti layaknya Gili Trawangan bukanlah Lombok, begitu pula Ko Phi Phi bukanlah Thailand. Sebuah pulau yang dipersembahkan bagi tiap traveler dari seluruh penjuru dunia. Mereka meninggalkan negaranya, meninggalkan rutinitasnya, meninggalkan semua background hidup, dan datang untuk berkespresi, berkumpul, berinteraksi, menikmati kebebasan yang mereka ciptakan.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s