Sebuah Prolog : Kamboja

“To travel is to take journey into our self”

Kamboja, Desember 2014

Debu-debu tebal terbang berhamburan, berdesak diudara, seolah tak mau kalah dengan jejalan padat manusia disekitarnya. Siang yang terik, dan sepertinya tempat ini lebih tampak seperti pasar dadakan. Poipet, pintu masuk jalur darat Thailand – Kamboja, salah satu Border Immigration Check Point yang terkenal corrupt di dunia. Titik merah, perbincangan kalangan pejalan yang membutuhkan visa untuk masuk Kamboja. Selain identik dengan visa scam, operasional di Poipet memang terkesan tradisional dan cenderung “mentah”. Sebagai WNI yang tidak memerlukan visa, hampir 4 jam saya tertahan ditempat ini hingga bus itu datang.  Entah berapa lama waktu yang dibutuhkan bagi mereka yang membutuhkan visa. Sebuah kesan pertama dari Kamboja, juga sebuah tanda tanya menyenagkan, ada apalagi di balik gerbang sana.

Di dalam bus tua ini, penumpangnya tidak hanya manusia, mulai dari tumpukan kardus, sayuran, sampai segerombolan ayam dipersatukan selama perjalanan 11 jam kedepan. Sebuah televisi tergantung diatas menampilkan berbagai lagu aneh dengan video klipnya yang lebih aneh. Mungkin bisa dibilang jenis musik warga lokal, semacam kombinasi tembang kenangan + dangdut ala Kamboja, entahlah apapun itu. Diantara semua penumpang, hanya saya dan 3 wanita kulit putih dibelakang yang bukan Khmer di dalam bus ini. Beberapa hari yang lalu di Bangkok, pesan balasan dari Kim melangkahkan kaki saya ke Kamboja untuk datang sebagai volunteer.

Tiba di Phnom Penh sebelum subuh setelah perjalanan melelahkan bersama magic bus itu, memaksa saya untuk mencari penginapan. Dorm room bertarif $ 5 ini menyudahi prosesi 20 jam Bangkok-Phnom Penh.

Sungai Mekong  coklat pekat meliuk lebar membelah Kota. Sebagai Ibukota Negara sekaligus merupakan Kota terbesar di Kamboja, tak banyak gedung tinggi menjulang atau bangunan megah disini. Lalu lintas beserta infrastruktur yang melekat juga masih terkesan old school. Kesemrawutan aktifitas yang ada belum menyentuh kesan Kota metropolitan abad 20. Tidak ada Mega Mal ala Kula Lumpur, Universal studio ala Singapura, Sky Train ala Bangkok, atau kemacetan ala Jakarta.  Phnom Penh memang tidak setenar Siem riep di barat laut sana yang dikenal dunia dengan Angkor Wat –nya, namun demikian Kota ini adalah saksi dinamis dari rentetan sejarah panjang Kamboja.

Desa Phrey Nheak terletak di Samrong, Provinsi Takeo dengan jarak tempuh 1 jam ke arah selatan Phnom Penh. Satu-satunya transportasi umum yang mengarah kesana adalah taxi, namun konsep “taxi” disini sangat lain. Dan episode magic bus dilanjutkan dengan magic taxi. Taxi berwujud mobil sedan tua, jangankan embel – embel nama perusahaan atau driver uniform, argometer pun tak ada. Yang paling ajaib seonggok sedan tua ini diisi oleh 8 orang penumpang  +1 supir. Steer mobil dimodifikasi agar dapat digeser dan dinaikkan, tujuannya agar si supir bisa duduk berdesakan dengan satu penumpang lain saat mengemudi. Satu kursi lain di depan ditempati oleh 2 orang penumpang. Kursi belakang dijejali 4 orang dewasa + 1 anak kecil.

Belum sampai setengah perjalanan si anak sudah muntah-muntah. Konsekuensi logis, selain tak ada celah untuk bergerak , udara pengap didalam makin nikmat terasa dibumbui goncangan jalanan yang tidak rata. Magic taxi menepi, menghantarkan si anak kecil yang malang dibantu sang ayah untuk menyelesaikan ritualnya. Semua penumpang keluar berhamburan meluruskan badan dan kaki yang terasa kaku.

Musim panas yang gersang, pemandangan sepanjang perjalanan didominasi ladang kering. Lepas dari Phnom Penh, tidak banyak kendaraan berlalu lalang, aspal tipis tampak lenggang. Sesekali kawanan sapi kurus berkeliaran mencari rumput hijau yang sudah jarang terlihat. Rumah penduduk bentuknya hampir semua sama, sederhana,  kombinasi sedikit tembok dan banyak kayu papan. Tidak akan ditemui supermarket atau mesin ATM yang biasa berjajar dipinggir jalan. Pasar tradisional muncul beberapa kali bersebelahan dengan toko – toko sempit. Berbagai daging seperti sapi dan babi tergantung tepat dipinggir jalan raya, ramai dikerumuni lalat dan debu yang terus berhamburan bebas. Pedagang daging mentah , ikan, buah, dan sayur sampai makanan siap santap bergerumul disatu tempat, bahu jalan raya.

Kehidupan tradisional berputar dikisaran keluarga, desa, sawah, dan kuil Buddha. Secara garis besar Kamboja adalah wilayah bagi masyarakat pedesaan, mereka mengolah ladang pertanian. Pendapatan per kapita Kamboja dari tahun ke tahun merupakan terendah diantara semua Negara asia tenggara. Konflik internal berkepanjangan berpengaruh signifikan pada terhambatnya pertumbuhan ekonomi, masyarakat, dan teknologi di Kamboja.

Kamboja menjadi Negara berdaulat setelah bebas dari penjajahan Perancis tahun 1953. Alih-alih terjadi pembangunan, setelahnya justru perang saudara perebutan kekuasaan berlangsung berlarut – larut. Puncaknya pada 1975 Kamboja membuat geger dunia dengan tragedi Khmer Merah. Cabang Militer Partai Komunis yang bekudeta dan berhasil menduduki pemerintahan. Seluruh daratan menjadi ladang pembantaian masal. Siapapun yang dicurigai sebagai kaum politikus, para intelektual, juga kelompok pedagang dibunuh dengan cara dipukuli sampai mati, tidak ditembak dengan alasan untuk penghematan amunisi. Anak-anak yang  tidak lahir dari keluarga petani akan dihabisi. Khamer merah bercita-cita mengubah Kamboja menjadi Negara Maois berkonsep agrarianisme. Hukum, mata uang dihapuskan, dan ekonomi dikendalikan dibawah garis keras komunisme.

Vietnam yang kesal akibat pelanggaran batas Negara berhasill menggulingkan pemerintahan Khmer Merah tahun 1979. Vietnam  membentuk pemerintahan boneka di Kamboja dan tidak diakui oleh dunia. Empat tahun berselang jalan menuju perdamaian mulai terbuka, 3 Faksi yang masih bertahan di Kamboja yaitu Khmer Merah, FUNCINPEC, dan Front nasional berkoalisi untuk mengusir Vietnam. Tahun 1989 tentara Vietnam akhirnya mundur dari Kamboja.

Tahun 1992, PBB melalui UNTAC, mengambil alih sementara pemerintahan Kamboja, kemudian menggelar pemilu demokratis yang dimenangkan oleh FUNCINPEC. Hingga kini, dipinggiran jalan raya sering saya jumpai tulisan Cambodian People’s Party ( CPP ). CPP merupakan Partai koalisi FUNCINPEC dalam pemerintahan. Kamboja lahir kembali sebagai Negara Kerajaan penganut sistem demokrasi liberal, pluralisme dan ekonomi pasar. Harapan baru terselip diantara nostalgia lama Kerajaan Khmer yang pernah berjaya menguasai seluruh Indochina antara abad ke-11 dan 14.

Analogi sederhananya adalah bagaimana pada tahun-tahun tersebut Kamboja masih berjuang dengan urusan rumah tangga yang tak kunjung akur. Sedangkan diwaktu yang bersamaan, negara-negara asia tenggara lain sudah mulai mempercantik diri mereka untuk merayu bangsa asing datang sebagai investor.

Kini rakyat Kamboja bisa hidup tenang, meskipun dibeberapa wilayah sisa-sisa ranjau darat masih bebas bertebaran. Bantuan datang dari berbagai Negara, termasuk NGO dari berbagai belahan dunia turut membantu pertumbuhan ekonomi. Pabrik – pabrik perlahan berdiri, Kamboja mulai disukai investor asing sebagai ladang bisnis menguntungkan karena upah tenaga kerja yang rendah. Industri tekstil menjadi sumber penghasilan terbesar. Dijalan bisa dilihat para buruh diangkut menggunakan truk terbuka, bersesakan berdiri untuk sampai ketempat kerja.

Kamboja harus melalui fase “tersesat” dalam pencarian identitas bangsa. Rangkaian sejarah panjang yang muram, kini tertinggal dibelakang sebagai sebuah prolog yang berlalu.

Berbeda halnya dalam suatu perjalanan. Menurut saya tersesat adalah suatu hal menyenangkan. “One of many good things in the travel is the aesthetics of lostness”. Berada di unknown place lengkap dengan penduduk sekitar yang tidak berbahasa sama memiliki esensi tersendiri. Magic taxi menurunkan saya ditempat yang tidak seharusnya. Desa Phrey Nheak sudah terlewat jauh dibelakang sana. Sebuah keberuntungan datang ( lagi ), diantara semua penumpang, terselip satu wanita paruh baya bisa berbahasa Inggris. Dia menyerahkan saya pada bapak tua yang berdiri dipinggir jalan. Si bapak membantu saya mendapatkan taxi lain kearah berlawanan. Disini mendapatkan taxi dipinggiran Kota bukanlah perkara mudah. Taxi yang lewat sangat sedikit, belum lagi kalau sudah terisi penuh penumpang. Lama menunggu, si bapak dari tadi antusias terus berceloteh dengan bahasa Khmer yang satu katapun tidak saya mengerti artinya. Sesekali dia tertawa , saya jadi ikut tertawa, menertawai absurdnya moment ini.

“I love my steps”

Setelah gagal dengan model sign language, prosesi tawar menawar dengan pak supir akhirnya berhasil dimengerti melalui komunikasi tulis menulis angka di kertas . Taxi membawa saya duduk manis didalamnya. Dalam hati ini berharap segala kepolosan, kejutan, absurd moment dari Kamboja masih akan berlanjut. Berharap ini hanyalah awal, sebuah prolog perjalanan menapaki Kamboja.

IMG_20141231_162238_1

Greetings from Magic Taxi

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s