New York Pagi Ini

“We can’t discover new land without first losing sight of shore”

USA, November 2015

Daun-daun maple berguguran, meninggalkan ranting bercabang yang menggigil kedinginan. Kekuningan, menari bebas menyambut bumi, dan mereka tidak pernah membenci angin bersuhu 42oF hari ini. Proses alami, fase dari samsara sekumpulan organisme kompleks bernama pohon maple. Roda waktu berputar dan semua fase dalam sebuah kehidupan satu per satu akan dilalui. Perbedaan mendasar adalah kita dapat mengubah fase hidup. Kita manusia mempunyai pilihan akan jalan hidup mana yang kita pilih. Tidak seperti kerumunan pohon maple itu, mereka hanya bisa menerima setiap fase dalam hidupnya, tanpa pernah bisa memilih.

Hari ini, sebuah fase lain dalam hidup saya, memulai menapaki sebuah jalan yang telah saya pilih. Sudah pukul 7 pagi, dan matahari belum muncul.  Dibalik kaca jendela bus ini, terlihat kesibukan Kota megapolitan pengidap insomnia, New York City. Angan melayang kebelakang teringat semua proses panjang berlalu, semua orang yang datang dan pergi. Semua tempat yang terus beganti. Tentang kehidupan di jalan baru yang menanti. Pagi ini ada sebuah perasaan batin yang tak saya kenal. Bukan perasaan yang biasanya muncul ketika berdiri di suatu tempat asing. Kali ini, bukan seperti biasanya.

Jpeg

Liberty menyambut pagi

Sebuah konsep kehidupan aneh, tidak pernah berhenti mempertanyakan diri sendiri. Mencari diri sendiri dengan melihat dunia sebagai perantara. Seringkali jiwa terdalam tersentuh dan terisi bukan oleh hal material, bukan kekuasaan dan kedudukan, bukan sukses karier spektakuler atau popularitas, bahkan bukan doktrin agama. Melainkan oleh rasa ingin tahu, petualangan pencarian, keharuan, keheranan, atau kekaguman yang seringkali misterius.

Naif? bisa jadi. Thoreau adalah salah satu dari banyak tokoh inspirasi saya. Kami sesama pecandu biofilia tingkat akut, tapi tidak. Saya tidak akan membangun sebuah pondok kecil dari kayu di tengah hutan, dan hidup sendiri disana selama 2 tahun. Sebuah isolasi diri dari kehidupan sosial, Thoreau memilih untuk hidup dengan diri sendiri dan alam. Meninggalkan kehidupan “normal” sebelumnya. Meninggalkan keluarga, sahabat dan semua kehidupan sosialnya. Proses peninjauan ulang kehidupan manusia dan pencarian akan hal baru. Fase penting dalam hidupnya. Sinergi harmoni hidup, dan kebahagiaan ala Thoreau.

Berfikir tentang hal itu, bercermin tentang dimana saya sekarang berada. Tentang jalan yang telah saya pilih. Saya merasa hidup ketika menghidupi hidup dengan perjalanan. Ini bukan melulu tentang nominal. Kenapa orang dewasa di bumi selalu berbicara tentang angka. Tidak ada yang salah dengan kehidupan “normal” saya sebelumnya. Semua berjalan lirih mengalun, sinergi diri, sosial, dan alam. Bali adalah titik nol, titik awal, sekaligus titik balik yang mengajarkan banyak makna selama 2,5 tahun terakhir. Kemudian fase itu datang memanggil, selalu bertanya. Dan hati memberi jawaban.

If a man doesn’t keep pace with his companions, perhaps it’s because he hears a different drummer. Let him step to the music he hears. However measured and far away  Henry David Thoreau.

IMG-20150707-WA0001_1_1

Bali, see u soon

 

Terimakasih, keluarga dan semua sahabat…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s