Beberapa Hal di Florida

“Become friends with people who aren’t our age. Hang out with people who first language isn’t the same as ours. Get to know their culture. This is how we see the world. This is how we grow”

USA, Januari 2016

Hidup memang dapat berganti dalam sekejap. Beberapa hari lalu hidup membaringkan tubuh ini di pasir putih menikmati sebuah privat island di Bahama. Dan hari ini hidup membaringkan tubuh inidi sebuah rumah sakit di Cape Canaveral, Kota pelabuhan diujung Negara bagian Florida. Left cystoureteroscopy with laser lithotripsy, proses surgery yang akan saya jalani.

Pagi itu nurse assistance mengatakan bahwa saya kedatangan visitor. How come? saya tidak kenal siapapun disini. “ Selamat pagi, apakabar?” , lelaki Amerika itu menyapa sembari berjalan masuk, diikuti wanita berkacamata dibelakangnya. Mereka memperkenalkan diri, mengucapkan banyak kata dalam bahasa Indonesia. Mark dan Jenny Wodka, sepasang suami Istri yang usianya mungkin seumuran dengan orang tua saya.

Mark Wodka adalah seorang protestan misionaris, yang dalam pelayananya pernah tinggal di Indonesia selama 6 tahun. Oke, Mark memang bukanlah seorang sanyasi, orang-orang yang meninggalkan kenikmatan dunia dan mengabdikan diri untuk kehidupan spiritual. Tapi tetap saya selalu kagum terhadap orang yang memilih jalan hidup untuk melayani Tuhan dan sesamanya.  Dan menurut saya, kehidupan seorang misionaris seperti Mark terkesan lebih “normal” sebagai seorang manusia. Antara perannya dalam mengabdi pada Tuhan dan menjalani fungsi manusiawinya sebagai seorang kepala rumah tangga.  Spiritualitas dan kemanusiawiannya terkesan tidak timpang di satu sisi.

Tentang pengabdian kehidupan spiritualitas,  teringat kisah Siddhartha Gautama. Siddhartha yang merupakan seorang pangeran memulai kehidupan spiritualitasnya dengan meninggalkan segala kehidupan duniawi, istri, anaknya yang baru lahir, dan kerajaanya. Pengelanaanya berlangsung selama 6 tahun bertujuan mencari pencerahan sejati. Hidup berpindah-pindah di pengasingan, menjauhi hal duniawi sebagai seorang pertapa. Bermeditasi bertahun-tahun dihutan hingga tubuhnya hancur dan mendekati kematian. Sampai kemudian Siddhartha menyadari bahwa asketisme ekstrim itu bukanlah jalan menuju pencerahan. Hingga lahirlah ajarannya The middle way ( Jalan tengah ) atau yang lebih kita kenal dengan Buddha. Seorang teman pernah berkata pada saya,“segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik”, mungkin hal ini benar adanya.

Kini Mark Wodka melayani sebagai pemimpin Space Coast Seafarer Ministry. Sebuah ministry yang dikhususkan untuk melayani seafarer seperti saya. Mark mempunyai link tersendiri dengan orang-orang Royal Carribean. Cruise line tempat saya bekerja. Darisanalah dia tahu saya berada disini. Kunjungan pagi itu berlangsung cukup lama. Mark meninggalkan secarik kartu nama, meminta saya menghubunginya kapanpun, apapun yang saya butuhkan dan untuk datang mengunjungi ministry seusai proses medical ini. Dia juga meninggalkan kartu telefon interlokal, yang tidak saya pakai hingga saat ini karena merasa tidak ada yang harus saya telfon. Ada juga Alkitab berbahasa Indonesia, seperti sebuah pesan, sudah sekian lama saya tidak menyentuh buku tebal itu.

Sehari setelah proses surgery, saya dipindahkan disebuah hotel untuk proses recovery. Perusahaan yang menanggung semua proses medical ini tidak ingin saya tinggal lama di Rumah sakit. Bisa dimengerti, biaya rawat inap disini jauh lebih mahal ketimbang Hotel Raddison yang saya tempati sekarang. Kamar luas ini resmi menjadi milik saya secara cuma-cuma, untuk beberapa minggu kedepan.

Pagi itu, tubuh ini rasanya sudah siap untuk beranjak keluar hotel, setelah beberapa hari hanya terkapar ditempat tidur. Space Coast Seafarer Ministry letaknya tidak terlalu jauh dari hotel ini. Bangunan putih itu cukup luas, didalamnya saya lihat Mark sedang sibuk mondar-mandir. Terdapat banyak bendera kebangsaan tergantung di atas, berjejer computer, rak buku, ruang telefon, dibelakang saya lihat dapur, bahkan ada meja billiard. Disamping terdapat ruang khusus untuk ibadah persekutuan.

Jpeg

Jpeg

Para seafarer  biasanya datang untuk wifi, skype, telefon interlokal, makan siang sampai shuttle bus antar jemput dan keliling kota, semua fasilitas tanpa dipungut biaya apapun. Dalam sehari mereka hanya memiliki waktu beberapa jam saja disini, sebelum kembali ke kapal untuk bekerja. Sebuah konsep tempat pelayanan yang menarik. Sebagai sebuah organisasi Kristen, ministry ini tidak melulu menekankan tentang menjala orang sebanyak-banyaknya untuk masuk ke agama mereka, meskipun harapanya memang begitu. Namun tindakan nyata akan pelayanan sosial seperti ini menurut saya lebih penting, masalah agama, iman biarlah menjadi urusan pribadi masing-masing.

Dalam mengurus ministry, Mark dibantu oleh para volunteer. Bulan januari seperti ini kebanyakan volunteer adalah para snowbird. Sebuah istilah Amerika untuk orang-orang berumur, para pensiunan yang datang dari berbagai Negara bagian di utara. Dimana mereka menghindari salju musim dingin untuk hidup beberapa bulan mencari matahari di wilayah selatan , seperti Negara bagian Florida ini. Saat winter seperti sekarang, Kota ini ramai didatangi para snowbird, bahkan banyak dari mereka yang berasal dari Canada. Cocok seperti pada lambang Kota pelabuhan Cape Canaveral ini yang bergambar burung pelikan, pantai, kapal serta slogan Space, Sun and Sea. Untuk itulah para snowbird datang berbondong-bondong, matahari dan laut.

Jpeg
Sun Space and Sea

Dick adalah salah satu snowbird asal Michigan, beberapa kali dia mengunjungi saya saat proses recovery di hotel. Suatu pagi Dick mengajak saya untuk pergi ke Barber shop langgananya. Si kakek bungkuk amat baik hati ini sudah tidak tahan dengan rambut awut-awutan saya. Sambil menyetir Dick bercerita banyak tentang kelurga besarnya, kehidupanya di Michigan. Tentang anak-anak dan cucunya yang tumbuh dewasa, tentang danau dibelakang rumah yang saat ini beku menjadi es. Setelah selesai dengan rambut saya, tukang cukur asal Filipina itu memotong rambut putih Dick yang terlihat sudah jarang tumbuh dikepala.

Saya bertanya tentang banyak hal kepada Dick, terutama tentang hidup sebagai seorang Amerika, bangsa penguasa dunia. Suatu hal baru bagi saya, melihat kehidupan para snowbird. Di Negara ini, kakek-kakek pensiunan terlihat amat menikmati hidup mereka dihari senja. Menjadi traveller pencari matahari saat musim dingin, menyewa kondotel dipinggir pantai berbulan-bulan, mengikuti bibble study dipagi hari, dilanjutkan breakfast di  restaurant langganan, tangan-tangan keriput memainkan smartphone mahal. Amerika, setelah beberapa minggu terbiasa dengan kerapian dan bersihnya Kota di Negara ini, saya mulai mengenal berbagai kehidupan warga Negara yang tinggal di dalamnya.

Biasanya saya memilih untuk berjalan kaki dari hotel menuju ministry, saya suka udara disini. Untuk orang dari Negara tropis seperti saya, Kota ini terasa dingin namun menyenangkan. Dingin yang tidak terlalu dingin, matahari bersinar hangat tanpa menyisakan keringat. Semacam sejuk pegunungan di Indonesia. Hari ini saya ada janji dengan Cherryl dan Tom, sepasang snowbird dari Ohio. Dalam misi travelling mencari matahari kali ini mereka menggunakan RV ( Recreational Vehicle ).

Jpeg
Cherryl & Tom’s RV

RV termasuk dalam kategori mobilehome yang memiliki sejarah panjang di Amerika, mulai berkembang pesat pada tahun 1920-an. Di Amerika RV memang identik dengan snowbird. RV bisa diibaratkan sebuah rumah minimalis berwujud mobil. Cherryl dan Tom mempersilahkan saya masuk ke dalam RV yang mereka parkir di halaman belakang ministry. Dan semua yang ada di dalam RV ini mengejutkan saya. Bagaimana tidak, di dalam RV model fifth wheel ini benar-benar seperti berada di dalam rumah minimalis yang fasilitasnya jauh lebih lengkap dari semua kamar kos yang pernah saya tempati.

Dibagian belakang ada ruang keluarga, sofa lipat yang empuk, lengkap dengan TV layar lebar, jendela kaca, meja tulis. Dibagian tengah ada dapur berhadapan dengan meja dan kursi makan. Dibagian depan ada kamar dan toilet. Belum lagi fasilitas seperti lemari es, mesin cuci, pendingin dan penghangat ruangan. “This is so cool, I think I want to have one someday”, canda saya. “We’ve got all what we need here”, kata Cherryl. Mereka menjual rumah permanen mereka di Ohio sebelum musim dingin tiba. Di Amerika harga property tidak seperti di Indonesia yang grafiknya selalu naik. Disini harga sebuah rumah bisa naik turun sewaktu-waktu, sehingga memungkinkan bagi setiap orang untuk menjalani RV lifestyle.

Jpeg
Ruang keluarga
Jpeg
TV
Jpeg
Dapur
Jpeg
Kamar

Tertarik untuk lebih jauh mengenal tentang RV, hari-hari berikutnya saya sering bolak-balik berjalan menuju Jetty Park. Sebuah taman luas dipinggir Cocoa beach. Disini terdapat mobilehome campground, dimana tentunya akan ada banyak jenis mobilhome macam RV disana. Taman, pantai, RV campground, lengkap sudah tempat ini jadi favorit saya menunggu senja. Untuk parkir di campground seperti ini, pemilik RV biasanya harus membayar uang sewa. Mereka akan mendapat asupan listrik, air , ada juga toilet umum dan supermarket kecil di dalam campground. Untuk segala fasilitas itu, ditambah letaknya di pinggir pantai, pemilik RV dikenakan biaya sewa beragam dari mulai $27 per hari, ada juga tarif sewa bulanan. Winter seperti ini, harga sewa jauh lebih mahal dari biasanya. Berjalan berkeliling, saya amat menikmati apa yang saya lihat, bagaimana para snowbird bersantai menikmati matahari diluar RV mereka. Membaca buku, bermain dengan anjing-anjing mereka, makan bersama keluarga. Tidak semua disini kakek-kakek pensiunan, banyak diantara mereka yang masih muda, bahkan juga anak-anak kecil.

Jpeg
Jetty Park RV Campground
Jpeg
Travel Trailer RV
Jpeg
Toy Hauler RV

 

Jpeg
Fifth Wheel RV
Jpeg
RV Class A
Jpeg
RV Class B
Jpeg
Penghuni Jetty Park
Jpeg
Senja Cocoa Beach

Hampir sebulan hidup disini membuat saya akrab dengan para volunteer di ministry, terutama Mark dan Jenny. Seringkali mereka mengajak saya untuk hang out, dari sekedar makan malam di restaurant sampai menghadiri acara gathering para volunteer di Kota sebelah. Malam ini Mark mengundang saya untuk datang ke rumahnya, ada juga David anak bungsu mereka yang usianya beberapa tahun lebih muda dari saya. Mark bilang keluarga mereka kangen akan masakan Indonesia, jadilah malam itu kami berbelanja untuk menu sederhana. Saya cukup terkejut bagaimana di Kota ini dapat ditemukan tempe, tahu, kerupuk, indomie, sampai sambal sate. Karena tahu saya tidak makan daging, mereka menyarankan ada gado-gado, tempe dan tahu untuk menu makan malam. Ada juga sate ayam spesial obat kangen akan Indonesia untuk mereka.

Jpeg
Jenny, Mark, David dan Sate Ayam

Dari derita medis hingga hidup membawa saya ke Kota ini, lepas dari itu semua, segala hal baru dan semua keluarga baru membawa makna dan memori tersendiri. Selalu ada sisi baik dibalik sisi buruk akan segala sesuatu.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s