Warna-warni Bahama di Nassau

“The world isn’t just one palette, it’s a beautiful rainbow”

Bahama, Maret 2016

Berbagai bangunan bercorak mencolok berdesakan dengan warna-warni berbeda. Mungkinkah Colombus melihat warna-warni suku Indian Lucayan yang serupa ketika dia tiba di Negara ini tahun 1492?. Mengingat segala sesuatu bernuansa colorful adalah salah satu budaya yang lama tertanam di Bahama. Budaya itu disangkut pautkan juga dengan Chickcharnie, legenda atau bisa dibilang kepercayaan kuno penduduk setempat. Chickcharnie dikenal sebagai sosok burung hantu mistis berkaki tiga, bertengger di pucuk pohon-pohon tinggi di hutan. Penduduk akan mengenakan pakaian bercorak mencolok dan menggengam berbagai bunga dengan warna berbeda sebelum pergi beraktifitas ke hutan. Tujuannya untuk memperbesar kemungkinan dilirik oleh Chickcharnie. Mereka percaya siapapun yang pernah melihat Chickcharnie dan memberi penghormatan, akan memperoleh keberuntungan selama sisa hidupnya.

Kini Indian Lucayan , suku cikal bakal Negara ini sudah habis dibantai. Legenda Chickcharnie juga sudah tidak terlalu populer. Namun semangat budaya warna-warni itu masih hidup hingga saat ini. Bahkan Istana negaranya pun berwarna pink. “If US have white house, we have pink house here”, kata Kea, seorang penduduk lokal. Nassau, Ibukota Negara ini seperti rainbow cake. Saya merasa seperti seorang anak kecil yang diiming-imingi sebongkah rainbow cake. Dan anak kecil mana yang tahan untuk tidak mencicipi tumpukan warna rainbow cake?. Menyusuri kota ini, mata selalu disegarkan olehmanisnyacorak warna beragam bangunan, berhamburan memadati kota.

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Nassau terletak di pulau New Providence, satu dari total ±700 pulau yang dimiliki Bahama. Kota ini dulunya bernama Charles, pernah dibakar habis oleh Spanyol pada tahun 1684. Dibangun kembali 15 tahun kemudian dan dinamai Nassau. Tak lepas dari sejarahnya sebagai tempat singgah penyimpan kekayaan para bajak laut Karibia pada abad ke 18, kini Nassau menjelma menjadi kota pelabuhan modern. Jantung pemompa aliran ekonomi yang menghidupi lebih dari separuh penduduk Bahama. Bagaimana tidak, secara keseluruhan 60% dari warga negara Bahama hidup berdesakan di Kota ini.

Selain beragam warna, Kota ini juga dipenuhi beragam gaya arsitektur. Sebagai bekas Negara bagian Briatania Raya, jejak arsitektur Inggris masih mendominasi di berbagai Gereja tua, pemukiman penduduk, dan bangunan lama lainnya. Ada juga arsitektur Kolonial Georgia yang bisa dilihat pada Government House. Di berbagai bangunan publik seperti Gereja, Sekolah dan Rumah sakit biasanya dilengkapi dengan “Shelter from the storm”. Karena letak geografisnya yang masih masuk barisan garis Segitiga Bermuda, Kota ini masih rawan akan badai.

Jpeg
Government house
Jpeg
National Art Gallery
Jpeg
Rum Cake Factory

Salah satu bangunan bersejarah yang patut dikunjungi adalah Fort Fincastle. Letaknya di Bennet’s Hill, sebuah bukit yang merupakan titik tertinggi di Nassau. Secara keseluruhan topografi pulau ini memang cenderung datar, tidak ada gunung disini. Benteng kecil ini dulunya dibangun tahun 1793 untuk melindungi Kota dan pelabuhan Nassau. Kini sisa-sisa reruntuhan benteng dan beberapa replika meriam dirawat sedemikian rupa dan menjadi daya tarik tersendiri bagi para tourist. Dari benteng ini view pelabuhan Nassau terlihat cukup jelas. Warna-warni pelabuhan berpadu dengan air laut sian yang dihinggapi beragam Cruise line raksasa.

?

?

?

Cerminan Kota wisata dengan pengelolaan kelas atas dapat dilihat di Nassau. Berbagai bangunan lama dirawat dan dipertahankan seperti bentuk aslinya, ditunjang nyamanya berbagai fasilitas wisata, dan tentunya kebersihan Kota yang terjaga. Disepanjang garis pantai berderet Resort dan Hotel ternama, pemandangan lazim nan membosankan ciri khas Kota wisata kelas dunia. Nassau menjadi cermin akan mapannya perekonomian Negara ini. Bahama memang termasuk salah satu Negara kaya di Karibia, dan pendapatan terbesar mereka berasal dari sektor pariwisata.

Jpeg
Paradise Island Light House

Atlantis mungkin menjadi simbol nyata akan megahnya pariwisata Nassau. Atlantis merupakan mega Resort terletak di Paradise Island, pulau diseberang Kota. Di Resort ini terdapat beberapa Tower yang masing-masing merupakan Hotel. Salah satunya adalah Royal Tower merupakan peringkat 10 dari World’s 15 most expensive hotel suites oleh CNN Go tahun 2012. Dengan biaya $25.000/malam, merupakan tempat menginap manusia macam Michael Jackson sewaktu dia berlibur ke Bahama. Meskipun demikian, beberapa fasilitas seperti Extravagant Mall, Casino, Sea world, Waterpark, resort tour, hingga diving terbuka untuk non-guest. Setrategi pariwisata yang lihai bukan? hasilnya kini Atlantis merupakan suatu ‘kewajiban’ bagi siapa saja saat berkunjung ke Nassau.

Jpeg

Yang menarik bagi saya dari tempat ini adalah pengambilan konsep “Atlantis” itu sendiri. Atlantis konon adalah kota berteknologi tinggi yang hilang ditelan bumi. Atlantis tenggelam akibat letusan gunung bawah laut. Penduduk Bahama percaya sisa-sisa peradaban Atlantis itu tersebar di Bimini, yang merupakan salah satu Distrik di Bahama. Dengan konsep legenda setempat itu, Atlantis Resort memiliki gaya arsitektur yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Resort ini tampak seperti sebuah kompleks istana klasik megah bertemakan laut. Patung-patung, reruntuhan, taman air laut raksasa lengkap dengan berbagai jenis ikan dan pohon palem, serta pantai dibelakang kompleks menjadi kombinasi yang menarik.

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Dan berbicara tentang Bahama, tak pernah lepas dari semilir pantai, kemilau pasir putih, air jernih laut sian dan panas matahari. Hal tersebut yang menjadi daya tarik utama pariwisata Bahama. Tourist yang datang sebagian besar berasal dari USA. Bahama bagi orang USA bisa diumpamakan Bali bagi orang Australia. Para tourist tersebut memiliki banyak pilihan pulau ketika berkunjung ke Bahama. Little Stirrup Cay adalah salah satu pulau yang disewa secara eksklusif oleh perusahaan Cruise line tempat saya bekerja. Perusahaan itu memiliki beberapa Cruise line yang memasukkan Little Stirrup Cay dalam itinerary cruising mereka. Pulau ini disulap dijadikan destinasi wisata bertajuk Privat Island. Nama Little Stirrup Cay diubah menjadi Coco Cay.

Sulit membayangkan berapa nominal yang harus ditebus untuk menyewa dan merawat secara rutin sebuah pulau cantik tak berpenghuni ini. Tak bisa dipungkiri bahwa kita manusia adalah penerus sejarah Renaisans. Sejak itu, manusia mulai ikut campur terhadap alam dan membentuknya sesuai dengan citranya sendiri. Dan sering kali, kita para manusia serakah lepas kendali sehingga mengancam keberadaan alam itu. Semoga saja tidak di pulau ini. Jika berisik kicauan burung-burung camar atlantik itu suatu hari nanti tidak terdengar lagi di pulau ini, pertanda ekosistem mulai timpang. Entahlah, bahkan di tempat sesantai ini seringkali pemikiran semacam ini tiba-tiba muncul. Lepas dari apapun konspirasi pariwisata itu, memiliki kesempatan untuk mengenal sedikit warna-warni Bahama merupakan sesuatu yang tidak pernah saya pikirkan, apalagi saya rencanakan sebelumnya.

Terkadang hidup menuntut kita manusia biasa untuk melakukan pekerjaan luar biasa. Namun adakalanya hidup membawa kita untuk sekedar bertelanjang kaki, menapaki butiran halusnya pasir pantai dan asinnya air sian.

 

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Warna-warni Bahama di Nassau”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s