Sebuah Anomali di Atlantik Utara

“Travelling has a way bringing things into perspective”

Bermuda, Mei 2016

Quo fata ferunt, bahasa latin dengan terjemahan: kemana takdir membawa kami . Kalimat tersebut adalah motto dari Negara Bermuda. Motto yang sesuai, pikir saya. Ada kesan sedikit pasrah dalam kalimat tersebut. Bagaimana tidak, sebagai Negara kecil antah berantah tanpa tetangga, terisolasi di Atlantik utara, jauh dari hiruk pikuk dunia, rasa-rasanya kesan pasrah kepada takdir tersebut bisa dimaklumi.

Mitos Segitiga Bermuda bahkan lebih dikenal penduduk bumi daripada Negara Bermuda itu sendiri. Ironisnya fakta membuktikan bahwa segala mitos tersebut merupakan hasil produk semu media massa. Riset mendalam tentang Segitiga Bermuda dalam buku The Bermuda Triangle Mystery : Solved tahun 1975, membuktikan bahwa kasus kecelakaan baik itu kapal, pesawat yang hilang di zona Segitiga Bermuda jumlahnya masih dalam kategori “normal” dalam zona dimana tropical cyclones dan hurricane sering terjadi. Data tahun 2013 dari WWF ( World Wide Fund for Nature )  tentang 10 most accident prone ocean areas in the world for shipping juga menunjukkan Segitiga Bermuda tidak masuk dalam data tersebut.

Dan status isolasi, antah berantah itu menjadi katalis, meningkatkan kadar rasa ingin tahu untuk mengenal Bermuda secara langsung. Sulit membayangkan bagaimana rupa Negara mungil yang terpisah dari berbagai benua, jauh menyendiri ditengah samudera. Tulisan ini mewakili sepintas tentang Bermuda di mata saya. Setelah beberapa kali hidup memberikan kesempatan untuk menapakkan kaki disini. Negara yang populasinya bahkan tidak sampai 2% dari jumlah populasi penduduk Jakarta.

Royal Naval Dockyard adalah gerbang utama bagi para tourist yang berkunjung ke Bermuda via cruise line. Dari titik ini transportasi mulai taxi, minibus, bus, ferry sampai scooter rental tersedia lengkap. Saya menuju Tourism information untuk mengambil free map. Terkadang kita dapat menilai level pengelolaan pariwisata suatu tempat dari free map mereka. Kali ini, salah satu terbaik yang pernah saya dapat. Konten lengkap, gambar simple tanpa mengurangi informasi, detail untuk spot penting, dan tidak ada iklan disana sini. Tercantum juga informasi transportasi, lengkap dengan schedule dan tarif dari masing-masing sarana. Lembaran lebar dikemas sedemikian rupa dalam lipatan kecil seukuran saku, praktis.

Royal Naval Dockyard

Royal Naval Dockyard

Southampton Parish merupakan salah satu dari total 9 Parish yang dimiliki Bermuda. Parish adalah nama sistem pembagian wilayah, divisi administrasif, digunakan oleh semua Negara Britania raya. Dari Dockyard, jarak tempuhnya 15 menit untuk sampai di Southampton Parish via minibus dengan tarif US $7. Taxi akan mematok biaya US $30 untuk jarak sama. Apalagi untuk scooter rental, harga sewa  US $86 per 12 jam. Tarif transportasi di Bermuda tergolong tinggi. Tidak hanya harga bahan bakar minyak saja yang mahal, secara umum biaya hidup disini bahkan lebih mahal dibandingkan di USA. Karena tidak adanya sumber daya alam memadahi, sebagian besar kebutuhan hidup di Bermuda diperoleh dari hasil import.  Dan letak geografis Bermuda yang terisolasi mengakibatkan biaya proses import tinggi, hasilnya produk output dengan harga tinggi.

Sampai di Southampton Parish, saya menuju Gibbs Hill Lighthouse. Sebuah mercusuar tua, dibangun tahun 1846 di Gibbs Hill, bukit tertinggi di Bermuda. Menaiki 185 anak tangga menuju puncak mercusuar, view 360o dari Negara ini terlihat jelas. Bentuk pulau Bermuda tampak atas memang terlihat seperti fish hook. Biru air laut membingkai hamparan pulau dan warna-warni pemukiman penduduk. Ciri khas dari arsitektur rumah penduduk adalah atap berwarna putih, terbuat dari semen dan batu kapur. Atap-atap tersebut dilengkapi cerobong yang berfungsi untuk menampung air hujan. Karena tidak banyak sumber air disini, air hujan menjadi alternatif umum.

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Berjalan secara acak di Southampton Parish. Lingkungan amat bersih, rumput hijau dicukur rutin, terlihat jauh lebih rapi daripada rambut saya. Pemukiman penduduk tertata sedemikian rupa, namun terlihat sepi pada jam kerja seperti ini. Tingkat pengangguran di Bermuda memang sangat rendah. Salah satu gambaran tentang bagaimana majunya Negara ini. Berjalan menuju jalan utama, semilir angin laut makin terasa. Hembusan ketenangan tempat ini. Sepanjang kaki melangkah terlihat pantai-pantai cantik di kejauhan. Di sebuah taman, seorang penduduk lokal duduk berhadapan dengan laut. Keindahan, kedamaian, kemapanan, pemerintahan, sampai cerita tentang mahalnya biaya hidup disini mengisi percakapan kami siang itu.

Jpeg

DSCN0096

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Salah satu pantai di Southampton Parish yang ramai dikunjungi adalah Horseshoe bay.  Sesuai namanya, garis pantai panjang membentang cekung seperti tapal kuda dilihat dari salah satu puncak bukit karang. Bukit-bukit karang tersebar menjadi pelengkap sian air laut dan putih pasir halus di pantai ini. Pantai yang cukup sibuk, namun tetap bersih, juga nuansa alami dipertahankan. Meskipun free entry , fasilitas seperti restroom luas sampai lifeguard tersedia. Tidak ada penjual souvenir atau minuman berkeliling kesana kemari, privasi pengunjung untuk bisa menikmati pantai diperhatikan dengan serius. Salah satu pantai tenar di Bermuda, juga cerminan matangnya pengelolaan pariwisata Negara ini.

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Pada suatu kesempatan lain di Bermuda, saya mengunjungi Ibu Kota Negara, Hamilton. Dari Dockyard dibutuhkan waktu 20 menit via ferry untuk sampai di Hamilton. Pemandangan cantik sepanjang perjalanan berupa rumah-rumah estetik menghiasi hamparan pulau-pulau kecil. Berbagai Mini boat sampai Yatch terparkir di halaman rumah : laut. Sebuah konsep tempat tinggal istimewa, kemewahan berpadu dengan alam.

DSCN0216

Jpeg

Sebagai one of the smallest of any capital city, jalan kaki adalah cara paling mudah murah untuk berkeliling di Hamilton. Untuk kategori sebuah Ibu Kota Negara, Hamilton terasa tidak begitu padat. Cukup sibuk namun tidak semrawut. Jalan aspal sempit menjadi garis pembagi antar wilayah. Lalu lintas terlihat cukup lenggang, sidewalk disibukkan oleh para tourist. Sesekali bangunan tinggi terlihat diantara warna-warni bangunan perkantoran dan toko. Hal lain yang menarik adalah bagaimana Ibu Kota mungil ini memiliki 5 Taman Kota. Bisa dibilang cukup banyak taman untuk sebuah Kota  yang bisa dikelilingi hanya dengan  berjalan kaki. Tidak hanya tata Kota dan kebersihannya saja, aspek lain seperti Taman Kota amat diperhatikan di Negara maju seperti Bermuda.

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Queen Elizabeth Park

Queen Elizabeth Park

Kawasan sekitaran Front Street sebagai gerbang utama dipadati berbagai restaurant, bar, toko souvernir dll. Tidak jauh dari deretan tersebut, berdiri The Cabinet Building dan Bemuda Cenotaph. Cenotaph merupakan bangunan memorial diperuntukkan bagi mereka yang gugur  untuk Bermuda pada World War I dan World War II. Pada Cenotaph terdapat nama-nama para pejuang, juga tiga bendera Royal Navy, Royal Air Force dan British Army.  Selama World War I dan II, Bermuda merupakan anggota Britania Raya berperan sebagai pangkalan militer karena lokasinya di rute pelayaran utama trans-Atlantik.

Front Street

Front Street

Bermuda Cenotaph

Bermuda Cenotaph

Menyusuri Queen Street sampai Church Street berdiri Historical Society Museum, City Hall & Arts Centre, dan Cathedral of the Most Holy Trinity. Cathedral tua dengan gaya arsitektur Gothic Revival tersebut memberi suatu kesan klasik ditengah modernitas Hamilton. Pemandangan klasik lain dari Kota ini adalah bagaimana Officer Kota dan sebagian penduduk masih mengenakan kaos kaki berwarna setinggi lutut, dipadu dengan celana pendek ciri khas lawas Britania Raya. Beberapa menit melangkah, dapat dijumpai bangunan dengan gaya arsitektur unik lainnya, Sessions House. Rumah bagi para politikus. Kalau di Indonesia, Sessions House mungkin bisa diumpamakan seperti Gedung DPR MPR di Jakarta.

Historical Society Museum

Historical Society Museum

Cathedral of The Most Holy Trinity

Cathedral of The Most Holy Trinity

City Hall & Arts Center

City Hall & Arts Center

Session House

Session House

Diujung timur, tepat sebelum perbatasan Kota, terdapat Fort Hamilton. Sebuah benteng tua dibangun pada 1870 untuk melindungi Hamilton Harbor. Dari waktu ke waktu, Fort Hamilton telah kehilangan fungsi signifikan sebagai benteng. Bahkan sempat menjadi tempat pembuangan sampah. Sampai kemudian George Ogden, seorang Park Superintendent mengubah wajah benteng menjadi taman cantik. Parit lebar ditanami berbagai jenis tanaman. Rumput hijau segar tercukur rapi menyelimuti seluruh permukaan benteng dan lorong-lorong tua. Wujud kompleks taman ini membawa ingatan saya pada Telletubies. Karena rumah Telletubies ini terletak diatas bukit, view Kota Hamilton dan sekitarnya dapat dilihat dari sini. Duduk di sebuah bangku taman, berhadapan dengan wajah Hamilton, bisik Kota sayup terdengar terselimuti kicauan burung dan suara pepohonan dihembus angin.

Jpeg

DSCN0186

DSCN0184

Meski tidak mempunyai otak, ubur-ubur mampu bertahan dari seleksi alam di bumi selama 650 juta tahun. Seperti Bermuda, letak terisolasi, tanpa sumber daya alam cukup, bahkan sampai harus menampung air hujan, namun Negara ini mempunyai peradaban amat mapan. Bermuda adalah suatu anomali di Atlantik utara. Terkadang semesta memang mempunyai caranya sendiri dalam memutar roda samsara. Melangkah, mengenal segala keunikan, keindahan, kedamaian, kemapanan peradaban sebuah Negara  antah berantah di Atlantik utara ini menjadi cerita tersendiri dalam rangkaian catatan perjalanan. Sekali lagi, dan akan selalu bahwa suatu perjalanan memberikan sudut pandang nyata akan beragam warna dari semesta.

Untuk Jeje, my travel buddy yang baru saja memulai hidup berumah tangga. Maaf tidak bisa datang, cuma ini kado dari saya. Jangan tanya kapan nyusul nikah, jawabannya sama rumitnya kalau saya tanya balik kapan nyusul kesini. Semoga berbahagia.

Advertisements

2 responses to “Sebuah Anomali di Atlantik Utara

  1. Membaca tulisan-tulisanmu selalu menyenangkan. Rasanya seperti ikut berjalan bersama.
    Jangan pernah berhenti melangkah, kelilingilah dunia.
    Sehat selalu 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s