Si Tua San Juan dan Dua Raksasa Penjaga

“We never travel to the past, the building take us there”

Puerto Rico, Juni 2016

Penemuan besar, berdampak hebat bagi kehidupan umat manusia seringkali bermula dari suatu perjalanan panjang menembus batasan ruang dan waktu. Charles Darwin butuh waktu 5 tahun berlayar menjelajah dunia sebelum menemukan teori evolusi pada abad ke 19. Sebuah teori yang berpengaruh besar dalam sejarah umat manusia. Empat abad sebelumnya, Colombus yang tersesat dalam misi heroik pelayaranya untuk mencapai India, secara tidak sengaja menemukan New World. Walaupun tidak pernah mencapai India, penemuan Benua Amerika itu berpengaruh besar dalam peradaban umat manusia. Colombus menemukan dunia baru bagi bangsa Eropa untuk pemukiman baru, sumber daya dan segala kekayaan bumi baru yang dapat mengubah wajah Eropa. Ekspedisi tambahan berdatangan menuju New World, membawa bendera penaklukan dan kolonialisasi. Lahir suatu bangsa baru dibelahan Barat Amerika, dengan cepat mereka memberi dampak besar bagi tergusurnya bangsa asli, Indian.

1

Old San Juan, sebuah Kota tua di Puerto Rico, merupakan salah satu kepingan dari kisah sejarah panjang New World. Perputaran arus pada samudera Atlantik, serta arah pergerakan angin membawa kapal-kapal Eropa yang melalui pantai barat Afrika sampai di Kota ini sebelum mencapai Amerika.  Merupakan pulau besar sebagai persinggahan pertama, memiliki air, tempat berlindung dan bahan untuk perbekalan, maka Spanyol menduduki Kota ini. Spanyol membangun benteng raksasa, menyelimuti Old San Juan dengan sistem perlindungan kompleks. Foto Peta yang saya ambil berikut, terlihat bagaimana Old San Juan dilindungi oleh 2 benteng raksasa saling terhubung, Castillo San Felipe del Moro dan Castillo San Cristobal.

2

Memulai perjalanan dari selatan Kota, perlahan melangkah membelah Old San Juan untuk sampai di kedua Benteng tersebut. Terdaftar dalam UNESCO World Heritage Site, Old San Juan memiliki karateristik Kota khas Eropa. Jalanan cobblestone sempit tersebar menjadi pembagi antar blok. Bangunan dengan berbagai warna berdiri rapat antara satu sama lain. Gaya arsitektur Kota ini kental akan motif kolonial Spanyol.  Kunci keberhasilan Old San Juan sebagai salah satu destinasi populer di Karibia adalah bagaimana Kota ini mampu mempertahankan motif kolonial Spanyol tersebut dari berbagai upaya demolition sejak berdiri 500 tahun lalu.

3

4

Berjalan menyusuri Old San Juan, atmosfir Kota tua ini memberi kesan klasik beragam warna, menyenangkan. Dipadati warna warni arsitektural Spanyol, warga lokal bersahutan dengan bahasa Spanyol. Nama “San Juan” sendiri cara pengucapannya “San Huan”, seperti “Mojito” yang diucapkan dengan “Mohito”. Disini semua rambu dan petunjuk jalan dalam bahasa Spanyol yang merupakan first official language Negara ini. Berbagai Restaurant menyajikan makanan Spanyol, dan tentunya bertebaran para wanita cantik dengan kontur wajah Spanyol. Berada di Karibia namun nuansa Spanyol amat terasa.

5

Tiba diujung utara Kota, tampak Castillo San Cristobal. Merupakan sistem pertahanan terbesar yang dimiliki Spanyol di New World. “Castillo” sendiri dalam bahasa Spanyol berarti Benteng. Berdiri sejak 250 tahun lalu, bangunan ini masih terlihat massive meskipun beberapa bagian sudah hancur akibat proyek perluasan Kota Old San Juan pada masa lampau. Castillo San Cristobal terdiri dari 3 level. Masing-masing level dihubungkan dengan anak tangga dan lorong-lorong panjang. Pada level satu terdapat main plaza, aula terbuka luas, dilingkupi oleh deretan koridor. Dari level 2,  Nampak warna-warni Kota Old San Juan melukis wajah Biru Samudera Atlantik. Level ini merupakan pusat persenjataan, dulunya berderet meriam mengarah langsung ke Kapal musuh yang akan menuju Kota.

6

7

8

Level 3 merupakan area observasi, disini berkibar 3 bendera simbol perjalanan sejarah Castillo San Cristobal ; bendera Kerajaan Spanyol, Puerto Rico dan USA. Usai perang tahun 1898, USA berhasil merebut Puerto Rico dari Spanyol. Saat ini Puerto Rico merupakan Unincorporated territory, persemakmuran dari USA. Penduduk Puerto Rico memperoleh kewarganegaraan USA, Presiden USA juga merupakan Presiden mereka. Meski demikian, mereka tidak memiliki hak suara dalam pemilihan Presiden. Hal yang masih terus menjadi perdebatan, hingga kini Puerto Rico masih berjuang untuk mendapatkan hak untuk memilih Presiden mereka. Sebuah ironi nyata di Negara penganut demokrasi penuh seperti USA.

9

10.jpg

Dari Castillo San Cristobal, kira-kira dibutuhkan 10 menit dengan berjalan kaki untuk sampai ke Castillo San Felipe del Moro. Pilihan lain, pihak Kota menyediakan Free Trolley. Bentuknya terlihat seperti sepur kelinci di Indonesia, deretan gerbong terbuka. Free Trolley tersebut mengelilingi Old San Juan, dan memiliki titik perhentian tertentu, penumpang duduk manis tanpa dipungut biaya. Kendalanya mungkin dibutuhkan waktu cukup lama untuk menunggu di titik perhentian hingga Free Trolley tiba. Saya memilih berjalan kaki, dan benar kata Petugas Penjaga Benteng tadi, that’s kinda nice walk. Sepanjang perjalanan saya melewati garis bentangan benteng yang membatasi Kota dengan Samudera Atlantik. Di selatan, warna-warni pemukiman penduduk terlihat berbaris. Mendekati area Castillo San Cristobal, terlihat cemetery cantik, Cementerio Maria Magdalena de Pazzi. Kompleks Pemakaman klasik di tepi Samudera Atlantik, penuh dengan ornament dan patung-patung bertema Catholic seperti Yesus, Mother Marry, Salib, hingga Malaikat.

11

12

Padang rumput hijau luas terhampar seolah menjadi karpet sambutan selamat datang di Castillo San Felipe del Moro.  Gerombolan anak-anak berlarian bermain layang-layang, banyak juga pengunjung terduduk santai, sekedar menikmati suasana dan semilir angin laut. Atmosfer cukup ramai namun terasa damai. Memandangi layang-layang di langit biru, angin ikut menerbangkan memori sentimental menuju masa lalu. Dulu sewaktu seusia mereka, suka sekali bermain layang-layang di sawah dekat rumah saat musim angin tiba. Tidak perduli panas, lapar, PR atau omelan orang tua, memandangi layang-layang terbang melayang bersama awan menimbulkan suatu kebahagiaan tersendiri. Masa kecil, segalanya terasa begitu mudah dan sederhana. Dan menjadi dewasa, segalanya berubah menjadi terasa rumit. Atau mungkin kita sendiri yang menyusun kerumitan dalam segala kesederhanaan?. Seperti ada yang bilang, hidup itu sederhana dan biasa saja, tafsiranya saja yang luar biasa.

13

Salah satu hal yang saya cintai dari solo travelling. Bagaimana kita dapat menciptakan sebuah dimensi ruang dan waktu untuk diri sendiri. Tanpa ada gangguan, tanpa opini, tanpa pretensi. Bahkan untuk sekedar menghabiskan waktu memandangi anak-anak bermain layang-layang.

14

“El Moro” adalah julukan dari penduduk setempat untuk Benteng raksasa satu ini. Memasuki Castillo San Felipe del Moro, atmosfirnya tidak jauh berbeda dari Castillo San Cristobal. Perbedaan yang cukup terlihat adalah El Moro tidak hanya tersusun dari 3 level, namun memiliki 6 level. Sebuah karya besar, menghabiskan waktu kurang lebih 80 tahun dalam proses pembangunanya. Menyusuri berbagai sudut tempat ini membawa imajenasi terkagum akan sebuah kemegahan, kegagahan bangunan buatan manusia dengan segala keterbatasan teknologi masa pada lampau.

15

16.jpg

17.jpg

Old San Juan, si tua berselimutkan atmosfir klasik Spanyol. Dua Raksasa penjaganya melengkapi saksi sebuah sejarah yang melantunkan lagu lama tentang pergerakan peradaban umat manusia. Mengalun lamban menembus jaman menyuguhkan segala keunikannya bagi para pengembara.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s