Bangku Taman di Ujung Dermaga

” Peace of mind, remembering who we are “

Martinique, Februari 2017

Fort de France, dari kejauhan sepintas terlihat sama seperti Kota-Kota Pelabuhan lain di Karibia. Sengatan matahari khatulistiwa, garis pantai yang tak lagi alami, pemukiman warna-warni berjejal memberi warna perbukitan hijau dibelakang sana. Lalu perbedaan mulai terasa. Tidak ada hingar bingar kesibukan aktivitas layaknya Kota Pelabuhan Pariwisata sekaligus Ibukota Negara disini. Sangat lain dari Kota pelabuhan Karibia pada umumnya, tidak ada kerumunan sopir taxi berebut penumpang, tidak ada berisik agen-agen menawarkan paket tour, tidak ada kompleks luas toko souvenir yang membosankan beserta teriakan para pedagangnya. Semua tampak berjalan biasa saja tanpa hal yang berlebihan. Mungkin kalau bisa bicara, Kota ini seakan berkata, “ oh, bunch of tourist from cruise ship coming again, so what? “

Jpeg

Sikap cuek Fort de France ini membuat saya tertarik untuk mengenal tempat ini lebih dalam. Tahun 2016 lalu entah di bulan apa saya lupa, waktu itu pertama kali memijakan kaki di Kota ini. Masih teringat juga saat itu cukup terkejut menemukan keripik pisang disini, bukan plantin karibia seperti biasanya, tapi ini benar-benar keripik pisang seperti di Indonesia. Tahun 2017 ini ternyata hidup membawa saya ketempat ini lagi, bekerja di kapal dan intinerary sama dengan tahun lalu.

12919635_1234915839870342_8689777456294893548_n-1

Mungkin bisa jadi kesan cuek tersebut adalah bagian dari sisi ke-Prancis-an mereka. Martinique, negara mungil di Karibia ini merupakan salah satu dari total empat Insular Region ( Region seberang laut )  yang dimiliki Prancis. Orang Prancis dikenal cuek dalam terhadap banyak hal, salah satunya adalah bahasa. Dunia tahu bahwa orang Prancis merasa tidak perlu menggunakan bahasa asing, kebanggaan akan bahasa sendiri? atau mereka merasa bahasa merekalah yang harus dipelajari oleh orang asing. Dalam hal ini entah dari banyaknya alasan yang beredar, saya lebih suka menyebut masalah bahasa ini merupakan suatu sikap cuek dasar yang Prancis-banget.

Meskipun mayoritas penduduk Martinique bukanlah orang Prancis asli, melainkan keturunan Afrika bekas perbudakan gula di masa lampau, namun sikap cuek terhadap bahasa itu mengakar disini. Di Fort de France, para penjaga toko tempat saya membeli post card, hingga berlanjut ke petugas di Kantor Pos, hanya satu- dua orang yang “mengerti“ bahasa inggris. Penunjuk jalan, jadwal kapal ferry, hingga tulisan-tulisan penjelasan tentang sejarah di museum semua dalam bahasa Prancis tanpa dilengkapi translate dalam bahasa Inggris.

Sikap cuek lain terhadap tourist yang adalah bagaimana mereka hanya menerima pembayaran dalam mata uang mereka Euro, dan tidak menerima pembayaran dalam US Dollar. Hal yang amat janggal untuk sebuah Kota Pelabuhan Pariwisata di Karibia, yang pada umumnya mau menerima pembayaran dalam USD meskipun itu bukan mata uang asli Negara mereka, mengingat kebanyakan cruise line tourist berasal dari USA. Saking sedikitnya toko hingga fasilitas umum yang berbahasa inggris dan mau menerima USD, saya sampai senyum-senyum sendiri ketika menemukan sebuah café ice cream yang memajang tulisan “ Welcome, we speak English and accept US Dollar “. Namun masih saja, kata pertama yang saya dengar dari dari ibu penjual ice cream adalah “ Bonjour “ 🙂

Jpeg

Menjelajah Fort de France adalah berjalan menyusuri jalanan aspal sempit yang diapit pemukiman penduduk, pertokoan, restaurant dan perkantoran sebagai pusat perekonomian warga Kota. Pada umumnya gaya arsitektur bangunan merupakan perpaduan antara gaya Karibia berbalut nuansa Eropa. Tidak tampak gedung-gedung super megah nan tinggi, bangunan yang terlihat menjulang di Kota ini adalah menara bersejarah katedral  St. Louis, yang tahun lalu ketika pertama kali saya datang hingga kini masih dalam proses renovasi. Beberapa bangunan tua lain bernuansa Prancis seperti Kantor Pemerintahan, Museum, Perpustakaan Kota dan Kantor Pos masih dipertahankan hingga kini.

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Tempat yang paling sering saya datangi tiap berlabuh di Kota ini adalah taman Kota , letaknya diujung dermaga bersebelahan dengan benteng Fort de France. Sikap cuek Kota ini terasa makin menyenangkan di taman ini, tempat dimana tidak ada perlakuan spesial bagi para pendatang, sekali lagi, semua berjalan biasa saja. Biasanya saya duduk di bangku taman dibawah pohon besar, memandangi lautan dimana perahu-perahu kecil menggambang, diseberang sana tampak sebuah pulau entah apa namanya. Diujung taman, beberapa orang berjemur di pantai sempit berumput yang tak berombak. Sesekali dari belakang terdengar tawa riang anak-anak terbang dalam ayunan, atau kicauan tak beraturan kerumunan burung dara yang kelaparan.

Jpeg

Jpeg

Diam tertunduk menulis beberapa kata pada buku saku, menyumpalkan headset hingga mata terlelap terbaring menghadap langit biru yang tertutup rimbun daun pohon. Semilir angin laut melengkapi waktu yang terasa mengalun pelan saat ini. Di dalam kapal sana, waktu berjalan bak deru mesin, cepat melesat, monoton, kaku dan melelahkan. Waktu untuk kembali menuju diri sendiri seperti ini terasa amat berharga. Bangku taman dibawah pohon besar ini mengingatkan tentang sebuah kehidupan yang masih berjalan. Konon pepohonan, terutama pohon besar dapat menyebarkan harmoni saat seseorang menyandarkan punggungnya pada batang pohon itu. Tiap tumbuhan memiliki karakter fisik, energetik serta spiritual.  Entahlah, namun saya percaya akan hal ini karena seringkali waktu terasa berbeda saat saya menghabiskan waktu dengan pohon, dimanapun. Seperti saat ini, walaupun saya tidak bersandar pada batangnya, melainkan pada bangku taman dibawahnya.

Begitulah saya menyukai Fort de France yang cuek dan biasa saja. Lebih spesifiknya, menyukai bangku taman berpayung pohon besar diujung dermaga ini, yang menurut saya mewakili karateristik Kota ini. Fort de France adalah sebuah bangku taman, ia tak perduli siapa yang datang dan duduk diatasnya, semua akan mendapat perlakuan sama darinya. Ia akan tetap berdiri diam dibawah pohon rimbun itu tanpa berkeinginan untuk merubah dirinya menjadi bangku raja, karena ia tak perduli akan hal itu. Ia hanya menawarkan suasana yang biasa saja, ketenangan yang biasa saja, dimana bagi beberapa orang hal itu dapat  menghadirkan suatu kedamaian yang tidak biasa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s