Mengenal Aeronautika Lewat NASA

“I would rather be a superb meteor, every atom of me in magnificent glow, than a sleepy and permanent planet“

Jpeg

USA, Maret 2017

Ruang gelap ini bentuknya asing, mirip cerebro-nya Professor Xavier di film-film X-Men. Seluruh permukaan konveks merupakan layar 3D, visualisasi kualitas tinggi tampaknya,hingga saya dan para pengunjung lain merasa seperti benar-benar di dalam sebuah Space Shuttle NASA yang siap melaju ke luar angkasa. Beberapa menit lagi, kami siap meninggalkan bumi. Setelah suara gemuruh peluncuran, daratan terlihat makin mengecil diantara langit biru, berputar menembus atmosfir hingga dibawah sana terlihat wujud aktual bumi. Benar kata para penjelajah antariksa, bahwa bumi ini terlihat begitu indah dari luar sana. Lingkaran biru bercahaya terang, terselimuti balutan putih samar atmosfir, gambaran sempurna dari kehidupan di dalamnya.

Shuttle launch experience 3D simulation tadi salah satu hal berkesan saat mengunjungi NASA Kennedy Space Center, Florida. Pusat aktivitas para pengunjung adalah di Visitor Complex. Tempat ini terdiri dari beberapa “wahana”, Space Shuttle Atlantis salah satunya. Merupakan rumah bagi Atlantis Space Shuttle. Setelah rekor total 203 juta km menjelajah luar angkasa selama masa aktifnya ( setara dengan 525 kali jarak bumi-bulan ), Atlantis diistirahatkan disini. Pengunjung dapat menatap secara langsung tiap detail dari salah satu ikon NASA ini. Atlantis dalam fungsinya sebagai shuttle luar angkasa, telah banyak membawa crew dan perangkat hingga menghasilkan data-data penting bagi NASA selama 11 kali misi menjelajah galaksi.

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Masih di satu atap yang sama, ada International Space Station Gallery. Dimana pengunjung dapat mengenal seluk beluk aeronautika yang berhubungan dengan NASA. Mulai dari hal sederhana seperti tempat tidur astronaut , bagaimana astronaut makan, replika ruang kendali pesawat, hingga penjelasan cukup detail tentang berbagai peralatan buatan NASA yang menunjang aktivitas para astronaut mereka saat bertahan hidup di luar angkasa.

p_20170307_030747.jpg

Jpeg

p_20170307_030647.jpg

Jpeg

p_20170307_030025.jpg

Jpeg

Jpeg

Analogi sederhananya mungkin Kennedy Space Center Visitor Complex ini seperti Taman Mini-nya NASA. Area luas dimana terdapat berbagai “wahana” yang kalau dikunjungi satu per satu akan memakan waktu seharian penuh. Ada Journey to Mars , menjelajah Mars ala-ala film Interstellar dan berbagai exhibits tentang  Mars. Hero and Legends, tempat mengenal para pahlawan NASA dalam berbagai misi. Imax Theatre, bioskop menampilkan film-film 3D bertemakan Planet dan berbagai proyek NASA. Rocket Garden, komplek taman dihiasi berbagai roket buatan NASA.

Jpeg

P_20170307_020937.jpg

p_20170307_022049.jpg

Jpeg

p_20170307_021206.jpg

Jpeg

Untuk membawa pengunjung mengenal seluruh area NASA KSC ( Kennedy Space Center ) , Visitor Complex menyediakan fasilitas Bus Tour. Duduk manis di dalam bus untuk dipandu mengenal beberapa titik penting dari total 700 fasilitas NASA KSC yang tidak dibuka untuk publik. Area seluas 570 km2 ini terletak di Merrit Island, ujung tenggara Florida, sebuah pulau kecil ditepi Samudera Atlantik. Hal yang cukup menarik dimana sebagian besar area masih terlihat alami. Hutan hijau lebat menghidupi berbagai satwa liar. Beberapa kali terlihat buaya berjemur kaku ditepian sungai, kura-kura berlumut mengapung malas, tarian bebek-bebek liar, hingga lamunan elang disarangnya. Pastinya ada motif tertentu bagaimana sebuah pusat penelitian sekelas NASA memilih area yang cukup “ mentah “ ini. Bagaimanapun, hingga kini dari total 10 Field Centers NASA yang tersebar di USA, KSC merupakan salah satu yang paling populer karena adanya fasilitas publik seperti Visitor complex.

Jpeg

Vehicle Assembly Building ( VAB ), lokasi pertama yang kami tuju . Penjelasan sederhananya, VAB ini merupakan bengkel utamanya NASA, tempat perakitan “kendaraan” luar angkasa mereka. Tampilan arsitektur VAB dari luar tampak biasa saja, sebuah kotak raksasa polos. Seperti kardus kado ulang tahun yang hanya ditempeli bendera USA dan logo NASA, tanpa bungkus warna-warni, tanpa dekorasi. Seolah wujud dari efektifitas dan kekakuan yang “engineer banget”. Entah teknologi apa saja yang ada di dalam kardus kado itu. Mengingat berbagai produk legendaris seperti Saturn V, roket yang mengantar Amstrong main ke Bulan juga dirakit disini. Fakta menarik lain, VAB merupakan bangunan terluas ke-4 di dunia berdasarkan volume.

Jpeg

Launch Complex ( LC ) 39 merupakan lokasi berikutnya, adalah tempat peluncuran roket-roket NASA. Rakitan kerangka rumit besi-besi tersusun menumpu beberapa menara menjulang tinggi. Tempat peluncuran roket NASA yang pertama dulu hanya seluas lapangan bola basket, kini sudah menjadi seluas lapangan baseball. Sejauh ini yang dapat saya tangkap bahwa proses peluncuran roket dimulai dari memindahkan roket di bengkel ( VAB ) menuju Launch Complex  ( LC ) ini. Proses pemindahan  roket  dari VAB menuju LC digunakan perangkat sejenis tank raksasa mirip robot-robot di film transformer.

Perhentian terakhir adalah Saturn V Center ( dibaca : Saturn lima ). Proyek ini difungsikan untuk program Apollo ; eksplorasi manusia menuju bulan. Dalam sejarahnya, kutipan sentimental dari pidato Presiden Kennedy ”But why, some say, the moon? Why choose this our goal? And they may ask well ask why climb the highest mountain?. We choose to go to the moon in this decade and the other things not because they are easy, but because they are hard…”.  Manis,tapi klise memang, mengingat dimana waktu itu latar belakang terbesar USA untuk mencapai bulan adalah kekhawatiran mereka akan Uni Soviet, musuh besar dalam perang dunia saat itu ( sepertinya turun-temurun hingga sekarang ).

Tahun 1961 Soviet berhasil mengantar Yuri Gagarin jalan-jalan ke luar angkasa mengitari bumi. Pencapaian besar itu membuat USA cepat-cepat melakukan antisipasi, berbagai pertanyaan muncul. Apa yang akan selanjutnya Soviet lakukan diluar sana? rencana penyerangan? penyadapan? masih amankah negara ini nantinya?. USA kemudian menyibukkan diri lewat program-program NASA, salah satunya program Apollo ini. Pesimisme besar untuk mencapai bulan, ketika program Apollo dimulai, pencapaian terbaik mereka hanya bertahan tidak lebih dari 16 menit di luar angkasa.  Tapi kenapa harus bulan yang jadi pilihan? Well, kalau orang bilang ; “because they are USA”. Kecenderungan untuk berbeda dan jadi yang pertama dalam segala hal  seperti sudah amat mengakar.

Jpeg

Setelah cerita panjang selama 6 tahun sejak program Apollo dijalankan, akhirnya USA berhasil mendaratkan manusia ke Bulan lewat program Apollo 11. Nama Neil Armstrong amat mendunia dengan slogan “one step for man, one giant leap for mankind”. Bahkan hingga kini berapa banyak orang yang jika ditanyai: siapa manusia pertama berhasil ke luar angkasa? nama Armstrong yang akan disebut, bukannya Yuri Gagarin. USA memang seperti selalu memiliki caranya sendiri untuk menduniakan segala “produk” mereka bukan?.

Di sisi lain, tradisi dunia bahwa si pertama dalam segala hal yang akan menjadi pemenang, yang akan selalu diingat namanya. Apa dan siapa yang ada di belakang si pertama seolah terlupakan. Armstrong tanpa NASA tak akan sampai ke bulan, dan masalah kaki siapa yang pertama berpijak disana seperti sebuah hal sederhana mengingat ada dua orang Astronaut lain yang memiliki waktu dan kesempatan sama. Seperti kisah Edmund Hillary dan Everest, tanpa seorang Tenzing Norgay, dia tak akan menjadi orang pertama tiba di summit “dining room table” everest. Dan sekali lagi, bukankah sebuah hal sederhana tetang langkah siapa yang pertama, ketika kita berjalan bersama?

Jpeg

Dan roket Saturn V yang mengantar Amstrong ke Bulan diistirahatkan disini. Sebuah teknologi tinggi hasil pemikiran manusia, wujud teknologi presisi dari segala ambisi. Dengan tinggi 111 m ( 18 m lebih tinggi dari patung liberty ) dan berat 2,8 juta kg, Saturn V sejauh ini masih merupakan roket terbesar dan terkuat sepanjang sejarah. Selama 13 kali peluncuran dalam berbagai program Apollo, roket ini sudah mengantar total 24 Astronaut main ke bulan, dan semuanya berhasil kembali ke bumi. Saking gedenya, susah untuk ambil foto ukuran penuh dari roket ini. Di area yang sama, ada juga Astronaut Van, yang menurut saya lebih mirip mobil jenazah. Van yang mengangkut Armstrong dan dua Austronaut lain menuju Launch Complex 39 dalam misi Apollo 11. Disini pengunjung juga bisa menyentuh moon rock secara langsung. Oleh-oleh “gratisan” yang bisa dibawa para astronaut NASA dari bulan.

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Terduduk kembali di dalam bus, seorang bocah terlihat menerawang jauh menembus jendela kaca. Mungkin saat ini dia sedang terbang jauh menjelajah galaksi bima sakti. Edukatif, kreatif, imajenatif juga inspiratif. Di negara seperti USA, terdapat tempat-tempat seperti ini dimana mereka dapat menabur benih-benih mimpi bagi tiap generasi. Everybody is a mystery where they gonna end up, namun menggengam mimpi sejak usia dini baik adanya. Paling tidak, mengurangi jenis-jenis manusia seperti saya, yang sudah ¼ abad hidup di bumi, masih tak tau hidup mau dibawa kemana. Tempat ini juga menjadi wujud nyata manusia dalam upaya menembus segala batas semesta. Dunia teknologi, science akan terus menelan bumi, pemuas dahaga abadi akan misteri kehidupan yang tak bertepi.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s