Langit Sore Ladakh

“But, are we all the lost stars trying to light up the sky”

India, September 2017

Beberapa langkah awal terasa ringan, lalu udara tipis dingin terhirup, proses pernafasan terasa berbeda, lebih berat dari biasanya. Setelah durasi penerbangan tak lebih dari 2 jam dari New Delhi, aku berada disini. Berjalan keluar dari sebuah Airport, aku tak ingat namanya. Yang  kuingat, airport kecil dan sederhana itu memiliki latar alam indah. Berada di garis luar sebuah Kota dengan ketingian 3500m, terselimuti deretan pegunungan beratap salju, perbukitan berwarna coklat terhampar sepanjang mata memandang, sesekali kerumunan pepohonan hijau berdaun mungil tampak menjulang. Menuju pusat Kota, sepanjang jalan terlihat perbukitan berbatu, pada puncak-puncaknya berdiri tumpukan monastery tua berwarna putih kusam.

Kota ini bernama Leh, ibukota dari Ladakh, sebuah region di India Utara. Leh demikian juga Ladakh adalah sisi lain dari India, suatu corak berbeda dari negara yang penuh warna ini. Pemukiman penduduk dengan arsitektur Tibetan tersebar tersusun rapat menuruni bukit. Dari kejauhan, rumah satu dan lainnya tampak sama, sebuah bangunan kotak berwarna cokelat atau putih, beberapa jendela kotak kecil berada di bawah atap rumah yang datar. Seperti susunan tumpukan lego. Ladakh berbatasan langsung dengan Tibet, faktor geografis dan sejarah menghasilkan perpaduan antara budaya Tibet dan Kashmir begitu dominan di Leh. Ladakhi sebagian besar mirip dengan Tibetan : kulit putih, pipi kemerahan, mata sedikit sipit dan hidung yang tidak mancung. Berbeda dengan Ladakhi dari keturunan Kashmir : kulit coklat, alis mata tebal, hidung mancung dan garis dagu layaknya orang Pakistan. Penganut Budha dan Muslim Syiah bercampur dengan penganut Hindu, mereka hidup berdampingan tanpa pernah ada konflik agama hingga saat ini.

DCIM100GOPROGOPR9449.

Sebagai Kota terbesar di Ladakh, Leh menjadi pusat aktifitas penting perekonomian penduduk dalam bidang pariwisata. Leh menjadi titik singgah para traveler untuk menuju tempat seperti Nubra valley, Markha valley, Pagong Tso, Srinagar hingga Manali. Bising Leh sebagai “Kota besar” adalah bising Kota yang masih bisa kuterima. Di tempat seperti ini banyak hal masih terlihat sederhana untuk kategori sebuah Kota besar. Maksutku, mungkin lebih kepada sebuah pertanyaan, dalam keadaan geografis seperti ini, wujud sebuah Kota besar apa yang bisa kamu harapkan?. Leh seperti kubangan air kecil diantara punggung berwarna kecoklatan dari Himalaya, dimana sekumpulan mikroorganisme menimbulkan kebisikan yang mereka dengar sendiri.

Berjalan menuju Leh Palace diatas bukit, aku melewati pemukiman penduduk. Sebagian besar sudah memperbaharui rumah Tibetan mereka yang semula terbuat dari tanah liat dan batu. Bangunan rumah terlihat kokoh, tumpukan semen dan batu. Meski demikian, mereka tetap mempertahankan bentuk asli : kotak lego. Tabung-tabung kecil oksigen dijual dimana-mana seperti air mineral. Toko souvenir dipenuhi warna-warni pashmina, tibetan singing bowl, patung-patung logam Budha berjajar dengan dewa-dewa Hindu. Foto Dalai Lama XIV tergantung di tiap dinding restaurant yang menyajikan hidangan seperti momo, thukpa, chowmien hingga butter tea. Prayer flag berkibar mengitari monastery di tiap ketinggian. Beberapa wanita tua terlihat masih mengenakan busana khas Tibet, lengkap dengan topi dan “sepatu aladin” mereka. Dari segala aspek memang wajar jika Leh mendapat julukan “The Little Tibet”.

DCIM100GOPROGOPR9455.

Aku suka waktu ketika langit sore mulai menyelimuti Leh. Biasanya aku sudah siap terduduk dikursi rooftop sebuah restaurant. Darisini Leh dan langit sorenya terlihat melankolis. Waktu transisi dari siang menjadi malam, waktu transisi bagi Leh. Lampu-lampu rumah penduduk mulai menyala, tebaran cahaya mungil tersebar di perbukitan. Tak lama setelah gema azan magrib, suara nyanyian puja mengalun mengiringi laju angin malam. Para wanita tua mulai menggelar sayuran dan buah hasil lahan mereka di sepanjang Main Bazar. Sesekali mereka menyeruput gelas kecil berisi chai panas, yang mungkin hanya akan terasa sedikit hangat ditengah suhu sedingin ini. Beberapa traveler tampak sibuk dengan bahasa isyarat mereka, para wanita tua itu tidak mengerti bahasa inggris. Mereka adalah generasi lama, berbeda dengan para pedagang di toko-toko yang tanpa canggung berkomunikasi dengan orang asing.

rooftop.jpg

Suatu waktu lain masih di langit sore ladakh, aku terduduk ditepi danau Pangong Tso. Danau endorheic diketinggian 4300m ini memberi pulasan biru mengagumkan pada perbatasan India-China. Sinar matahari menembus air yang begitu dingin dan bersih hingga kamu dapat merlihat batuan di dasarnya. Tidak ada aktifitas kehidupan signifikan di dalam air payau danau ini. Tidak ada ikan, hanya crustacean kecil dan beberapa pengunjung seperti bebek dan burung camar. Pada musim dingin, danau membeku menjadi hamparan es luas. Waktu dimana para Tentara perbatasan ramai bermain ski disini.

DCIM100GOPROGOPR9508.

DCIM100GOPROGOPR9521.

Saat langit sore ladakh mulai menelan matahari, warna biru danau mulai berubah. Awan-awan tak bisa lagi bercermin di permukaan Pangong Tso. Di gelap malam, tebaran bintang bintang angkasa tampak begitu dekat dengan perbukitan tepian danau. Pada suatu waktu saat dingin malam makin menjadi, telihat kilapan cahaya, bintang jatuh?. Mereka tak pernah terjatuh, hanya berpindah tempat. “Did you make any wish?”, dia bertanya padaku. “No…maybe i don’t know what to ask, or maybe i just don’t believe it anymore”.

pangong 3

 

Untuk Keiko, sesama pengangum langit sore Ladakh…

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s