Tentang Lembah Spiti

“There was nowhere to go but everywhere, so just keep on rolling under the star”

22308867_1836935496335037_2581227751509729206_n

India, Oktober 2017

Aku akan bercerita. Cerita tentang lembah diantara India dan Tibet. Cerita tentang kehidupan manusia dan alam di ketinggian. Cerita tentang Lembah Spiti.

Tiga hari dari Leh, menunggangi beberapa bus kotak sabun. Perjalanan membelah puncak-puncak salju rentangan Himalaya pada garis Ladakh-Himachal Pradesh. Aku masih menyimpan barbagai kekaguman tentang apa yang kulihat selama tiga hari perjalanan itu. Bus kotak sabun ini menempuh jalur trekking panjang. Menjelajah permukaan bumi yang pada umumnya tidak dilewati oleh sebuah kendaraan bernama bus. Menaiki puncak-puncak lebih dari 4000m, kelok tajam jalanan sempit berbatu, tebing-tebing curam siap longsor kapan saja, bertepi jurang menganga dibawah sana. Kamu tidak pernah tau kapan akan sampai di tempat tujuan, karena banyak hal bisa terjadi begitu saja disini. Dan kamu akan seutuhnya memaklumi hal itu. Perjalanan panjang melelahkan setara dengan apa yang akan kamu peroleh.

GOPR9659.JPG

DCIM100GOPROGOPR9649.

DCIM100GOPROG0119605.

Hari itu sebelum petang, aku sampai di Lembah Spiti. Dari kejauhan, beberapa desa terlihat melekat di kaki gunung. Hal pertama terlintas dipikiran adalah bagaimana mungkin manusia melangsungkan sebuah siklus kehidupan turun temurun, berlangsung selama ratusan tahun di tempat seperti ini. Dalam 1 tahun, selama 7 bulan Spiti valley tertutup bagi dunia luar. Salju lebat turun seakan membangun dinding tinggi di Kunzum pass, jalur masuk menuju Spiti valley. Suhu rata-rata pada musim dingin mencapai -450C. “Winter time, all over the places you see, become white, nobody work”, kata seorang penduduk desa.

GOPR9762.JPG

DCIM100GOPROGOPR9663.

DCIM100GOPROGOPR9665.

Kebudayaan Spiti adalah kebudayaan Tibet. Mulai dari gaya hidup, kepercayaan, arsitektur hingga makanan. Kaza adalah desa terbesar, ibukota dari Spiti. Satu-satunya desa di Spiti yang memiliki pom bensin mini, terminal bus yang sedikit lebih luas dari lapangan bola basket, pasar tradisional, warung fotocopy, barber shop, toko obat, juga toko kue. Kaza menjadi pusat aktivitas para traveller, titik awal untuk menjelajah desa-desa lain di Spiti. Tiap jurusan hanya memiliki satu Bus. Jadi jika melewatkan bus itu, kamu harus menunggu sampai hari berikutnya untuk meninggalkan Kaza. Atau menyewa “taxi” setempat yang harganya jauh lebih mahal. Kakek – Nenek yang sedikit mengerti bahasa inggris mempersilahkanku masuk. Sebuah kasur diruang tamu yang mereka sebut dorm room.  Pada dindingnya terpajang lukisan kota Lhasa. Poster Dalai Lama XIV yang lebih mirip kalender menggantung disudut lain dinding. Samar asap dupa menutup malamku di Kaza. Esok hari aku menuju Kibber.

DCIM100GOPROGOPR9685.

GOPR9698.JPG

DCIM100GOPROGOPR9682.

Dulu Kibber merupakan desa tertinggi di dunia. Kini rekor itu menjadi milik desa tetangga, Komik. Berada di ketinggian 4270 m, Kibber merupakan gambaran sempurna dari kehidupan di lembah Spiti. Sebuah desa tradisional Tibet dikelilingi perbukitan tinggi, tanpa ada berisik kehidupan lain disekitanya. Sunyi pegunungan, perbukitan, hanya bentangan alam sepanjang mata memandang. Dihuni tak lebih dari 80 keluarga dan beberapa hewan ternak, mereka hidup bersatu dengan alam. Dalam simpul rumit, kesinambungan nafas diantara ketingian dan keheningan melahirkan kesederhanaan yang mengagumkan.

DCIM100GOPROGOPR9723.

Matahari mulai terbenam di perbukitan belakang desa. Sebelum hilang ia sisakan pulasan warna kuning di angkasa. Dingin malam ini tertiup dibawah langit bercahaya bulan yang hampir terlihat penuh. Aku duduk di dapur, bersama pemilik guest house dan beberapa traveller lainya menghangatkan diri diperapian. Berbincang banyak hal tentang Kibber. Cerita tentang Snow leopard yang turun ke desa tiap musim dingin tiba. Hewan Himalaya langka itu akan menyerang beberapa ternak mereka  saat malam, lalu berkeliaran malas sepanjang hari di lembah pintu masuk desa tanpa pernah melukai penduduk. Lantunan cerita malam ini seperti bisikan pelan angin malam di ketinggian. Tak akan pernah terdengar oleh megah pegunungan di luar sana.

Saat matahari pagi terbangun, beberapa keledai menghantarkan majikan mereka menaiki perbukitan dibelakang desa. Chai dan chapatti hangat telah habis, aku bersiap menghadang Bus yang datang dari desa sebelah. Satu satunya bus hari ini yang menuju Kaza. Antara perjalanan Kibber menuju Kaza, kamu akan melewati desa Ki, dan Ki Monastery. Merupakan monastery tertua dan terbesar di Spiti setelah Tabo Monastery. Ki Monastery menjadi salah satu monastery penting di Spiti, Dalai Lama XIV pernah memimpin upacara Kalachakra disini. Dihuni sekitar 400 biksu. Jumlah yang cukup banyak untuk sebuah wilayah terpencil seperti Spiti. Mungkin karena peraturan setempat yang mengharuskan anak laki-laki kedua dalam keluarga akan menjadi biksu. “My brother become a monk, lives there, i am first son so i own the field, land of my family”, cerita seorang sopir dari Ki yang aku lupa namanya.

Terkadang kehidupan terasa seperti menjalani alur cerita yang sudah tertulis baku. Hal seperti agama, tradisi, budaya, hingga terbentuknya negara, merupakan pagar buatan manusia. Pagar yang membatasi kehidupan yang begitu luas. Tidakkah kehidupan sungguh terlalu sempit jika hanya berupa pilihan di dalamnya?. Dan tidak semua dari kita terlahir seperti kerikil yang pasrah berguling mengikuti arus sungai. Mereka yang percaya dan berusaha untuk memahami luas kehidupan ini, memiliki keberanian mengintip celah-celah pagar. Celah bernama mimpi. Berusaha menemukan hilir yang mereka cari tanpa mengikuti arus sungai yang sama.

DCIM100GOPROGOPR9745.

Laju bus terasa pelan diantara cakap riang penduduk desa. Dibalik bukit kering, Kaza mulai terlihat. Mulutku mengunyah beberapa kurma mungil, pemberian seorang wanita yang duduk didepanku. Ada yang istimewa tentang sifat mereka dalam hal ini, keramah tamahan dan ketulusan untuk memberi. Dari cerita kurma, juga kerumunan para ibu yang memberiku roti dan chai hangat saat mempersiapkan pesta pernikahan di Kaza, hingga sopir truck muda dari desa sebelah yang memberiku marijuana lokal saat aku mencoba mencari tumpangan di Komik. Penduduk spiti dikenal akan keramahan dan kebaikan hati mereka. Rasanya sifat itu bukan hanya timbul dari rasa takut akan karma berujung roda samsara kehidupan selanjutnya. Hidup dalam kondisi alam dan kedamaian seperti ini membentuk karakter mereka.

DCIM100GOPROGOPR9772.

DCIM100GOPROGOPR9778.

Dipunggung sebuah bukit, terlihat jelas ukiran raksasa mantra om mani padma hum tertulis dalam Tibetan Sanskrit berwarna putih. Mataku menerawang jauh memandangi awan pucat yang terus bergerak. Anganku masih mencoba untuk mengerti lebih dalam tentang tempat ini. Aku berada di India, namun tempat ini terasa bukanlah cerita tentang India yang pernah kudengar sebelumnya. Spiti membawa ingatanku pada Annapurna, Himalaya. Beberapa tempat akan membawa ingatanmu akan tempat lain. Tempat- tempat dimana segala komponen kehidupan disekitarnya membuatmu merasa “hidup”. Mungkin pilihan kata “hidup” yang kupakai tidak sepenuhnya tepat. Amat sulit untuk memilih kata yang tepat jika itu berkaitan tentang perasaan bukan?. Mereka bilang perasaan adalah hal yang sulit diubah dalam bait kata. Namun kamu  mungkin akan mengerti, jika kamu pernah merasakan hal yang sama.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s