All posts by footloose90

A wanderer nomad

Mengenal Aeronautika Lewat NASA

“I would rather be a superb meteor, every atom of me in magnificent glow, than a sleepy and permanent planet“

Jpeg

USA, Maret 2017

Ruang gelap ini bentuknya asing, mirip cerebro-nya Professor Xavier di film-film X-Men. Seluruh permukaan konveks merupakan layar 3D, visualisasi kualitas tinggi tampaknya,hingga saya dan para pengunjung lain merasa seperti benar-benar di dalam sebuah Space Shuttle NASA yang siap melaju ke luar angkasa. Beberapa menit lagi, kami siap meninggalkan bumi. Setelah suara gemuruh peluncuran, daratan terlihat makin mengecil diantara langit biru, berputar menembus atmosfir hingga dibawah sana terlihat wujud aktual bumi. Benar kata para penjelajah antariksa, bahwa bumi ini terlihat begitu indah dari luar sana. Lingkaran biru bercahaya terang, terselimuti balutan putih samar atmosfir, gambaran sempurna dari kehidupan di dalamnya.

Shuttle launch experience 3D simulation tadi salah satu hal berkesan saat mengunjungi NASA Kennedy Space Center, Florida. Pusat aktivitas para pengunjung adalah di Visitor Complex. Tempat ini terdiri dari beberapa “wahana”, Space Shuttle Atlantis salah satunya. Merupakan rumah bagi Atlantis Space Shuttle. Setelah rekor total 203 juta km menjelajah luar angkasa selama masa aktifnya ( setara dengan 525 kali jarak bumi-bulan ), Atlantis diistirahatkan disini. Pengunjung dapat menatap secara langsung tiap detail dari salah satu ikon NASA ini. Atlantis dalam fungsinya sebagai shuttle luar angkasa, telah banyak membawa crew dan perangkat hingga menghasilkan data-data penting bagi NASA selama 11 kali misi menjelajah galaksi.

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Masih di satu atap yang sama, ada International Space Station Gallery. Dimana pengunjung dapat mengenal seluk beluk aeronautika yang berhubungan dengan NASA. Mulai dari hal sederhana seperti tempat tidur astronaut , bagaimana astronaut makan, replika ruang kendali pesawat, hingga penjelasan cukup detail tentang berbagai peralatan buatan NASA yang menunjang aktivitas para astronaut mereka saat bertahan hidup di luar angkasa.

p_20170307_030747.jpg

Jpeg

p_20170307_030647.jpg

Jpeg

p_20170307_030025.jpg

Jpeg

Jpeg

Analogi sederhananya mungkin Kennedy Space Center Visitor Complex ini seperti Taman Mini-nya NASA. Area luas dimana terdapat berbagai “wahana” yang kalau dikunjungi satu per satu akan memakan waktu seharian penuh. Ada Journey to Mars , menjelajah Mars ala-ala film Interstellar dan berbagai exhibits tentang  Mars. Hero and Legends, tempat mengenal para pahlawan NASA dalam berbagai misi. Imax Theatre, bioskop menampilkan film-film 3D bertemakan Planet dan berbagai proyek NASA. Rocket Garden, komplek taman dihiasi berbagai roket buatan NASA.

Jpeg

P_20170307_020937.jpg

p_20170307_022049.jpg

Jpeg

p_20170307_021206.jpg

Jpeg

Untuk membawa pengunjung mengenal seluruh area NASA KSC ( Kennedy Space Center ) , Visitor Complex menyediakan fasilitas Bus Tour. Duduk manis di dalam bus untuk dipandu mengenal beberapa titik penting dari total 700 fasilitas NASA KSC yang tidak dibuka untuk publik. Area seluas 570 km2 ini terletak di Merrit Island, ujung tenggara Florida, sebuah pulau kecil ditepi Samudera Atlantik. Hal yang cukup menarik dimana sebagian besar area masih terlihat alami. Hutan hijau lebat menghidupi berbagai satwa liar. Beberapa kali terlihat buaya berjemur kaku ditepian sungai, kura-kura berlumut mengapung malas, tarian bebek-bebek liar, hingga lamunan elang disarangnya. Pastinya ada motif tertentu bagaimana sebuah pusat penelitian sekelas NASA memilih area yang cukup “ mentah “ ini. Bagaimanapun, hingga kini dari total 10 Field Centers NASA yang tersebar di USA, KSC merupakan salah satu yang paling populer karena adanya fasilitas publik seperti Visitor complex.

Jpeg

Vehicle Assembly Building ( VAB ), lokasi pertama yang kami tuju . Penjelasan sederhananya, VAB ini merupakan bengkel utamanya NASA, tempat perakitan “kendaraan” luar angkasa mereka. Tampilan arsitektur VAB dari luar tampak biasa saja, sebuah kotak raksasa polos. Seperti kardus kado ulang tahun yang hanya ditempeli bendera USA dan logo NASA, tanpa bungkus warna-warni, tanpa dekorasi. Seolah wujud dari efektifitas dan kekakuan yang “engineer banget”. Entah teknologi apa saja yang ada di dalam kardus kado itu. Mengingat berbagai produk legendaris seperti Saturn V, roket yang mengantar Amstrong main ke Bulan juga dirakit disini. Fakta menarik lain, VAB merupakan bangunan terluas ke-4 di dunia berdasarkan volume.

Jpeg

Launch Complex ( LC ) 39 merupakan lokasi berikutnya, adalah tempat peluncuran roket-roket NASA. Rakitan kerangka rumit besi-besi tersusun menumpu beberapa menara menjulang tinggi. Tempat peluncuran roket NASA yang pertama dulu hanya seluas lapangan bola basket, kini sudah menjadi seluas lapangan baseball. Sejauh ini yang dapat saya tangkap bahwa proses peluncuran roket dimulai dari memindahkan roket di bengkel ( VAB ) menuju Launch Complex  ( LC ) ini. Proses pemindahan  roket  dari VAB menuju LC digunakan perangkat sejenis tank raksasa mirip robot-robot di film transformer.

Perhentian terakhir adalah Saturn V Center ( dibaca : Saturn lima ). Proyek ini difungsikan untuk program Apollo ; eksplorasi manusia menuju bulan. Dalam sejarahnya, kutipan sentimental dari pidato Presiden Kennedy ”But why, some say, the moon? Why choose this our goal? And they may ask well ask why climb the highest mountain?. We choose to go to the moon in this decade and the other things not because they are easy, but because they are hard…”.  Manis,tapi klise memang, mengingat dimana waktu itu latar belakang terbesar USA untuk mencapai bulan adalah kekhawatiran mereka akan Uni Soviet, musuh besar dalam perang dunia saat itu ( sepertinya turun-temurun hingga sekarang ).

Tahun 1961 Soviet berhasil mengantar Yuri Gagarin jalan-jalan ke luar angkasa mengitari bumi. Pencapaian besar itu membuat USA cepat-cepat melakukan antisipasi, berbagai pertanyaan muncul. Apa yang akan selanjutnya Soviet lakukan diluar sana? rencana penyerangan? penyadapan? masih amankah negara ini nantinya?. USA kemudian menyibukkan diri lewat program-program NASA, salah satunya program Apollo ini. Pesimisme besar untuk mencapai bulan, ketika program Apollo dimulai, pencapaian terbaik mereka hanya bertahan tidak lebih dari 16 menit di luar angkasa.  Tapi kenapa harus bulan yang jadi pilihan? Well, kalau orang bilang ; “because they are USA”. Kecenderungan untuk berbeda dan jadi yang pertama dalam segala hal  seperti sudah amat mengakar.

Jpeg

Setelah cerita panjang selama 6 tahun sejak program Apollo dijalankan, akhirnya USA berhasil mendaratkan manusia ke Bulan lewat program Apollo 11. Nama Neil Armstrong amat mendunia dengan slogan “one step for man, one giant leap for mankind”. Bahkan hingga kini berapa banyak orang yang jika ditanyai: siapa manusia pertama berhasil ke luar angkasa? nama Armstrong yang akan disebut, bukannya Yuri Gagarin. USA memang seperti selalu memiliki caranya sendiri untuk menduniakan segala “produk” mereka bukan?.

Di sisi lain, tradisi dunia bahwa si pertama dalam segala hal yang akan menjadi pemenang, yang akan selalu diingat namanya. Apa dan siapa yang ada di belakang si pertama seolah terlupakan. Armstrong tanpa NASA tak akan sampai ke bulan, dan masalah kaki siapa yang pertama berpijak disana seperti sebuah hal sederhana mengingat ada dua orang Astronaut lain yang memiliki waktu dan kesempatan sama. Seperti kisah Edmund Hillary dan Everest, tanpa seorang Tenzing Norgay, dia tak akan menjadi orang pertama tiba di summit “dining room table” everest. Dan sekali lagi, bukankah sebuah hal sederhana tetang langkah siapa yang pertama, ketika kita berjalan bersama?

Jpeg

Dan roket Saturn V yang mengantar Amstrong ke Bulan diistirahatkan disini. Sebuah teknologi tinggi hasil pemikiran manusia, wujud teknologi presisi dari segala ambisi. Dengan tinggi 111 m ( 18 m lebih tinggi dari patung liberty ) dan berat 2,8 juta kg, Saturn V sejauh ini masih merupakan roket terbesar dan terkuat sepanjang sejarah. Selama 13 kali peluncuran dalam berbagai program Apollo, roket ini sudah mengantar total 24 Astronaut main ke bulan, dan semuanya berhasil kembali ke bumi. Saking gedenya, susah untuk ambil foto ukuran penuh dari roket ini. Di area yang sama, ada juga Astronaut Van, yang menurut saya lebih mirip mobil jenazah. Van yang mengangkut Armstrong dan dua Austronaut lain menuju Launch Complex 39 dalam misi Apollo 11. Disini pengunjung juga bisa menyentuh moon rock secara langsung. Oleh-oleh “gratisan” yang bisa dibawa para astronaut NASA dari bulan.

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Terduduk kembali di dalam bus, seorang bocah terlihat menerawang jauh menembus jendela kaca. Mungkin saat ini dia sedang terbang jauh menjelajah galaksi bima sakti. Edukatif, kreatif, imajenatif juga inspiratif. Di negara seperti USA, terdapat tempat-tempat seperti ini dimana mereka dapat menabur benih-benih mimpi bagi tiap generasi. Everybody is a mystery where they gonna end up, namun menggengam mimpi sejak usia dini baik adanya. Paling tidak, mengurangi jenis-jenis manusia seperti saya, yang sudah ¼ abad hidup di bumi, masih tak tau hidup mau dibawa kemana. Tempat ini juga menjadi wujud nyata manusia dalam upaya menembus segala batas semesta. Dunia teknologi, science akan terus menelan bumi, pemuas dahaga abadi akan misteri kehidupan yang tak bertepi.

 

 

Bangku Taman di Ujung Dermaga

” Peace of mind, remembering who we are “

Martinique, Februari 2017

Fort de France, dari kejauhan sepintas terlihat sama seperti Kota-Kota Pelabuhan lain di Karibia. Sengatan matahari khatulistiwa, garis pantai yang tak lagi alami, pemukiman warna-warni berjejal memberi warna perbukitan hijau dibelakang sana. Lalu perbedaan mulai terasa. Tidak ada hingar bingar kesibukan aktivitas layaknya Kota Pelabuhan Pariwisata sekaligus Ibukota Negara disini. Sangat lain dari Kota pelabuhan Karibia pada umumnya, tidak ada kerumunan sopir taxi berebut penumpang, tidak ada berisik agen-agen menawarkan paket tour, tidak ada kompleks luas toko souvenir yang membosankan beserta teriakan para pedagangnya. Semua tampak berjalan biasa saja tanpa hal yang berlebihan. Mungkin kalau bisa bicara, Kota ini seakan berkata, “ oh, bunch of tourist from cruise ship coming again, so what? “

Jpeg

Sikap cuek Fort de France ini membuat saya tertarik untuk mengenal tempat ini lebih dalam. Tahun 2016 lalu entah di bulan apa saya lupa, waktu itu pertama kali memijakan kaki di Kota ini. Masih teringat juga saat itu cukup terkejut menemukan keripik pisang disini, bukan plantin karibia seperti biasanya, tapi ini benar-benar keripik pisang seperti di Indonesia. Tahun 2017 ini ternyata hidup membawa saya ketempat ini lagi, bekerja di kapal dan intinerary sama dengan tahun lalu.

12919635_1234915839870342_8689777456294893548_n-1

Mungkin bisa jadi kesan cuek tersebut adalah bagian dari sisi ke-Prancis-an mereka. Martinique, negara mungil di Karibia ini merupakan salah satu dari total empat Insular Region ( Region seberang laut )  yang dimiliki Prancis. Orang Prancis dikenal cuek dalam terhadap banyak hal, salah satunya adalah bahasa. Dunia tahu bahwa orang Prancis merasa tidak perlu menggunakan bahasa asing, kebanggaan akan bahasa sendiri? atau mereka merasa bahasa merekalah yang harus dipelajari oleh orang asing. Dalam hal ini entah dari banyaknya alasan yang beredar, saya lebih suka menyebut masalah bahasa ini merupakan suatu sikap cuek dasar yang Prancis-banget.

Meskipun mayoritas penduduk Martinique bukanlah orang Prancis asli, melainkan keturunan Afrika bekas perbudakan gula di masa lampau, namun sikap cuek terhadap bahasa itu mengakar disini. Di Fort de France, para penjaga toko tempat saya membeli post card, hingga berlanjut ke petugas di Kantor Pos, hanya satu- dua orang yang “mengerti“ bahasa inggris. Penunjuk jalan, jadwal kapal ferry, hingga tulisan-tulisan penjelasan tentang sejarah di museum semua dalam bahasa Prancis tanpa dilengkapi translate dalam bahasa Inggris.

Sikap cuek lain terhadap tourist yang adalah bagaimana mereka hanya menerima pembayaran dalam mata uang mereka Euro, dan tidak menerima pembayaran dalam US Dollar. Hal yang amat janggal untuk sebuah Kota Pelabuhan Pariwisata di Karibia, yang pada umumnya mau menerima pembayaran dalam USD meskipun itu bukan mata uang asli Negara mereka, mengingat kebanyakan cruise line tourist berasal dari USA. Saking sedikitnya toko hingga fasilitas umum yang berbahasa inggris dan mau menerima USD, saya sampai senyum-senyum sendiri ketika menemukan sebuah café ice cream yang memajang tulisan “ Welcome, we speak English and accept US Dollar “. Namun masih saja, kata pertama yang saya dengar dari dari ibu penjual ice cream adalah “ Bonjour “ 🙂

Jpeg

Menjelajah Fort de France adalah berjalan menyusuri jalanan aspal sempit yang diapit pemukiman penduduk, pertokoan, restaurant dan perkantoran sebagai pusat perekonomian warga Kota. Pada umumnya gaya arsitektur bangunan merupakan perpaduan antara gaya Karibia berbalut nuansa Eropa. Tidak tampak gedung-gedung super megah nan tinggi, bangunan yang terlihat menjulang di Kota ini adalah menara bersejarah katedral  St. Louis, yang tahun lalu ketika pertama kali saya datang hingga kini masih dalam proses renovasi. Beberapa bangunan tua lain bernuansa Prancis seperti Kantor Pemerintahan, Museum, Perpustakaan Kota dan Kantor Pos masih dipertahankan hingga kini.

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Tempat yang paling sering saya datangi tiap berlabuh di Kota ini adalah taman Kota , letaknya diujung dermaga bersebelahan dengan benteng Fort de France. Sikap cuek Kota ini terasa makin menyenangkan di taman ini, tempat dimana tidak ada perlakuan spesial bagi para pendatang, sekali lagi, semua berjalan biasa saja. Biasanya saya duduk di bangku taman dibawah pohon besar, memandangi lautan dimana perahu-perahu kecil menggambang, diseberang sana tampak sebuah pulau entah apa namanya. Diujung taman, beberapa orang berjemur di pantai sempit berumput yang tak berombak. Sesekali dari belakang terdengar tawa riang anak-anak terbang dalam ayunan, atau kicauan tak beraturan kerumunan burung dara yang kelaparan.

Jpeg

Jpeg

Diam tertunduk menulis beberapa kata pada buku saku, menyumpalkan headset hingga mata terlelap terbaring menghadap langit biru yang tertutup rimbun daun pohon. Semilir angin laut melengkapi waktu yang terasa mengalun pelan saat ini. Di dalam kapal sana, waktu berjalan bak deru mesin, cepat melesat, monoton, kaku dan melelahkan. Waktu untuk kembali menuju diri sendiri seperti ini terasa amat berharga. Bangku taman dibawah pohon besar ini mengingatkan tentang sebuah kehidupan yang masih berjalan. Konon pepohonan, terutama pohon besar dapat menyebarkan harmoni saat seseorang menyandarkan punggungnya pada batang pohon itu. Tiap tumbuhan memiliki karakter fisik, energetik serta spiritual.  Entahlah, namun saya percaya akan hal ini karena seringkali waktu terasa berbeda saat saya menghabiskan waktu dengan pohon, dimanapun. Seperti saat ini, walaupun saya tidak bersandar pada batangnya, melainkan pada bangku taman dibawahnya.

Begitulah saya menyukai Fort de France yang cuek dan biasa saja. Lebih spesifiknya, menyukai bangku taman berpayung pohon besar diujung dermaga ini, yang menurut saya mewakili karateristik Kota ini. Fort de France adalah sebuah bangku taman, ia tak perduli siapa yang datang dan duduk diatasnya, semua akan mendapat perlakuan sama darinya. Ia akan tetap berdiri diam dibawah pohon rimbun itu tanpa berkeinginan untuk merubah dirinya menjadi bangku raja, karena ia tak perduli akan hal itu. Ia hanya menawarkan suasana yang biasa saja, ketenangan yang biasa saja, dimana bagi beberapa orang hal itu dapat  menghadirkan suatu kedamaian yang tidak biasa.

Pagi Berganti di Himalaya

“To the mountain we go, to lose our mind and find our souls”

DCIM100GOPROGOPR8345.

Nepal, Oktober 2016

Pagi berganti, laju angin meniup lembaran kain warna-warni , memanjang dan saling terikat. Prayer flag berkibar, abadi menghiasi Himalaya. Kelima warnanya melambangkan lima elemen, lima cahaya murni. Biru adalah langit dan angkasa, putih udara dan angin, merah api, hijau air, kuning untuk bumi. Barisan mantra sansekerta Om Mani Padme Hum terpahat pada bebatuan sepanjang jalan, hingga menyatu bersama bunyi dencit, suara putaran prayer wheel. Di depan sebuah rumah batu, asap samar terbang naik, meninggalkan sisa tumbuhan bakaran persembahan puja. Iman, ritual, serta spiritualitas. Bahkan di tempat sejauh ini, setinggi ini, sedingin dan sunyi ini, terasa amat nyata. Sering dari dalam muncul pertanyaan, atau pernyataan? pernyataan tentang kekaguman. Melihat bagaimana mereka penduduk desa, dapat begitu berserah, sepenuh hati, percaya akan apa yang mereka yakini.

Kami para pencari merasa, semakin mencari, semakin banyak hal kami tidak mengerti…

Pagi berganti, tanpa kenal hari, deretan angka waktu terlupakan begitu saja. Hanya tau bahwa saat ini kami berjalan dalam dimensinya. Langkah pelan kaki-kaki lelah terhenti oleh semarak kilauan butiran putih, sisa salju semalam. Mereka hinggap terlelap dipucuk-pucuk dedaunan, sebelum akhirnya terbangun. Perlahan sirna menyatu bebas bersama hangat uap mentari pagi ini. Kerumunan Yaks bermalas-malasan di lembah hijau sebelah Desa. Kawanan Bharal gembira berlari kesana kemari menjelajah ketinggian. Di langit biru sana, para Elang Gunung terbang liar berkejaran dengan bayangan mereka. Sejauh apapun, setinggi apapun mereka terbang, bayangan itu akan tetap memijak bumi. Kebebasan seutuhnya bagi Himalaya dan para penghuninya.

Ketika kebebasan terasa begitu berbeda, tiap detail disekililingmu, keindahan, kejelasan, dan kebersihan pikiran. Semua menjadi satu didalam jiwamu…

DCIM100GOPROGOPR8191.

Pagi berganti, dingin ini makin menjadi. Mengeringkan bibir, kaku terpecah, terbelah perih disemua sisi. Rasa sakit diwajah , pori-pori matang terbakar matahari. Lihat juga beberapa dari mereka  jari-jari kakinya melepuh, lembaran kulit lepas terkelupas. Namaste, sapa ramah mereka yang mengira bahwa aku adalah seorang Sherpa. Sesekali hentakan trekking pole terdengar, menjadi selingan nafas yang sudah terasa makin berat. Di ketinggian lebih dari 4500m, terlihat Helicopter menghampiri. Evakuasi. AMS ( Altitude Mountain Sickness ) ditangani secepat mungkin, sebelum berakibat fatal. Tahapan aklimatisasi menjadi harga mati untuk mencapai ketinggian seperti ini. Jauh dibawah sana, selalu mengalunkan pertanyaan nuansa lama tentang “mengapa”. Lalu disini, semua itu terasa tidak begitu penting, atau mungkin terlalu rumit untuk dapat dimengerti.

Menemukan tempat pelindungan dari rasa sakit dari luar dan dalam batin yang selalu membingkai eksistensi kita sebagai manusia…

Pagi berganti, kembali  meringkasi tiap bawaan ke dalam tas ini. Segala kebutuhan hidup, melekat menyatu menjadi beban dipunggung. Berminggu-minggu, bulan, bahkan tahun, entah kapan akan kembali ke tempat yang mereka sebut rumah. Semua cerita panjang itu menyisakan ruang bagi Himalaya di dalamnya. Kami terbiasa dengan pakaian lusuh yang sama , makanan lokal yang sama, air sungai yang sama tawar, pagi demi pagi. Kemewahan, tampilan, aroma, kilau warna bukan bagian dari cerita sehari –hari. Kerumitan turun-temurun itu tidak menjadi bagian dari beban dipunggung ini, langkah terasa ringan, hidup terasa ringan. Bahwa sesungguhnya kita tidak membutuhkan banyak hal serba lebih untuk hidup. Bahkan gumpalan kering kerontang kotoran Yak, dapat menjadi nyala api alami. Penghangat bagi tiap jiwa yang meringkuk ditengah dinginnya gelap malam Himalaya.

Pemahaman mendalam tentang kesederhanaan hidup, kesadaran meghargai setiap pemberian alam, positivisme dan sukacita dalam segala realita…

Pagi berganti, masih sering kami bercakap panjang tetang sebuah arti. Di atas sini , seseorang akan menatapmu saat kamu berbicara, memberikan makna perhatian seutuhnya, bersatu dalam moment yang ada. I am talking to you, i am thinking about you. Sebuah konsep ringkas namun terasa telah kandas di bawah sana, jauh bagi Himalaya. Mata mereka menerawang terbang saat mendengarmu berbicara lebih dari 20 detik. Mereka sudah memiliki banyak hal lain di pikiran mereka, tentang lawan jenis yang mereka impikan, tentang lima sosial media yang mereka punya, tentang pekerjaan selanjutnya, tentang mobil selanjutnya. Tiap jiwa mencari arti, berlari kesana kemari sepanjang waktu. Sampai pada akhirnya kita temukan kekosongan, namun kita masih tetap terus berlari.

Mengambil beberapa kalimat dari salah satu buku favorit saya:

“ Remember what I said about finding a meaningful life? Devote yourself to loving others, devote yourself to your community around you, and devote yourself to creating something that gives you purpose and meaning

Pagi berganti, kali ini matahari harus menanti. Kala itu langit berhiaskan taburan bintang kala langkah-langkah kecil mengalun diatas tanah berbatu berselimut salju. Perjalanan summit diatas 5000m, sebuah pentas tentang kesunyian abadi. Tanpa kehidupan, sepanjang mata memandang hamparan putih puncak – puncak barisan Annapurna. Kami terus berjalan diiringi mentari meninggi. Secerca kehangatan diantara suhu minus yang tidak karuan. Bingkaian mahakarya megah, keindahan lukisan misteri alam yang telah membaringkan banyak nyawa manusia. Dibalik bukit itu berdiri sebuah tanda, berkibar tumpukan ratusan prayer flag disana. Thorung la pass 5416m, salah satu pass tertinggi  di dunia. Titik tertinggi bagi tiap pribadi dari kami sejauh ini. Annpurna Himalaya, memori dalam perwujudan sebuah mimpi, tentang cerita dan makna, alunan dongeng hidup tentang ketinggian.

DCIM100GOPROGOPR8392.

Pagi berganti,

Lalu kami berjalan terpisah, melalui pagi demi pagi yang tak lagi sama, melanjutkan kisah hidup yang berbeda…

Untuk Oceane dan Annika, jiwa-jiwa seperjalanan…

Annapurna Circuit ( Gallery )

No men ever followed his genius till it misled him. Thought the result were bodily weakness, yet perhaps no one can say that the consequences were to be regretted, for those who life in conformity to higher principles. If the day and the night are such that you greet them with joy, and life emits a fragrance like flowers and sweet-scented herbs, is more elastic, more starry, more immortal, – that is your success.   All nature is your congratulation, and you have cause momentarily to bless yourself. The greatest gains and values are farthest from being appreciated. We easily come to doubt if they exist. We soon forget them. They are the highest reality . . . . The true harvest of my daily life is somewhat as intangible and indescribable as the tints of morning or evening. It is a little star-dust caught, a segment of the rainbow which I have clutched.
Henry David Thoreau, in WALDEN

 

 

Annapurna Circuit Trek (2)

Informasi singkat sepanjang trek

Route  : Ngadi – Manang – Thilicho – Thorung La Pass – Muktinath – Jomsom  & Poon hill

Durasi : 15 Hari

Memulai berjalan dari Desa Ngadi di ketinggian 920m. Naik perlahan, hari berganti, landscape berganti, suhu berganti.  Pola akan selalu sama : bangun pagi, trekking, dan menginap di Tea house berbeda tiap malam. Rata-rata trekker berjalan 5-7 jam/hari. Baik untuk dapat memulai berjalan sebelum jam 8 pagi, sebelum matahari meninggi. Perhatikan estimasi waktu, usahakan sampai di desa tujuan sebelum petang. This is not competition, berhenti berjalan dan istirahatkan tubuh sejenak jika memang sudah merasa lelah. Sampai di ketinggian lebih dari 3500m, ambil 1 atau 2 hari untuk proses aklimatisasi, penting untuk menghindari resiko AMS hingga HACE.

Sebaiknya tidak berekspektasi terlalu tinggi terhadap fasilitas seperti hot shower atau wifi di banyak penginapan. Hot shower biasanya dihasilkan dari water heater jenis gas yang entah bagaimana cerita teknisnya sehingga air yang keluar hanya di beberapa lubang dari total sekian banyak lubang yang ada di shower. Seringkali air keluar juga masih dingin. Mencapai ketinggian 4000m lebih, biasanya ada charge untuk jasa hot shower, terkadang mereka memanaskan air menggunakan tungku dapur. Saya tidak menggunakan Hp ataupun wifi selama trekking. Namun seringkali saya dengar dari trekker lain, bahwa pemilik penginapan beralasan wifi sedang bermasalah, tidak dapat dipakai hari ini. Dan sepertinya alasan yang sama dipakai setiap hari 🙂 Usahakan untuk memesan makanan sebelum tingkat lapar maksimal. Untuk membuat satu jenis menu makanan, rata-rata Tea house memerlukan waktu hampir 1 jam. Bagaimanapun, menurut saya segala keterbatasan tersebut sangatlah wajar. Mengingat Tea House maupun Hostel tersebar di lokasi yang ekstrim ini keberadaanya sudah sangat membatu para trekker.

Tulisan berikut berisi catatan singkat selama trekking Annapurna Circuit, semoga bermanfaat. Sebelum menuju catatan, boleh lihat dulu video pendek saya 🙂

Trekking Day 1

Ngadi – Ghermuphant ( Lunch ) = 4 Jam *** Ghermuphant – Jagat = 2 Jam

Landscape berupa hamparan ladang padi dan tebing-tebing dan perbukitan hijau tinggi menjulang. Jika masih punya tenaga dan waktu, dari Jagat lanjut saja ke Chamje. Ada Rainbow Guest House di Chamje, tempat bermalam dengan view Air Terjun cantik tepat di depan Guest House. Trekking day 1 dan 2 akan melelahkan karena secara umum jalur naik memanjang, banyak tanjakan-tanjakan serta anak tangga.

Trekking Day 2

Jagat – Tal ( Lunch ) = 3,5 Jam *** Tal – Dharapani = 2,5 Jam

Jalur di hari ke 2 ini menyusuri tebing yang dibelah oleh Sungai Marsyangdi. Terletak di lembah tepi sungai, dengan background air terjun di belakang desa, membuat Tal menjadi tempat yang istimewa untuk lunch. Desa lembah cantik yang diapit tebing-tebing tinggi, suara gemercik air terjun dari kejauhan mengisi waktu istirahat siang hari. Di ujung Desa Dharapani, terdapat Guest House dengan view sungai dan gunung dijendela kamar. Suara nyanyian arus sungai mengalun sepanjang malam 🙂

Trekking day 3

Dharapani – Timang ( Lunch ) = 3,5 Jam *** Timang – Chame = 2 Jam

Dari Dharapani menuju Timang, jalur melelahkan berupa anak tangga panjang naik membentang. Timang merupakan desa cantik diantara perbukitan, banyak tempat lunch memiliki rooftop mountain view. Timang – Chame trek relatif datar, akan melewati desa cantik Thanchowk dan pengecekan terekking permit ACAP di Koto. Chame merupakan Desa yang cukup besar & ramai, berbagai barang dan kebutuhan pendakian dijual disini. Jika ingin tempat bermalam yang lebih tenang, berjalanlah menuju ujung desa di seberang sungai. Setelah menyeberangi suspension bridge, ada beberapa Hostel yang dekat dengan Hot Spring.

Trekking Day 4

Chame – Dhikur Pokhari ( Lunch ) = 2,5 Jam *** Dhikur Pokhari – Upper Pisang = 1 Jam

Pada trek ini, tidak terlalu berat dan banyak waktu untuk beristirahat. Landscape juga sudah mulai terlihat berbeda dari hari – hari sebelumnya, jadi nikmati dan tidak perlu terburu – buru. Upper Pisang adalah Desa cantik dipunggung bukit, tempat yang sempurna untuk bermalam. Rekomendasi Hostel : Himalayan Hotel, berjalanlah keujung atas desa, letaknya tepat di bawah Monastri. Hostel sederhana ini memiliki view tower di halaman depan, view ajaib dari jendela kamar dan pemilik yang baik hati 🙂

Trekking Day 5

Upper Pisang – Braga ( Lunch ) = 4,5 Jam ( Take the Road ) *** Braga – Manang = 0,5 Jam

Jalur NATT dari Upper Pisang – Braga membutuhkan waktu yang jauh lebih lama dan medan berat, ditambah lagi saat itu hujan, maka kami putuskan untuk ambil jalur Jalan biasa. Itupun memakan waktu 4,5 jam padahal jalur Jalan tidak terlalu berat. Mencapai ketinggian lebih dari 3000m, kondisi tubuh terasa berbeda, ditambah kelelahan 5 hari berjalan, ditambah lagi hujan, so today all of us looks f*cked up 🙂 Di Braga, setelah lunch sempatkan untuk mengunjungi Braga Gompa. Monastri berusia lebih dari 900 tahun, jika memiliki kesempatan untuk masuk, kamu akan takjub dengan suasana yang ada di dalam sana 🙂

Manang terasa seperti Kota kecil, segala kebutuhan dapat ditemui disini. Terletak di ketinggian 3500 m, desa ini merupakan tempat persinggahan terbesar sebelum titik tertinggi Thorung La Pass. Dari mini market, bakery, laundry, bioskop mini sampai tukang reparasi sepatu semua ada. Tips di Manang: untuk makan di luar hostel, ada beberapa restoran sederhana yang harganya jauh lebih murah. Sulit untuk dapat free room di Manang karena banyak trekker yang stay disini lebih dari semalam untuk aklimatisasi sekaligus rest day. ACAP Office disini menyediakan Dokter untuk konsultasi kesehatan gratis buka tiap jam 3 sore.

Trekking Day 6 = Acclimatization Day & Rest Day

Bisa bangun lebih siang dari biasanya, berlama-lama bermalasan di kasur karena tidak ada trekking hari ini. Hal ini penting selain untuk proses aklimatisasi, juga bertujuan untuk beristirahat. Mengembalikan stamina, kondisi tubuh setelah trekking selama 5 hari beruntun. Hari ini dapat diisi dengan berbagai kegiatan menyenangkan. Jalan santai ke bukit belakang desa, disana ada Danau Ganggapurna. Bermain bersama kerumunan Yaks di lembah sungai. Berkeliling mencicipi berbagai produk bakery. Hingga nonton di bioskop mini yang memutar film-film seperti 7 Years in Tibet, The caravan, Into The Wild, Everest, dll. Well, Everybody loves acclimatization day 🙂

Trekking Day 7 = Side Trip to Tilicho Lake

Manang – Upper Shri Kharka ( Lunch ) = 4 Jam *** Upper Shri Kharka – Tilicho Basecamp = 2,5 Jam

Side trip ini akan memakan 2-3hari ekstra, walaupun begitu saya sangat menyarankan untuk ambil side trip ini. Landscape sepanjang trek sungguh istimewa, juga baik untuk adaptasi tubuh diatas 4000m. Dari Manang ambil jalur Tilicho Lake, ikuti petunjuk jalan dan tanda Putih-Biru ( Side Trail ). Menanjak secara perlahan, akan mulai terlihat landscape Tilicho dari kejauhan. Upper Shri Kharka ada 1 Teahouse, tempat lunch sempurna dengan view indah sepanjang mata memandang. Perjalanan akan berlanjut melewati Land Slide Area. Perlu diperhatikan untuk berhati-hati melangkah, jalur amat sempit dengan tanah dan bebatuan diatas rawan longsor, sedang dibawah adalah jurang tinggi berakhir di dasar sungai. Jika kondisi hujan, lebih bijak untuk menunda lewat jalur ini, tunggu hujan reda, karena terlalu beresiko.

Trekking Day 8

Tilicho Basecamp – Tilicho Lake = Cancel *** Tilicho Basecamp – Upper Shri Kharka = 2,5 Jam

Bermalam di Tilicho Basecamp kamu akan merasakan bagaimana sulitnya untuk dapat tidur lelap pada ketinggian lebih dari 4000m 🙂 Pagi harinya cuaca amat buruk, hujan disertai kabut serta salju membuat jalur menuju Tilicho Lake terlalu beresiko. Memasuki kabut, jarak pandang amat terbatas, ditambah salju dan jalur tanah,bebatuan membeku terselimuti es menjadi amat licin dan berbahaya. Kami dan para trekker lain memutuskan untuk turun kembali menuju Basecamp. Ada perasaan kecewa karena melewatkan Tilicho Lake, salah satu danau tertinggi di dunia. But this is the adventure, sometimes sh*t happen 🙂 Kami melanjutkan perjalanan dan bermalam di Upper Shri Kharka yang jauh lebih sepi dari para trekker ketimbang Lower Shri Kharka. Tidak seperti malam sebelumnya, malam ini kami dapat tidur lelap, mungkin karena proses adaptasi tubuh terhadap kondisi ketinggian.

Trekking Day 9

Shri Kharka – Yak Kharka ( Lunch )= 4 Jam *** Yak Kharka – Ledar = 1 Jam

Perjalanan dari Shri Kharka menuju Yak Kharka menghadirkan perpaduan landscape cantik Annapurna Range – Tilicho. Banyak trekker memilih Yak Kharka untuk bermalam. Yak Kharka memiliki lebih banyak opsi penginapan dibandingkan Ledar. Di Ledar terdapat 3 penginapan : 2 Hostel besar dan 1 Hostel kecil. Jika menginap di Ledar saran saya adalah untuk memilih Hostel kecil. Letaknya diantara kedua Hostel besar tersebut. Tidak terlalu banyak trekker berkumpul. Pemilik baik hati, masakannya enak pula 🙂

Trekking Day 10

Ledar – High Camp = 3 Jam

Mendekati Thorung Phedi, sudah terasa nafas yang semakin berat. Gunung-gunung berselimutkan salju tampak jelas di depan mata. Banyak trekker yang memilih untuk bermalam di Thorung Phedi ketimbang High Camp. Resikonya mereka harus memulai summit lebih pagi. Kami memutuskan untuk bermalam di High Camp. Thorung Phedi – High Camp butuh waktu kurang lebih 1 jam dengan trek menanjak tinggi. Saran saya adalah untuk bermalam di High camp, selain tidak perlu memulai summit terlalu pagi, view di High Camp juga lebih indah.

Trekking Day 11 = Summit Day

High Camp – Thorung La = 3 Jam *** Thorung La – Muktinath = 3 Jam

Penting untuk tidak memulai summit terlalu pagi, guna menghindari bahaya Frosbite hingga Hypothermia. Pada beberapa kasus, hal ini dapat berakibat fatal. Disarankan untuk tidak memulai summit dibawah jam 5 pagi. Kesulitan utama mungkin adalah suhu ekstrim dan jalur cukup licin akibat tertutup es. Disini pemilihan Jaket, Hiking Boot, hingga Gloves yang berkualitas akan terasa sangat membantu. Melangkah secara perlahan, namun konstan, atur nafas. Mencapai ketinggian 5000m, akan melewati bukit-bukit berselimut salju putih dikelilingi Annapurna Range yang tampak di depan mata. Saat matahari mulai muncul, suhu akan terasa lebih hangat ketika akhirnya sampai di titik tertinggi Thorung La Pass 5416m. Setelah prosesi bahagia keberhasilan dan foto-foto, perjalanan berlanjut dengan trek turun melelahkan selama 3 jam menuju Muktinath.

Trekking Day 12

Muktinath – Jomsom = 4 jam

Muktinath sudah seperti Kota kecil, banyak pula berdiri Hotel bertingkat yang tergolong cukup mewah jika mengingat letak desa ini di pegunungan. Muktinath memang menjadi salah satu destinasi wisata cukup populer dan banyak dikunjungi para peziarah. Jadi disini kamu akan temukan hot shower yang dapat berfungsi secara normal 🙂 Trek menuju Jomsom tidak begitu menyenangkan. Setelah melewati desa pertama, trek menyatu dengan Jalan. Para trekker berjalan menembus debu-debu tebal akibat kendaraan yang sudah sering terlihat kesana kemari. Tidak heran bila banyak juga trekker yang memilih untuk menyudahi trek di Muktinath, naik Jeep menuju Jomsom. Jika kamu masih memiliki waktu dan tenaga, lebih baik untuk lanjut berjalan dan bermalam di Marpha, desa cantik dengan nuansa klasik dan jauh lebih tenang dibandingkan Jomsom.

Trekking Day 13

Jomsom – Tatopani = 5 Jam by Bus

Banyak trekker menyudahi trek di Jomsom. Biasanya dari sini mereka naik Bus menuju Pokhara, untuk bersantai beberapa hari di kota itu. Saya ingin melanjutkan trek hingga Poon Hill, jadi saya naik Bus hingga Tatopani. Jomsom-Tatopani sebenarnya juga bisa ditempuh dengan trekking. Namun mengingat jalur trekking menyatu dengan jalan kendaraan, itu sungguh tidak menyenangkan, maka para trekker memilih menggunakan Bus hingga Tatopani. Harga tiket 1200NPR dimana tidak ada kesempatan untuk menawar. Berkendara dengan Magic Bus cukup menyenangkan, melaju berguncang di jalur bebatuan tepi jurang. Terkadang penumpang harus turun dari Bus kemudian naik lagi karena kondisi jalan juga ajaib 🙂

Trekking Day 14 = Poon Hill Trek

Tatopani – Gorephani = 7 Jam

Perjalanan dari Tatopani – Gorephani dapat dilakukan secara nyaman dalam 2 hari, atau bisa juga ditempuh 1 hari secara melelahkan. Saran saya jika kamu mempunyai waktu, pilihlah 2 hari. Dari Tatopani trekking 3 jam dan bermalam di Shirka, desa yang cukup cantik. Saya memilih untuk menyelesaikan dalam 1 hari, dimana sungguh terasa berat. Tatopani-Gorephani memiliki selisih ketinggian sekitar 1000m. Trek naik 1000m  didominasi oleh tanjakan dan banyak anak tangga sepanjang perjalanan amat menyiksa. Rekomendasi Hostel di Gorephani : Green View Hostel. Selain bisa bermalam gratis, tempatnya bersih, masakan enak, pemilik ramah dan hot shower terbaik yang saya temui sepanjang trek 🙂

Trekking Day 15

Gorephani – Poon Hill = 1 Jam ( Sunrise ) *** Gorephani – Nayapul = 7 Jam

Untuk melihat sunrise, trekker berangkat jam 5 pagi. Cukup bawa barang seperlunya, sisanya tinggalkan di kamar hostel. Trek naik menuju Pooh Hill berupa anak tangga dapat ditempuh sekitar 1 jam. Bila langit cerah, view barisan Himalaya dari Dhaulagiri, Annapurna hingga Machhapuchhre terlukis jelas didepan mata. Poon Hill trek termasuk jalur ramai dikarenakan trek tidak terlalu sulit dan dapat diselesaikan kurang dari 1 minggu. Banyak terlihat group trekker berusia diatas 50 tahun, hingga group family lengkap degan anak-anak mereka.

Selesai sunrise, kembali ke hostel untuk sarapan dan packing. Perjalanan menuju Nayapul fast gear memakan waktu 7 jam. Bila memiliki waktu lebih, akan nyaman bila ditempuh dalam 2 hari. Saya memilih untuk menyudahi dalam 1 hari. Meninggalkan Gorephani setelah sarapan, fast gear trekking tiba di Nayapul sekitar pukul 16.00. Beberapa jam terakhir cukup melelahkan berupa trek panjang turunan anak tangga dari desa satu ke desa lain. Dari Nayapul ikut bus menuju Pokhara, perjalanan sekitar 2 jam, tarif normal 100NPR. Namun pada trekking season bisa naik 2-3 kali lipat. Pokhara kota pariwisata yang cukup tenang jika dibanding Kathmandu, menjadi tujuan utama para trekker bersantai melepas lelah.

Annapurna Circuit Trek ( 1 )

Informasi Umum, Persiapan Trekking, Menuju Trailhead

Sore itu dibelakang Desa, bentangan Annapurna mengintip dari puncaknya putih pekat tertutup salju. Hari ke-7 trekking saat tiba di Manang. Desa di ketinggian 3500m, tempat pertama kali terlihat kerumunan Yak. Memasuki Kantor ACAP ( Annapurna Conservation Area Project ), selesai dengan pengecekan kelengkapan permit, mata tertuju menjelajahi lembaran-lembaran tertempel di dinding tua. Pada beberapa kertas tertulis data jumlah trekker dari seluruh Negara tahun lalu. Prancis berada di urutan pertama dengan 1709 warga negaranya, disusul Jerman dengan angka 1438. Cukup terkejut melihat Indonesia hanya tertulis angka 16. Tahun 2015, total hanya 16 WNI menapaki Annapurna Circuit.

Berbincang dengan petugas, tak lama dia mencari data di Komputernya. Di layar terlihat Indonesia dengan angka total 11. Hingga bulan Oktober tahun ini ( 2016 ) ada 11 WNI terdaftar. Mungkin hal ini yang kurang lebih menggerakan jari-jari tangan untuk membuat tulisan ini. Menulis tentang informasi umum, persiapan hingga tips sebenarnya bukan type saya. Karena tiap orang memiliki caranya sendiri dalam mempersiapkan suatu perjalanan. Annapurna Circuit merupakan salah satu jalur trekking tercantik yang ada di dunia, paling berkesan bagi saya sejauh ini. Dan hanya 11 WNI sejauh ini? Nepal tidak sejauh itu, tidak sesulit itu, tidak semahal itu. Semoga tulisan ini berguna, memberi niat, memberi gambaran awal, memberi informasi yang dibutuhkan dalam bahasa Indonesia.

– Informasi Umum

  • Waktu Berkunjung

Trekking season dimulai pertengahan bulan Oktober – November. Memulai awal oktober, selama 16 hari trekking masih saya temui 2 hari hujan gerimis. Bagaimanapun waktu terbaik untuk memulai adalah setelah pertengahan bulan Oktober. Sepanjang perjalanan cuaca cerah, langit bersih. Meskipun trekking season, tidak perlu khawatir akan terganggu keramaian. Jalur panjang memberi waktu untuk menikmati perjalanan secara pribadi. Kerumunan atau perorangan dapat dengan mudah dihindari.

Untuk Annapurna Circuit dibutuhkan kurang lebih 2 minggu jika trekker ingin memulai dari titik awal. Beberapa trekker memangkas waktu menjadi 8-10 hari dengan menyewa Jeep di awal dan akhir trek. Jalur trekking berbeda dari jalur Jeep, resiko dengan Jeep maka akan kehilangan banyak spot.

  • Uang

Seperti pada umumnya, Money Changer di Airport memiliki rate rendah. Cukup tukar $10 di Tribhuvan Airport untuk taxi menuju Thamel. Biaya Taxi Airport – Thamel adalah 600-700NPR. Tempat terbaik untuk menukar uang adalah di Thamel dengan rate 105NPR-106NPR untuk US $1 ( 30 September 2016 ). ATM di Thamel, akan dikenakan charge 500NPR sekali transaksi. Untuk berhemat, perhitungkan estimasi budget di awal, sehingga tidak perlu berkali-kali transaksi di ATM.

Sepanjang jalur Annapurna Circuit ATM hanya akan ditemui di titik Awal dan Akhir. Idenya sederhana, membawa uang secukupnya dari transakasi di Thamel. Pada beberapa buku paduan, estimasi  trekking budget US$ 20-US$25/day. Tidak perlu membawa sebanyak itu. Budget tergantung bagaimana cara kita hidup. Saat trekking saya menghabiskan US$ 10-13/day. Banyak cara untuk berhemat. Ya, saya melakukan dengan cara sederhana, tapi tetap nyaman dan tidak kelaparan 🙂

  • Kedatangan

Biaya VOA : US$ 25 untuk 15 hari, US$ 40 untuk 30 hari, US$ 100 untuk 100 hari. Foto 3×4 diperlukan. Prosesnya mudah, isi formulir dan jawab 1-2 pertanyaan formalitas. Nepal bukan Negara Xenophobia. Visa juga dapat diperpanjang di Kantor Imigrasi Kathmandu dan Pokhara. Biaya perpanjangan US$ 2/hari, namun minimal 15 hari jadi US$ 30.

  • Kathmandu

Kota terpadat di Nepal, biaya hidup di Kathmandu jauh lebih murah daripada biaya hidup saat trekking nanti. Untuk berhemat disini, cukup cari warung makan lokal, menepi dari touristic spot. Pusat aktifitas para traveller ada di Thamel. Letaknya stategis untuk mencapai titik-titik pariwisata di sekitar Kathmandu. Para trekker juga stay disni untuk persiapan permit, gear dan keperluan pendakian lain.

Rekomendasi stay: Hostel One96. Alamat : Jalan Paknajol Marg, didepan People’s Campus. Dorm room, 300NPR/night, dijamin paling murah yang bisa kalian temui disana 🙂 Saya dapat info dari teman lokal di Kathmandu. Hostel masih baru, jadi masih terawat dan tergolong bersih untuk hostel sekelasnya. Jalan kaki cukup 5menit untuk menuju Thamel.

  • Konektivitas

Untuk SIM Card lokal, ada 2 pilihan : NTC ( Nepal Telecom ) dan NCell. Informasi yang beredar NTC memiliki kemampuan koneksi yang baik selama Jalur Annapurna circuit, sedangkan NCell unggul di daerah perkotaan dan padat penduduk. Dalam hal ini saya kurang begitu perduli, karena selama trekking saya memilih untuk tidak pernah menghidupkan HP 🙂

Untuk kepentingan lain selama sebulan di Nepal, saya membeli NCell SIM Card di Thamel. Sama seperti di Indonesia, harga katu beragam. Untuk harga kartu 300NPR, berisi pulsa 255NPR dan 2700 detik Free Local Call. Untuk konfigurasi dan pemilihan paket internet lebih baik meminta bantuan langsung kepada si penjual. Foto dan pengisian data diri dibutuhkan untuk pembelian SIM Card.

-Persiapan Trekking

  • Tentang Annapurna Circuit

Pertama perlu dimengerti bahwa Jalur Trekking Annapurna Circuit sama sekali berbeda dengan Jalur Trekking ABC ( Annapurna Basecamp ). Kebanyakan WNI memilih trekking di ABC karena memakan waktu lebih singkat ( 6-7 hari ). Di ABC trekker akan melalui 1 jalur sama saat naik dan turun. Jalur itu berada diantara Annapurna dan Machhapuchre menuju Basecamp dengan titik tertinggi 4130m. Sedangkan Annapurana Circuit, jalur trekking melingkar membentang mengelilingi seluruh Annapurna Conservation Area, naik melalui distrik Manang dengan melewati titik tertinggi Thorung La Pass 5416m kemudian turun menuju distrik Muktinath. Untuk gambaran awal, dapat dilihat pada peta berikut : http://howadoor.umbra.cz/img/map/Annapurna_1_125000_150_dpi_colour.jpg

Dari tahun ke tahun jalur Annapurna Circuit telah berubah karena adanya proyek pembangunan jalan antar desa. Untuk meghindari kendaraan setelah adanya jalan antar desa, dibuatlah by pass untuk para trekker, dinamai NATT ( New Annapurna Trekking Trail ). Main trails ditandai dengan dua garis berhimpit berwarna merah-putih, dan untuk side trails ditandai warna putih-biru. Tanda tersebut biasanya terdapat di batu, pohon, atau papan petunjuk sepanjang jalur trek.

  • Penginapan dan Logistik

Annapurna Circuit disebut juga apple pie track, karena tersedia Lodge dan Tea house tiap 2-3jam. Dimana Lodge & Tea House ini menyediakan makanan dan penginapan sederhana. Tiap desa memiliki tarif menu berbeda yang sudah distandarisasi. Jadi dalam 1 desa harga makanan dan minuman hampir sama. Semakin tinggi elevasi, harga makanan minuman penginapan di tiap desa semakin tinggi.

Penting : Untuk membawa Water Purification Tablet atau Personal Water Filter. Keduanya dapat dengan mudah didapat di Thamel. Bawa botol minum, dan ambil air yang banyak tersedia di desa ataupun sungai sepanjang perjalanan. Hal ini amat membantu untuk berhemat, di trek harga air minum kemasan amat mahal. Saya lebih memilih Personal Water Filter karena tidak ada unsur kimia. Pernah saya coba air teman yang memakai Water Purification Tablet, rasa chlorine amat kuat. Kelemahan Personal Water Filter adalah tidak dapat menyaring Virus, namun sebagai orang Asia sepertinya tubuh kita tidak perlu terlalu khawatir dengan air pegunungan Himalaya 🙂 Sebagai refrensi saya memakai Lifestraw Personal Water Filter : http://lifestraw.com/products/lifestraw/

Penting : Membawa Tea Bag, Kopi, Jahe, Madu, Susu kental dsb. Harga secangkir kecil teh bisa sangat konyol mahalnya selama trekking. Apalagi setelah sampai di ketinggian lebih dari 3500m. Idenya adalah sederhana untuk memesan air panas dan membuat minuman kalian sendiri. Membawa beberapa Cereal, Snack atau buah juga ide yang bagus jika ingin lebih berhemat.

Memilih Lodge itu tergantung selera masing-masing. Saya sendiri lebih suka memilih Lodge yang tidak terlalu besar, jadi tidak terlalu banyak orang berkumpul. Asalkan tempat bersih dan pemilik tersenyum ramah di awal, sudah cukup. Tarif menginap diantara 200-400NPR.

Penting : Untuk berhemat kita bisa menawar untuk menginap secara gratis, asalkan kita nanti dinner & breakfast di tempat tersebut. Tidak semua trekker tahu tentang hal ini. Biasanya saya berbicara kepada pemilik Tea Host saat tidak ada group trekker lain, dengan mudah pemilik memberi free room tapi meminta saya untuk tidak cerita kepada group lain karena banyak dari mereka membayar untuk room. Sepanjang 16 hari trekking hanya 3 kali saya membayar untuk room, itupun karena sedang malas menawar. Di beberapa tempat saya memberi uang secara sukarela kepada pemilik guest house walaupun dapat free room. Karena keramahan mereka, ataupun sekedar karena saya suka view ajaib dari jendela kamar 🙂

  • Individual Trekker

Jalur yang cukup jelas, dan melimpahnya logistik serta penginapan membuat trekking dapat dilakukan secara mandiri tanpa Guide, Porter, ataupun Tour agency. Gambaran sederhananya, jika memakai guide atau porter, budget akan menjadi 2 kali lipat bahkan lebih. Biaya untuk guide atau porter  rata-rata 1000NPR/day. Itu belum termasuk uang makan dan biaya untuk agency mereka yang biasanya dibayar di muka. Lagipula dengan menjadi Individual Trekker kita juga tidak terpancang jadwal, waktu dan lebih leluasa bergerak.

Tidak perlu takut untuk berjalan sendiri. Dan jika berniat cari teman, nantinya kamu akan bertemu individual trekker lain dan kemudian seringkali memutuskan untuk berjalan bersama. Hari pertama di trek, saya bertemu 2 cewek eropa. Setelah tak lama ngobrol, kita memutuskan untuk jalan bersama. Tidak masalah untuk berjalan sendiri, namun jika ada teman akan terasa berbeda. Empat hari terakhir saya berjalan sendiri dan tidak ada masalah.

Sehari rata-rata trekker berjalan selama 5-7 jam selama kurun waktu 2 minggu dengan jalur naik-turun, beban di pundak, dan suhu ekstrim ketinggian bukan hal yang bisa dilakukan tanpa persiapan fisik dan mental. Memasuki ketinggian 3500m, sangat penting untuk melakukan proses aklimatisasi. Biasanya para trekker stay dua malam di Manang atau Braga, aklimatisasi sekaligus rest day. Sempat di High Camp 4900m saya lihat proses evakuasi 2 trekker Israel menggunakan helicopter, harga yang tidak murah tentunya. Pada ketinggian seperti ini, bahaya hypothermia dan AMS ( Alttitude Mountain Sickness ) dapat berakibat fatal jika tidak segera ditangani.

Penting untuk update kondisi cuaca di desa terakhir sebelum melewati titik tertinggi Thorung La 5416m. Badai salju dapat terjadi kapan saja, bahkan saat trekking season. Seperti tragedi bulan Oktober tahun 2014 lalu, puluhan trekker tewas terjebak badai salju di Thorung La. Untuk persiapan awal, berikut buku paduan yang sangat berguna, menjadi acuan hampir setiap individual trekker :

http://www.nepal-dia.de/Trekking_the_Annapurna_Circuit_with_the_new_NATT_trails_111017.pdf

Bagi yang ingin buku aslinya, dapat diperoleh dengan mudah ditiap toko buku sekitaran Thamel.

  • Gear

Peralatan yang dibawa adalah gear standard trekking tanpa tenda, tanpa cooking equip ataupun climbing equip. Penting : untuk membawa beban seringan mungkin. Percayalah, hidup akan terasa lebih mudah jika berat backpack saat trek ini kurang dari 10kg. Akan lebih baik lagi jika punya ultralight gear. Idenya adalah meminimalis bawaan, terutama pakaian. Cukup bawa beberapa saja, kita bisa cuci dan keringkan selama trekking. Bahan pakaian polyester ataupun quick dry bisa sangat membantu.

Hiking Boot harus benar nyaman di kaki. Salah memilih, kaki akan hancur, karena durasi trekking lebih dari 2 minggu. Waterproof  karena akan melewati beberapa sungai, kubangan air dan terkadang lumpur. Jenis Mid atau Ankle akan lebih safe, sol vibram juga lebih baik lagi untuk cengkraman diatas tanah atau batuan licin yang membeku.

Gunakan Jaket berisolasi, dan waterproof sehingga kehangatan tubuh terjaga sekaligus tidak perlu membawa raincoat.

Polyester Fleece berguna untuk tambahan isolasi sebelum jaket, terutama saat suhu minus. Nyaman pula dipakai tanpa jaket, untuk lapisan luar kaos saat siang hari suhu terasa panas di kulit dan melindungi tubuh dari angin.

Map yang bagus dapat dibeli di Thamel. Periksa sebelum membeli, map yang bagus berisi informasi lengkap dari mulai jarak waktu tempuh antar desa, hingga kelengkapan simbol. Harga rata-rata 300-400NPR.

Pada obat pribadi perlu untuk membawa Dexamethasone, obat untuk antisipasi AMS dan HACE. Dapat dibeli dengan mudah di Apotek sekitaran Thamel. Pelajari dosis dan ketentuan penggunaan terlebih dahulu. Harganya tidak semahal  seporsi Nasi Goreng, tapi dalam keadaan darurat bisa menyelamatkan nyawa 🙂

  • TIMS dan ACAP Permit

Dibutuhkan 2 dokumen untuk Annapurna Circuit Trek : TIMS ( Trekking information Management System ) dan ACAP ( Annapurna Conservation Area Permit ). Permit ini adalah suatu keharusan, di sepanjang trek akan nada kantor pengecekan. Biaya untuk TIMS dan ACAP, masing-masing adalah 2000NPR ( ± US$ 20 ) . Jadi total biaya untuk permit adalah 4000NPR ( ± US$ 40 ) , dan mereka hanya menerima pembayaran dalam NPR. Foto ukuran 3×4 dan pengisian data diri dibutuhkan untuk masing-masing dokumen. Proses mudah dan cepat, dapat dilakukan di Nepal Tourism Board Kathmandu, letaknya di kawasan Bhrikutimandap. Di sudut jalan Durbar Marg, dibelakang Tundikhel. Tidak sulit ditemukan, dari Thamel cukup jalan kaki 20-30 menit.

– Menuju Trailhead

Titik awal untuk memulai trek adalah Besisahar ( 760m ). Cara terbaik menuju Besisahar adalah naik  Bus langsung Jurusan Kathmandu – Besisahar. Bus berangkat tiap pagi dari Gongabu Bus Station. Dari Thamel ke Gongabu Bus Station perlu naik taxi, untuk biaya taxi Thamel-Gongabu saya kurang tahu karena waktu itu saya diantar teman lokal pake motor. Penting: Hindari booking tiket di Tour Agency sekitaran Thamel. Mereka akan menawarkan harga berkali-kali lipat, dan  Bus mereka hanya sampai Dumre. Padahal dari Dumre masih perlu ganti Bus jurusan Dumre-Besisahar. Sebagai gambaran saya ditawari tiket Kathmandu-Dumre 2000NPR, sedangkan tiket Kathmandu-Besisahar hanya seharga 600NPR jika kita beli langsung ke terminal. Malah waktu itu dapat harga 400NPR karena teman lokal yang membelikan tiket saya 🙂

Perjalanan Kathmandu-Besisahar memakan waktu 7-8 jam. Sampai di Besisahar trekker dapat memulai berjalan. Pilihan lain, dari Besisahar naik bus menuju Bhulbhule ( 790m ) atau Ngadi ( 920m ). Bagi trekker yang ingin selesai dalam 8-10 hari, dari Besisahar mereka akan menyewa Jeep untuk naik sampai Jagat ( 1290 m ). Saran saya adalah dari Besisahar naik bus sampai Bhulbhule atau Ngadi, dan memulai berjalan keesokan harinya.

Untuk informasi singkat sepanjang trek, dapat dilihat di tulisan selanjutnya : Annapurna Circuit Trek (2) 🙂

Si Tua San Juan dan Dua Raksasa Penjaga

“We never travel to the past, the building take us there”

Puerto Rico, Juni 2016

Penemuan besar, berdampak hebat bagi kehidupan umat manusia seringkali bermula dari suatu perjalanan panjang menembus batasan ruang dan waktu. Charles Darwin butuh waktu 5 tahun berlayar menjelajah dunia sebelum menemukan teori evolusi pada abad ke 19. Sebuah teori yang berpengaruh besar dalam sejarah umat manusia. Empat abad sebelumnya, Colombus yang tersesat dalam misi heroik pelayaranya untuk mencapai India, secara tidak sengaja menemukan New World. Walaupun tidak pernah mencapai India, penemuan Benua Amerika itu berpengaruh besar dalam peradaban umat manusia. Colombus menemukan dunia baru bagi bangsa Eropa untuk pemukiman baru, sumber daya dan segala kekayaan bumi baru yang dapat mengubah wajah Eropa. Ekspedisi tambahan berdatangan menuju New World, membawa bendera penaklukan dan kolonialisasi. Lahir suatu bangsa baru dibelahan Barat Amerika, dengan cepat mereka memberi dampak besar bagi tergusurnya bangsa asli, Indian.

1

Old San Juan, sebuah Kota tua di Puerto Rico, merupakan salah satu kepingan dari kisah sejarah panjang New World. Perputaran arus pada samudera Atlantik, serta arah pergerakan angin membawa kapal-kapal Eropa yang melalui pantai barat Afrika sampai di Kota ini sebelum mencapai Amerika.  Merupakan pulau besar sebagai persinggahan pertama, memiliki air, tempat berlindung dan bahan untuk perbekalan, maka Spanyol menduduki Kota ini. Spanyol membangun benteng raksasa, menyelimuti Old San Juan dengan sistem perlindungan kompleks. Foto Peta yang saya ambil berikut, terlihat bagaimana Old San Juan dilindungi oleh 2 benteng raksasa saling terhubung, Castillo San Felipe del Moro dan Castillo San Cristobal.

2

Memulai perjalanan dari selatan Kota, perlahan melangkah membelah Old San Juan untuk sampai di kedua Benteng tersebut. Terdaftar dalam UNESCO World Heritage Site, Old San Juan memiliki karateristik Kota khas Eropa. Jalanan cobblestone sempit tersebar menjadi pembagi antar blok. Bangunan dengan berbagai warna berdiri rapat antara satu sama lain. Gaya arsitektur Kota ini kental akan motif kolonial Spanyol.  Kunci keberhasilan Old San Juan sebagai salah satu destinasi populer di Karibia adalah bagaimana Kota ini mampu mempertahankan motif kolonial Spanyol tersebut dari berbagai upaya demolition sejak berdiri 500 tahun lalu.

3

4

Berjalan menyusuri Old San Juan, atmosfir Kota tua ini memberi kesan klasik beragam warna, menyenangkan. Dipadati warna warni arsitektural Spanyol, warga lokal bersahutan dengan bahasa Spanyol. Nama “San Juan” sendiri cara pengucapannya “San Huan”, seperti “Mojito” yang diucapkan dengan “Mohito”. Disini semua rambu dan petunjuk jalan dalam bahasa Spanyol yang merupakan first official language Negara ini. Berbagai Restaurant menyajikan makanan Spanyol, dan tentunya bertebaran para wanita cantik dengan kontur wajah Spanyol. Berada di Karibia namun nuansa Spanyol amat terasa.

5

Tiba diujung utara Kota, tampak Castillo San Cristobal. Merupakan sistem pertahanan terbesar yang dimiliki Spanyol di New World. “Castillo” sendiri dalam bahasa Spanyol berarti Benteng. Berdiri sejak 250 tahun lalu, bangunan ini masih terlihat massive meskipun beberapa bagian sudah hancur akibat proyek perluasan Kota Old San Juan pada masa lampau. Castillo San Cristobal terdiri dari 3 level. Masing-masing level dihubungkan dengan anak tangga dan lorong-lorong panjang. Pada level satu terdapat main plaza, aula terbuka luas, dilingkupi oleh deretan koridor. Dari level 2,  Nampak warna-warni Kota Old San Juan melukis wajah Biru Samudera Atlantik. Level ini merupakan pusat persenjataan, dulunya berderet meriam mengarah langsung ke Kapal musuh yang akan menuju Kota.

6

7

8

Level 3 merupakan area observasi, disini berkibar 3 bendera simbol perjalanan sejarah Castillo San Cristobal ; bendera Kerajaan Spanyol, Puerto Rico dan USA. Usai perang tahun 1898, USA berhasil merebut Puerto Rico dari Spanyol. Saat ini Puerto Rico merupakan Unincorporated territory, persemakmuran dari USA. Penduduk Puerto Rico memperoleh kewarganegaraan USA, Presiden USA juga merupakan Presiden mereka. Meski demikian, mereka tidak memiliki hak suara dalam pemilihan Presiden. Hal yang masih terus menjadi perdebatan, hingga kini Puerto Rico masih berjuang untuk mendapatkan hak untuk memilih Presiden mereka. Sebuah ironi nyata di Negara penganut demokrasi penuh seperti USA.

9

10.jpg

Dari Castillo San Cristobal, kira-kira dibutuhkan 10 menit dengan berjalan kaki untuk sampai ke Castillo San Felipe del Moro. Pilihan lain, pihak Kota menyediakan Free Trolley. Bentuknya terlihat seperti sepur kelinci di Indonesia, deretan gerbong terbuka. Free Trolley tersebut mengelilingi Old San Juan, dan memiliki titik perhentian tertentu, penumpang duduk manis tanpa dipungut biaya. Kendalanya mungkin dibutuhkan waktu cukup lama untuk menunggu di titik perhentian hingga Free Trolley tiba. Saya memilih berjalan kaki, dan benar kata Petugas Penjaga Benteng tadi, that’s kinda nice walk. Sepanjang perjalanan saya melewati garis bentangan benteng yang membatasi Kota dengan Samudera Atlantik. Di selatan, warna-warni pemukiman penduduk terlihat berbaris. Mendekati area Castillo San Cristobal, terlihat cemetery cantik, Cementerio Maria Magdalena de Pazzi. Kompleks Pemakaman klasik di tepi Samudera Atlantik, penuh dengan ornament dan patung-patung bertema Catholic seperti Yesus, Mother Marry, Salib, hingga Malaikat.

11

12

Padang rumput hijau luas terhampar seolah menjadi karpet sambutan selamat datang di Castillo San Felipe del Moro.  Gerombolan anak-anak berlarian bermain layang-layang, banyak juga pengunjung terduduk santai, sekedar menikmati suasana dan semilir angin laut. Atmosfer cukup ramai namun terasa damai. Memandangi layang-layang di langit biru, angin ikut menerbangkan memori sentimental menuju masa lalu. Dulu sewaktu seusia mereka, suka sekali bermain layang-layang di sawah dekat rumah saat musim angin tiba. Tidak perduli panas, lapar, PR atau omelan orang tua, memandangi layang-layang terbang melayang bersama awan menimbulkan suatu kebahagiaan tersendiri. Masa kecil, segalanya terasa begitu mudah dan sederhana. Dan menjadi dewasa, segalanya berubah menjadi terasa rumit. Atau mungkin kita sendiri yang menyusun kerumitan dalam segala kesederhanaan?. Seperti ada yang bilang, hidup itu sederhana dan biasa saja, tafsiranya saja yang luar biasa.

13

Salah satu hal yang saya cintai dari solo travelling. Bagaimana kita dapat menciptakan sebuah dimensi ruang dan waktu untuk diri sendiri. Tanpa ada gangguan, tanpa opini, tanpa pretensi. Bahkan untuk sekedar menghabiskan waktu memandangi anak-anak bermain layang-layang.

14

“El Moro” adalah julukan dari penduduk setempat untuk Benteng raksasa satu ini. Memasuki Castillo San Felipe del Moro, atmosfirnya tidak jauh berbeda dari Castillo San Cristobal. Perbedaan yang cukup terlihat adalah El Moro tidak hanya tersusun dari 3 level, namun memiliki 6 level. Sebuah karya besar, menghabiskan waktu kurang lebih 80 tahun dalam proses pembangunanya. Menyusuri berbagai sudut tempat ini membawa imajenasi terkagum akan sebuah kemegahan, kegagahan bangunan buatan manusia dengan segala keterbatasan teknologi masa pada lampau.

15

16.jpg

17.jpg

Old San Juan, si tua berselimutkan atmosfir klasik Spanyol. Dua Raksasa penjaganya melengkapi saksi sebuah sejarah yang melantunkan lagu lama tentang pergerakan peradaban umat manusia. Mengalun lamban menembus jaman menyuguhkan segala keunikannya bagi para pengembara.

Renungan Para Penderita Krisis Eksistensialisme

“Free souls is rare, but you’ll feel it when you meet them”

Kamboja, Januari 2015

Berisik kicauan babi-babi lapar di lantai bawah menjadi alarm pembuka mata. Seperti pagi-pagi sebelumnya. Membongkar sleeping bag sembari duduk termenung dilantai, head seat saya sumpalkan ditelinga “…the answer my friend, is blowing in the wind, the answer is blowing in the wind”, untaian nada dari Bob Dylan mengalun menemani saya mengumpulkan nyawa. Di bentangan lantai kayu lebar ini volunteer lain juga sudah sibuk dengan ritual pagi mereka masing-masing seperti biasanya . Julia, traveler asal Jerman melipat-lipat tubuhnya diatas matras, yoga di pagi hari. Louis dari Prancis masih dengan laptop dipangkuanya. Dua traveler dari Polandia nampak berkeringat dengan senam pagi mereka. Volunteer lain masih berserakan terlelap pulas, beberapa sudah pergi ke pasar mencari sesuatu untuk dimakan.

IMG_20150101_165322

Hari ini Kim meminta kami untuk memulai mengubah lahan gersang dihalaman depan, menjadikannya pekarangan tanaman morning glory. Menyandang disabilitas, memiliki kelainan pertumbuhan dan duduk diatas kursi roda, tidak menghalangi Kim untuk menjalankan organisasi ini. Carrying Poor and Orphaned Children ( CPOC ) sesuai namanya, adalah NGO di Kamboja yang bergerak dibidang kemanusiaan. Letaknya di desa Phrey Nheak, Samrong Distric, Provinsi Takeo. Selain sebagai tempat asuh anak yatim piatu, ada pula kelas kursus bahasa inggris dan komputer bagi anak-anak desa setempat.

Semua volunteer adalah para traveler yang sedang berkunjung ke Kamboja. Sebagian besar berasal dari berbagai Negara Eropa dan Amerika. Mereka yang datang biasanya memperoleh informasi dari situs macam Workaway, Helpx atau Couchsurfing. Volunteer dapat membantu operasinal sehari –hari, seperti mengajar kelas kursus bahasa inggris, memasak, cleaning, atau mengerjakan berbagai project. Seperti misalnya project hari ini menggarap lahan kering didepan.

Dimulai dari mencangkul, meracik pupuk campuran kotoran babi, sampai menanam biji morning glory akan diperlukan waktu beberapa hari. Selalu bekerja bersama setiap hari membuat para volunteer semakin mengenal satu sama lain. Memang tidak banyak volunteer yang tinggal disini dalam kurun waktu lebih dari empat hari. Namun demikian ada beberapa betah tinggal, seperti Louis sudah lebih dari satu bulan, atau Arnold, Julia dan saya yang sudah hampir dua minggu disini.

10603547_10152474542861739_1704554046169479488_n

Tempat ini tidak memiliki fasilitas nyaman seperti kasur tebal, AC, TV layar lebar atau makanan berlimpah. Sumber donasi utama dari sukarelawan asing hanya cukup untuk operasional sehari-hari. Sepeda ontel merupakan satu-satunya barang mewah yang dimiliki anak-anak panti, dipakai untuk pergi ke sekolah. Pernah saya diajak Wid bersepeda untuk mengunjungi sekolah mereka. Setiap hari Wid juga anak panti lainnya melewati jalur ini, jalan tanah berdebu lurus membelah desa-desa dan sawah. Di dalam bangunan tua itu, mereka semua terlihat sama, duduk dengan seragam kucel dan sandal jepit di kaki.

DSC03003

Sepulang sekolah, anak-anak menuju dapur membantu Kim dan volunteer memasak makan siang. Kebanyakan dari anak panti masih duduk di bangku SD. Dan hidup tanpa orang tua membuat mereka melakukan segala sesuatu sendiri dari memasak sampai mencuci, hidup mandiri. Menu wajib makan siang sehari-hari adalah sayur sup dan nasi. Meja makan digelar, supaya semua kebagian, satu mangkok sup harus dibagi untuk dua orang. Sesekali volunteer dengan sukarela membeli bahan makanan lain dipasar, seperti daging atau buah-buahan untuk kemudian dimakan bersama.

DSC03060

Waktu istirahat disiang hari volunteer bebas mengisi waktu mereka, beberapa sibuk dengan buku masing-masing. Mudah menemukan teman yang click disini, terkadang waktu membaca malah menjadi sebuah forum diskusi buku tentang novel, sejarah sampai filsafat. Saat matahari sudah tidak terlalu menyengat kami melanjutkan project, beberapa mengajar di kelas kursus bahasa inggris. Di seberang jalan ada sebuah toko kecil menjual makanan dan minuman, saat malam tiba biasanya para volunteer berkumpul disana. Beer lokal disini murah, seharga 2000 Riel per kaleng, itu senilai Rp 6000. Dan dimulailah konfrensi itu. Sambil lebih mengenal satu sama lain, segala topik tentang dunia dibahas disini, mulai dari share pengalaman traveling sampai perdebatan konyol tentang minuman bersoda.

10928586_10152483382791739_486449096_n

Suatu hari Louis mengajak para volunteer untuk patungan menyewa mobil, membawa anak-anak panti liburan ke Pantai Kampot. Seumur hidup, anak-anak panti belum pernah melihat pantai. Hari itu mereka amat antusias, wajah mereka bersinar, bahagia menikmati pantai Kampot yang sebenarnya tampak biasa saja. Berlarian bebas, bergulingan di pasir, berenang penuh canda. Ya, hari itu sangat istimewa bagi mereka, tidak seperti hari-hari biasanya yang diisi dengan mangkuk sup dan tawa kayuhan sepeda.

10850153_633924016733078_3373417193031169915_n

“ This place remain me that we don’t need much to life”, kata Julia. Mungkin semua hal itu yang membuat kami betah, tentang kesederhanaan, kebahagiaan dan kebersamaan. Suatu pengalaman authentic, merasakan bagaimana hidup mereka membuat kami melihat kedalam, untuk lebih mengapresiasi hidup ini. Julia, seperti halnya saya dan volunteer lain disini memiliki latar belakang cerita sama. Kami semua memulai perjalanan dari Negara-negara berbeda di Asia tenggara, sebelum dipertemukan disini. Quit from our job, buy one way ticket, have no plan and have no idea when we will come back home.

Kenapa? entahlah. Mungkin karena kami sesama penderita krisis eksistensialisme. Titik dalam hidup di mana manusia menghadapi absurd sebagai lawan tangguh. Pernahkah kamu mengalami fase dihadapkan berbagai pertanyaan mendasar seperti apa artinya hidup? apa tujuan saya? apa yang saya cari? mengapa saya tidak bahagia dengan semua yang ada?. Fase itu bisa datang kapan saja, terlebih ditunjang rutinitas dan kehidupan dengan pola sama. Arnold dari Canada, Paul dari Spanyol dan Bono dari Jerman termasuk volunteer  yang bukan twenties disini, usia mereka sudah 30-an. David dari USA lebih tua lagi, mantan SEAL yang pernah disekap Taliban itu sudah berusia 50-an. Mereka berasal dari Negara kaya, hidup mereka nyaman dari hasil kerja bertahun-tahun, pacar, teman, keluarga, segala hal berjalan baik, nothing wrong. Sampai kemudian fase itu datang, sebuah titik balik, kini sudah hampir setahun sejak mereka meninggalkan rumah.

Melakukan perjalanan, merenungi kehidupan terdahulu, mencari jawaban baru akan hidup dalam segala ketidakpastian. Aneh bukan? ini adalah suatu hal personal, tidak semua orang memiliki pertanyaan sama, dan tidak semua orang mau dan menggali kedalam untuk bertanya. Berbahagialah mereka yang tidak mengalami krisis ekstensialisme itu. Menemukan kebahagiaan dan segala kebutuhan jawaban akan hidup dalam siklus wajar kehidupan normal. Sekolah, bekerja, bayar tagihan mobil dan rumah, menikah, that’s it. Dan tidak ada yang salah dengan itu semua. Setiap orang bebas menentukan hidup mereka, bukan pada ukuran yang dibuat orang lain. Sebab kita bukan orang lain, kita adalah diri kita.

Søren Aabye Kierkegaard adalah seorang filsuf dan teolog dari Denmark. Inti pemikirannya adalah eksistensi manusia bukanlah sesuatu yang statis tetapi senantiasa menjadi, manusia selalu bergerak dari kemungkinan menuju suatu kenyataan, dari cita-cita, mimpi menuju kenyataan hidup saat ini. Saya sependapat dengan Kierkegaard yang menekankan harus ada keberanian dari manusia untuk mewujudkan apa yang ia cita-citakan, mimpinya atau apa yang ia anggap kemungkinan.

Alan Watts lain lagi, filsuf Inggris itu berpendapat, the meaning of life is being just to be alive, it’s so plain and obvious and simple. And yet, everybody rushes around in a great panic as if it were necessary to achieve something beyond themselves. Terlepas dari itu semua, tentang nanti menjadi sesuatu atau tidak, tentang ada jawaban atau tidak, menurut saya keberanian untuk berproses menjadi hal penting saat ini. Proses bergerak untuk menuju suatu kenyataan, proses untuk menjadi. Untuk berani melakukan apa yang kita cintai, untuk mengikuti passion hidup kita. Dan bagi saya, membuka diri dengan dunia luar adalah sebuah proses yang saya cintai. Sebagai sebuah ladang untuk tumbuh berkembang, memperluas kemungkinan jawaban akan semua pertanyaan.

10868094_10152489009266739_1501137982201144996_n

Tulisan ini dimuat di Online Travel Magazine Phinemo, Edisi 29 Agustus 2016

Link : http://story.phinemo.com/renungan-para-penderita-krisis-eksistensialisme/

Sebuah Anomali di Atlantik Utara

“Travelling has a way bringing things into perspective”

Bermuda, Mei 2016

Quo fata ferunt, bahasa latin dengan terjemahan: kemana takdir membawa kami . Kalimat tersebut adalah motto dari Negara Bermuda. Motto yang sesuai, pikir saya. Ada kesan sedikit pasrah dalam kalimat tersebut. Bagaimana tidak, sebagai Negara kecil antah berantah tanpa tetangga, terisolasi di Atlantik utara, jauh dari hiruk pikuk dunia, rasa-rasanya kesan pasrah kepada takdir tersebut bisa dimaklumi.

Mitos Segitiga Bermuda bahkan lebih dikenal penduduk bumi daripada Negara Bermuda itu sendiri. Ironisnya fakta membuktikan bahwa segala mitos tersebut merupakan hasil produk semu media massa. Riset mendalam tentang Segitiga Bermuda dalam buku The Bermuda Triangle Mystery : Solved tahun 1975, membuktikan bahwa kasus kecelakaan baik itu kapal, pesawat yang hilang di zona Segitiga Bermuda jumlahnya masih dalam kategori “normal” dalam zona dimana tropical cyclones dan hurricane sering terjadi. Data tahun 2013 dari WWF ( World Wide Fund for Nature )  tentang 10 most accident prone ocean areas in the world for shipping juga menunjukkan Segitiga Bermuda tidak masuk dalam data tersebut.

Dan status isolasi, antah berantah itu menjadi katalis, meningkatkan kadar rasa ingin tahu untuk mengenal Bermuda secara langsung. Sulit membayangkan bagaimana rupa Negara mungil yang terpisah dari berbagai benua, jauh menyendiri ditengah samudera. Tulisan ini mewakili sepintas tentang Bermuda di mata saya. Setelah beberapa kali hidup memberikan kesempatan untuk menapakkan kaki disini. Negara yang populasinya bahkan tidak sampai 2% dari jumlah populasi penduduk Jakarta.

Royal Naval Dockyard adalah gerbang utama bagi para tourist yang berkunjung ke Bermuda via cruise line. Dari titik ini transportasi mulai taxi, minibus, bus, ferry sampai scooter rental tersedia lengkap. Saya menuju Tourism information untuk mengambil free map. Terkadang kita dapat menilai level pengelolaan pariwisata suatu tempat dari free map mereka. Kali ini, salah satu terbaik yang pernah saya dapat. Konten lengkap, gambar simple tanpa mengurangi informasi, detail untuk spot penting, dan tidak ada iklan disana sini. Tercantum juga informasi transportasi, lengkap dengan schedule dan tarif dari masing-masing sarana. Lembaran lebar dikemas sedemikian rupa dalam lipatan kecil seukuran saku, praktis.

Royal Naval Dockyard
Royal Naval Dockyard

Southampton Parish merupakan salah satu dari total 9 Parish yang dimiliki Bermuda. Parish adalah nama sistem pembagian wilayah, divisi administrasif, digunakan oleh semua Negara Britania raya. Dari Dockyard, jarak tempuhnya 15 menit untuk sampai di Southampton Parish via minibus dengan tarif US $7. Taxi akan mematok biaya US $30 untuk jarak sama. Apalagi untuk scooter rental, harga sewa  US $86 per 12 jam. Tarif transportasi di Bermuda tergolong tinggi. Tidak hanya harga bahan bakar minyak saja yang mahal, secara umum biaya hidup disini bahkan lebih mahal dibandingkan di USA. Karena tidak adanya sumber daya alam memadahi, sebagian besar kebutuhan hidup di Bermuda diperoleh dari hasil import.  Dan letak geografis Bermuda yang terisolasi mengakibatkan biaya proses import tinggi, hasilnya produk output dengan harga tinggi.

Sampai di Southampton Parish, saya menuju Gibbs Hill Lighthouse. Sebuah mercusuar tua, dibangun tahun 1846 di Gibbs Hill, bukit tertinggi di Bermuda. Menaiki 185 anak tangga menuju puncak mercusuar, view 360o dari Negara ini terlihat jelas. Bentuk pulau Bermuda tampak atas memang terlihat seperti fish hook. Biru air laut membingkai hamparan pulau dan warna-warni pemukiman penduduk. Ciri khas dari arsitektur rumah penduduk adalah atap berwarna putih, terbuat dari semen dan batu kapur. Atap-atap tersebut dilengkapi cerobong yang berfungsi untuk menampung air hujan. Karena tidak banyak sumber air disini, air hujan menjadi alternatif umum.

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Berjalan secara acak di Southampton Parish. Lingkungan amat bersih, rumput hijau dicukur rutin, terlihat jauh lebih rapi daripada rambut saya. Pemukiman penduduk tertata sedemikian rupa, namun terlihat sepi pada jam kerja seperti ini. Tingkat pengangguran di Bermuda memang sangat rendah. Salah satu gambaran tentang bagaimana majunya Negara ini. Berjalan menuju jalan utama, semilir angin laut makin terasa. Hembusan ketenangan tempat ini. Sepanjang kaki melangkah terlihat pantai-pantai cantik di kejauhan. Di sebuah taman, seorang penduduk lokal duduk berhadapan dengan laut. Keindahan, kedamaian, kemapanan, pemerintahan, sampai cerita tentang mahalnya biaya hidup disini mengisi percakapan kami siang itu.

Jpeg

DSCN0096

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Salah satu pantai di Southampton Parish yang ramai dikunjungi adalah Horseshoe bay.  Sesuai namanya, garis pantai panjang membentang cekung seperti tapal kuda dilihat dari salah satu puncak bukit karang. Bukit-bukit karang tersebar menjadi pelengkap sian air laut dan putih pasir halus di pantai ini. Pantai yang cukup sibuk, namun tetap bersih, juga nuansa alami dipertahankan. Meskipun free entry , fasilitas seperti restroom luas sampai lifeguard tersedia. Tidak ada penjual souvenir atau minuman berkeliling kesana kemari, privasi pengunjung untuk bisa menikmati pantai diperhatikan dengan serius. Salah satu pantai tenar di Bermuda, juga cerminan matangnya pengelolaan pariwisata Negara ini.

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Pada suatu kesempatan lain di Bermuda, saya mengunjungi Ibu Kota Negara, Hamilton. Dari Dockyard dibutuhkan waktu 20 menit via ferry untuk sampai di Hamilton. Pemandangan cantik sepanjang perjalanan berupa rumah-rumah estetik menghiasi hamparan pulau-pulau kecil. Berbagai Mini boat sampai Yatch terparkir di halaman rumah : laut. Sebuah konsep tempat tinggal istimewa, kemewahan berpadu dengan alam.

DSCN0216

Jpeg

Sebagai one of the smallest of any capital city, jalan kaki adalah cara paling mudah murah untuk berkeliling di Hamilton. Untuk kategori sebuah Ibu Kota Negara, Hamilton terasa tidak begitu padat. Cukup sibuk namun tidak semrawut. Jalan aspal sempit menjadi garis pembagi antar wilayah. Lalu lintas terlihat cukup lenggang, sidewalk disibukkan oleh para tourist. Sesekali bangunan tinggi terlihat diantara warna-warni bangunan perkantoran dan toko. Hal lain yang menarik adalah bagaimana Ibu Kota mungil ini memiliki 5 Taman Kota. Bisa dibilang cukup banyak taman untuk sebuah Kota  yang bisa dikelilingi hanya dengan  berjalan kaki. Tidak hanya tata Kota dan kebersihannya saja, aspek lain seperti Taman Kota amat diperhatikan di Negara maju seperti Bermuda.

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Queen Elizabeth Park
Queen Elizabeth Park

Kawasan sekitaran Front Street sebagai gerbang utama dipadati berbagai restaurant, bar, toko souvernir dll. Tidak jauh dari deretan tersebut, berdiri The Cabinet Building dan Bemuda Cenotaph. Cenotaph merupakan bangunan memorial diperuntukkan bagi mereka yang gugur  untuk Bermuda pada World War I dan World War II. Pada Cenotaph terdapat nama-nama para pejuang, juga tiga bendera Royal Navy, Royal Air Force dan British Army.  Selama World War I dan II, Bermuda merupakan anggota Britania Raya berperan sebagai pangkalan militer karena lokasinya di rute pelayaran utama trans-Atlantik.

Front Street
Front Street
Bermuda Cenotaph
Bermuda Cenotaph

Menyusuri Queen Street sampai Church Street berdiri Historical Society Museum, City Hall & Arts Centre, dan Cathedral of the Most Holy Trinity. Cathedral tua dengan gaya arsitektur Gothic Revival tersebut memberi suatu kesan klasik ditengah modernitas Hamilton. Pemandangan klasik lain dari Kota ini adalah bagaimana Officer Kota dan sebagian penduduk masih mengenakan kaos kaki berwarna setinggi lutut, dipadu dengan celana pendek ciri khas lawas Britania Raya. Beberapa menit melangkah, dapat dijumpai bangunan dengan gaya arsitektur unik lainnya, Sessions House. Rumah bagi para politikus. Kalau di Indonesia, Sessions House mungkin bisa diumpamakan seperti Gedung DPR MPR di Jakarta.

Historical Society Museum
Historical Society Museum
Cathedral of The Most Holy Trinity
Cathedral of The Most Holy Trinity
City Hall & Arts Center
City Hall & Arts Center
Session House
Session House

Diujung timur, tepat sebelum perbatasan Kota, terdapat Fort Hamilton. Sebuah benteng tua dibangun pada 1870 untuk melindungi Hamilton Harbor. Dari waktu ke waktu, Fort Hamilton telah kehilangan fungsi signifikan sebagai benteng. Bahkan sempat menjadi tempat pembuangan sampah. Sampai kemudian George Ogden, seorang Park Superintendent mengubah wajah benteng menjadi taman cantik. Parit lebar ditanami berbagai jenis tanaman. Rumput hijau segar tercukur rapi menyelimuti seluruh permukaan benteng dan lorong-lorong tua. Wujud kompleks taman ini membawa ingatan saya pada Telletubies. Karena rumah Telletubies ini terletak diatas bukit, view Kota Hamilton dan sekitarnya dapat dilihat dari sini. Duduk di sebuah bangku taman, berhadapan dengan wajah Hamilton, bisik Kota sayup terdengar terselimuti kicauan burung dan suara pepohonan dihembus angin.

Jpeg

DSCN0186

DSCN0184

Meski tidak mempunyai otak, ubur-ubur mampu bertahan dari seleksi alam di bumi selama 650 juta tahun. Seperti Bermuda, letak terisolasi, tanpa sumber daya alam cukup, bahkan sampai harus menampung air hujan, namun Negara ini mempunyai peradaban amat mapan. Bermuda adalah suatu anomali di Atlantik utara. Terkadang semesta memang mempunyai caranya sendiri dalam memutar roda samsara. Melangkah, mengenal segala keunikan, keindahan, kedamaian, kemapanan peradaban sebuah Negara  antah berantah di Atlantik utara ini menjadi cerita tersendiri dalam rangkaian catatan perjalanan. Sekali lagi, dan akan selalu bahwa suatu perjalanan memberikan sudut pandang nyata akan beragam warna dari semesta.

Untuk Jeje, my travel buddy yang baru saja memulai hidup berumah tangga. Maaf tidak bisa datang, cuma ini kado dari saya. Jangan tanya kapan nyusul nikah, jawabannya sama rumitnya kalau saya tanya balik kapan nyusul kesini. Semoga berbahagia.

Dua Titik Kecil di Karibia

“I would rather own little and see the world, than to own the world and see little of it”

Saint Kitts and Nevis, April 2016

Tahukah kamu dimana letak Negara Saint Kitts and Nevis di peta dunia? Bisa jadi sebagian besar penduduk bumi tidak tahu kalau Negara ini ada. Termasuk juga saya sebelumnya. Berbulan-bulan mengelilingi Negara-negara Karibia, saya berkesempatan untuk sedikit mengenal Saint Kitts and Nevis. Negara terkecil dalam luas wilayah dan jumlah penduduk di Benua Amerika.

Sesuai dengan nama Saint Kitts and Nevis, Negara ini terdiri dari 2 pulau. Saint Kitts pulau bentuknya oval sepanjang 37 km dengan lebar 8 km, dan pulau Nevis disebelah tenggara yang lebih sempit. Uniknya dikedua pulau tersebut sama-sama memiliki gunung berapi yang tampak menjulang tinggi. Sebenarnya Gunung Liamuga di Saint Kitts ‘hanya’ setinggi 1,156 m. Namun karena dimensi pulau yang juga tidak luas , ditambah letaknya tidak jauh dari laut, membuat gunung itu tampak menjulang memadati pulau. Gunung Liamuga gagah berdiri menyambut saya yang tiba di Basseterre. Merupakan Ibukota Negara sekaligus Kota terbesar, Basseterre merupakan Kota pelabuhan gerbang utama para traveller saat memasuki Negara ini.

Jpeg

Basseterre seperti layaknya Kota-kota pariwisata di Karibia, penuh dengan aktifitas tourist dan keseharian penduduk lokal. Berbagai pusat shopping, berbagai restaurant dari mulai Carribean restaurant, Western, Fast food ala Amerika sampai Chinese restaurant tersebar diberbagai sudut. Yang menarik disini bagi saya adalah arsitektur unik pemukiman penduduk. Penjajahan panjang Prancis dan Inggris di masa lampau saat ini menyisakan penduduk Saint Kitts yang mayoritas merupakan keturunan budak dari Afrika. Dikarenakan padatnya kota, hampir semua rumah mereka berdesakan tanpa halaman, tersusun lebih dari 1 lantai. Rumah-rumah khas Karibia tersebut kaya akan warna, berderet rapi disepanjang sempitnya jalanan perkotaan. Meskipun tampak padat, namun tata kota dan kebersihan yang sedemikian rupa membuat para wisatawan betah memilih menjelajah Kota dengan berjalan kaki.

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Salah satu bangunan bersejarah peninggalan kolonial Inggris di Basseterre adalah Gereja Anglikan Saint George. Aliran Anglikan sendiri merupakan Gereja yang menerapkan tradisi liturgis dan konsep teologis Gereja Inggris. Bersifat Katolik namun juga reformatoris. Bisa dibilang gereja yang mewakili Katolisisme tanpa Paus, juga Protestanisme tanpa Luther. Sejak pertama kali dibangun tahun 1670, Gereja ini sudah berulang kali mengalami renovasi dikarenakan kerusakan dari berbagai bencana alam seperti gempa, badai, sampai kebakaran. Kombinasi arsitektural Romanesque dan Gothic, dengan tembok luar tersusun dari batuan andesit dan atap dari batu tulis, membuat Gereja ini terlihat tampak begitu berbeda diantara bangunan disekitarnya.

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Ketenangan serta kesan klasik yang mendalam di dalam Gereja ini memberi jeda waktu kontemplasi tersendiri ditengah kesibukan Basseterre diluar sana. Setelah menaiki tangga melingkar nan sempit di menara lonceng gereja, saya dihadapkan dengan view 360o Kota Basseterre. Dari puncak menara ini tampak jelas Gunung Liamuga begitu cantik, punggungnya yang diselimuti awan, serta kerumunan pemukiman tersebar di kakinya. Di kejauhan terlihat juga pulau Nevis, ditandai dengan Gunung Nevis Peak yang tertutup awan dipuncaknya.

Jpeg

Jpeg

Untuk melihat lebih dekat kehidupan penduduk diluar Ibukota, saya beranjak ke kota-kota kecil yang tersebar di Negara ini. Meninggalkan Basseterre, jalanan aspal semakin sempit dan tidak rata. Diluar Ibukota tidak ada lampu rambu lalu lintas. Semakin menuju jantung pulau meninggalkan bibir pantai, tidak banyak kendaraan yang berlalu-lalang. Jarak dari satu kota ke kota kecil atau pedesaan lainnya tidaklah begitu jauh. Pemandangan yang dominan adalah padang rumput kecoklatan, dan ladang pertanian dengan latar belakang perbukitan Gunung Liamuga. Mayoritas penduduk Saint Kitts hidup di kota-kota kecil dan pedesaan. Menggantungkan hidup dari pertanian dan mereka hidup secara sederhana. Perbedaan yang sangat mencolok jika dibandingkan dengan atmosfir Bassetere. Ibukota memang seringkali merupakan wajah penuh make up dari suatu Negara.

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Sebenarnya Negara ini pernah berjaya di masa penjajahan Inggris. Setelah peperangan panjang abad 17 melawan Prancis, Inggris berhasil mengambil alih Negara ini. Pada masa itu, tepatnya tahun 1727 Saint Kitts and Nevis menjadi Negara nomor satu penghasil gula di Karibia. Kemunduran ekonomi dimulai pada era 1980an dikarenakan jatuhnya harga gula dunia, ditambah pesaing dari Negara lain mulai bermunculan. Pemerintah kemudian beralih untuk mempromosikan Saint Kitts and Nevis di sektor pariwisata. Hingga kini industri pariwisata merupakan tulang punggung Negara ini. Meskipun saat ini Negara ini masih merupakan salah satu Negara dengan GDP ( Gross Domestic Product ) rendah diantara Negara Karibia lainnya, perlahan Saint Kitts and Nevis mencoba membangun kejayaan masa lalu.

Jpeg

Caribbean Dolls

Jpeg

Menurut saya Saint Kitts dan Nevis memberi warna tersendiri di kawasan Karibia. Memang pariwisata Negara ini tidak semapan dan se-spektakuler seperti Negara Karibia lain macam Bahama, Bermuda, Grand Cayman, Saint Martin atau US Virgin Island. Dari mulai pengelolaan, fasilitas juga objek pariwisata yang ada, Saint Kitts and Nevis masih jauh dibawah Negara-negara tetangganya itu. Namun dimata saya, justru hal tersebut yang menjadi keunikan tersendiri. Gambaran kehidupan Negara dunia ketiga yang masih cukup mentah dan alami di Karibia dapat ditemukan disini. Negara dengan dua pulau mungil, dua titik kecil dengan dua puncaknya ditengah luasnya Lautan Karibia.

Jpeg