Tag Archives: Amerika Serikat

Mengenal Aeronautika Lewat NASA

“I would rather be a superb meteor, every atom of me in magnificent glow, than a sleepy and permanent planet“

Jpeg

USA, Maret 2017

Ruang gelap ini bentuknya asing, mirip cerebro-nya Professor Xavier di film-film X-Men. Seluruh permukaan konveks merupakan layar 3D, visualisasi kualitas tinggi tampaknya,hingga saya dan para pengunjung lain merasa seperti benar-benar di dalam sebuah Space Shuttle NASA yang siap melaju ke luar angkasa. Beberapa menit lagi, kami siap meninggalkan bumi. Setelah suara gemuruh peluncuran, daratan terlihat makin mengecil diantara langit biru, berputar menembus atmosfir hingga dibawah sana terlihat wujud aktual bumi. Benar kata para penjelajah antariksa, bahwa bumi ini terlihat begitu indah dari luar sana. Lingkaran biru bercahaya terang, terselimuti balutan putih samar atmosfir, gambaran sempurna dari kehidupan di dalamnya.

Shuttle launch experience 3D simulation tadi salah satu hal berkesan saat mengunjungi NASA Kennedy Space Center, Florida. Pusat aktivitas para pengunjung adalah di Visitor Complex. Tempat ini terdiri dari beberapa “wahana”, Space Shuttle Atlantis salah satunya. Merupakan rumah bagi Atlantis Space Shuttle. Setelah rekor total 203 juta km menjelajah luar angkasa selama masa aktifnya ( setara dengan 525 kali jarak bumi-bulan ), Atlantis diistirahatkan disini. Pengunjung dapat menatap secara langsung tiap detail dari salah satu ikon NASA ini. Atlantis dalam fungsinya sebagai shuttle luar angkasa, telah banyak membawa crew dan perangkat hingga menghasilkan data-data penting bagi NASA selama 11 kali misi menjelajah galaksi.

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Masih di satu atap yang sama, ada International Space Station Gallery. Dimana pengunjung dapat mengenal seluk beluk aeronautika yang berhubungan dengan NASA. Mulai dari hal sederhana seperti tempat tidur astronaut , bagaimana astronaut makan, replika ruang kendali pesawat, hingga penjelasan cukup detail tentang berbagai peralatan buatan NASA yang menunjang aktivitas para astronaut mereka saat bertahan hidup di luar angkasa.

p_20170307_030747.jpg

Jpeg

p_20170307_030647.jpg

Jpeg

p_20170307_030025.jpg

Jpeg

Jpeg

Analogi sederhananya mungkin Kennedy Space Center Visitor Complex ini seperti Taman Mini-nya NASA. Area luas dimana terdapat berbagai “wahana” yang kalau dikunjungi satu per satu akan memakan waktu seharian penuh. Ada Journey to Mars , menjelajah Mars ala-ala film Interstellar dan berbagai exhibits tentang  Mars. Hero and Legends, tempat mengenal para pahlawan NASA dalam berbagai misi. Imax Theatre, bioskop menampilkan film-film 3D bertemakan Planet dan berbagai proyek NASA. Rocket Garden, komplek taman dihiasi berbagai roket buatan NASA.

Jpeg

P_20170307_020937.jpg

p_20170307_022049.jpg

Jpeg

p_20170307_021206.jpg

Jpeg

Untuk membawa pengunjung mengenal seluruh area NASA KSC ( Kennedy Space Center ) , Visitor Complex menyediakan fasilitas Bus Tour. Duduk manis di dalam bus untuk dipandu mengenal beberapa titik penting dari total 700 fasilitas NASA KSC yang tidak dibuka untuk publik. Area seluas 570 km2 ini terletak di Merrit Island, ujung tenggara Florida, sebuah pulau kecil ditepi Samudera Atlantik. Hal yang cukup menarik dimana sebagian besar area masih terlihat alami. Hutan hijau lebat menghidupi berbagai satwa liar. Beberapa kali terlihat buaya berjemur kaku ditepian sungai, kura-kura berlumut mengapung malas, tarian bebek-bebek liar, hingga lamunan elang disarangnya. Pastinya ada motif tertentu bagaimana sebuah pusat penelitian sekelas NASA memilih area yang cukup “ mentah “ ini. Bagaimanapun, hingga kini dari total 10 Field Centers NASA yang tersebar di USA, KSC merupakan salah satu yang paling populer karena adanya fasilitas publik seperti Visitor complex.

Jpeg

Vehicle Assembly Building ( VAB ), lokasi pertama yang kami tuju . Penjelasan sederhananya, VAB ini merupakan bengkel utamanya NASA, tempat perakitan “kendaraan” luar angkasa mereka. Tampilan arsitektur VAB dari luar tampak biasa saja, sebuah kotak raksasa polos. Seperti kardus kado ulang tahun yang hanya ditempeli bendera USA dan logo NASA, tanpa bungkus warna-warni, tanpa dekorasi. Seolah wujud dari efektifitas dan kekakuan yang “engineer banget”. Entah teknologi apa saja yang ada di dalam kardus kado itu. Mengingat berbagai produk legendaris seperti Saturn V, roket yang mengantar Amstrong main ke Bulan juga dirakit disini. Fakta menarik lain, VAB merupakan bangunan terluas ke-4 di dunia berdasarkan volume.

Jpeg

Launch Complex ( LC ) 39 merupakan lokasi berikutnya, adalah tempat peluncuran roket-roket NASA. Rakitan kerangka rumit besi-besi tersusun menumpu beberapa menara menjulang tinggi. Tempat peluncuran roket NASA yang pertama dulu hanya seluas lapangan bola basket, kini sudah menjadi seluas lapangan baseball. Sejauh ini yang dapat saya tangkap bahwa proses peluncuran roket dimulai dari memindahkan roket di bengkel ( VAB ) menuju Launch Complex  ( LC ) ini. Proses pemindahan  roket  dari VAB menuju LC digunakan perangkat sejenis tank raksasa mirip robot-robot di film transformer.

Perhentian terakhir adalah Saturn V Center ( dibaca : Saturn lima ). Proyek ini difungsikan untuk program Apollo ; eksplorasi manusia menuju bulan. Dalam sejarahnya, kutipan sentimental dari pidato Presiden Kennedy ”But why, some say, the moon? Why choose this our goal? And they may ask well ask why climb the highest mountain?. We choose to go to the moon in this decade and the other things not because they are easy, but because they are hard…”.  Manis,tapi klise memang, mengingat dimana waktu itu latar belakang terbesar USA untuk mencapai bulan adalah kekhawatiran mereka akan Uni Soviet, musuh besar dalam perang dunia saat itu ( sepertinya turun-temurun hingga sekarang ).

Tahun 1961 Soviet berhasil mengantar Yuri Gagarin jalan-jalan ke luar angkasa mengitari bumi. Pencapaian besar itu membuat USA cepat-cepat melakukan antisipasi, berbagai pertanyaan muncul. Apa yang akan selanjutnya Soviet lakukan diluar sana? rencana penyerangan? penyadapan? masih amankah negara ini nantinya?. USA kemudian menyibukkan diri lewat program-program NASA, salah satunya program Apollo ini. Pesimisme besar untuk mencapai bulan, ketika program Apollo dimulai, pencapaian terbaik mereka hanya bertahan tidak lebih dari 16 menit di luar angkasa.  Tapi kenapa harus bulan yang jadi pilihan? Well, kalau orang bilang ; “because they are USA”. Kecenderungan untuk berbeda dan jadi yang pertama dalam segala hal  seperti sudah amat mengakar.

Jpeg

Setelah cerita panjang selama 6 tahun sejak program Apollo dijalankan, akhirnya USA berhasil mendaratkan manusia ke Bulan lewat program Apollo 11. Nama Neil Armstrong amat mendunia dengan slogan “one step for man, one giant leap for mankind”. Bahkan hingga kini berapa banyak orang yang jika ditanyai: siapa manusia pertama berhasil ke luar angkasa? nama Armstrong yang akan disebut, bukannya Yuri Gagarin. USA memang seperti selalu memiliki caranya sendiri untuk menduniakan segala “produk” mereka bukan?.

Di sisi lain, tradisi dunia bahwa si pertama dalam segala hal yang akan menjadi pemenang, yang akan selalu diingat namanya. Apa dan siapa yang ada di belakang si pertama seolah terlupakan. Armstrong tanpa NASA tak akan sampai ke bulan, dan masalah kaki siapa yang pertama berpijak disana seperti sebuah hal sederhana mengingat ada dua orang Astronaut lain yang memiliki waktu dan kesempatan sama. Seperti kisah Edmund Hillary dan Everest, tanpa seorang Tenzing Norgay, dia tak akan menjadi orang pertama tiba di summit “dining room table” everest. Dan sekali lagi, bukankah sebuah hal sederhana tetang langkah siapa yang pertama, ketika kita berjalan bersama?

Jpeg

Dan roket Saturn V yang mengantar Amstrong ke Bulan diistirahatkan disini. Sebuah teknologi tinggi hasil pemikiran manusia, wujud teknologi presisi dari segala ambisi. Dengan tinggi 111 m ( 18 m lebih tinggi dari patung liberty ) dan berat 2,8 juta kg, Saturn V sejauh ini masih merupakan roket terbesar dan terkuat sepanjang sejarah. Selama 13 kali peluncuran dalam berbagai program Apollo, roket ini sudah mengantar total 24 Astronaut main ke bulan, dan semuanya berhasil kembali ke bumi. Saking gedenya, susah untuk ambil foto ukuran penuh dari roket ini. Di area yang sama, ada juga Astronaut Van, yang menurut saya lebih mirip mobil jenazah. Van yang mengangkut Armstrong dan dua Austronaut lain menuju Launch Complex 39 dalam misi Apollo 11. Disini pengunjung juga bisa menyentuh moon rock secara langsung. Oleh-oleh “gratisan” yang bisa dibawa para astronaut NASA dari bulan.

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Terduduk kembali di dalam bus, seorang bocah terlihat menerawang jauh menembus jendela kaca. Mungkin saat ini dia sedang terbang jauh menjelajah galaksi bima sakti. Edukatif, kreatif, imajenatif juga inspiratif. Di negara seperti USA, terdapat tempat-tempat seperti ini dimana mereka dapat menabur benih-benih mimpi bagi tiap generasi. Everybody is a mystery where they gonna end up, namun menggengam mimpi sejak usia dini baik adanya. Paling tidak, mengurangi jenis-jenis manusia seperti saya, yang sudah ¼ abad hidup di bumi, masih tak tau hidup mau dibawa kemana. Tempat ini juga menjadi wujud nyata manusia dalam upaya menembus segala batas semesta. Dunia teknologi, science akan terus menelan bumi, pemuas dahaga abadi akan misteri kehidupan yang tak bertepi.

 

 

Beberapa Hal di Florida

“Become friends with people who aren’t our age. Hang out with people who first language isn’t the same as ours. Get to know their culture. This is how we see the world. This is how we grow”

USA, Januari 2016

Hidup memang dapat berganti dalam sekejap. Beberapa hari lalu hidup membaringkan tubuh ini di pasir putih menikmati sebuah privat island di Bahama. Dan hari ini hidup membaringkan tubuh inidi sebuah rumah sakit di Cape Canaveral, Kota pelabuhan diujung Negara bagian Florida. Left cystoureteroscopy with laser lithotripsy, proses surgery yang akan saya jalani.

Pagi itu nurse assistance mengatakan bahwa saya kedatangan visitor. How come? saya tidak kenal siapapun disini. “ Selamat pagi, apakabar?” , lelaki Amerika itu menyapa sembari berjalan masuk, diikuti wanita berkacamata dibelakangnya. Mereka memperkenalkan diri, mengucapkan banyak kata dalam bahasa Indonesia. Mark dan Jenny Wodka, sepasang suami Istri yang usianya mungkin seumuran dengan orang tua saya.

Mark Wodka adalah seorang protestan misionaris, yang dalam pelayananya pernah tinggal di Indonesia selama 6 tahun. Oke, Mark memang bukanlah seorang sanyasi, orang-orang yang meninggalkan kenikmatan dunia dan mengabdikan diri untuk kehidupan spiritual. Tapi tetap saya selalu kagum terhadap orang yang memilih jalan hidup untuk melayani Tuhan dan sesamanya.  Dan menurut saya, kehidupan seorang misionaris seperti Mark terkesan lebih “normal” sebagai seorang manusia. Antara perannya dalam mengabdi pada Tuhan dan menjalani fungsi manusiawinya sebagai seorang kepala rumah tangga.  Spiritualitas dan kemanusiawiannya terkesan tidak timpang di satu sisi.

Tentang pengabdian kehidupan spiritualitas,  teringat kisah Siddhartha Gautama. Siddhartha yang merupakan seorang pangeran memulai kehidupan spiritualitasnya dengan meninggalkan segala kehidupan duniawi, istri, anaknya yang baru lahir, dan kerajaanya. Pengelanaanya berlangsung selama 6 tahun bertujuan mencari pencerahan sejati. Hidup berpindah-pindah di pengasingan, menjauhi hal duniawi sebagai seorang pertapa. Bermeditasi bertahun-tahun dihutan hingga tubuhnya hancur dan mendekati kematian. Sampai kemudian Siddhartha menyadari bahwa asketisme ekstrim itu bukanlah jalan menuju pencerahan. Hingga lahirlah ajarannya The middle way ( Jalan tengah ) atau yang lebih kita kenal dengan Buddha. Seorang teman pernah berkata pada saya,“segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik”, mungkin hal ini benar adanya.

Kini Mark Wodka melayani sebagai pemimpin Space Coast Seafarer Ministry. Sebuah ministry yang dikhususkan untuk melayani seafarer seperti saya. Mark mempunyai link tersendiri dengan orang-orang Royal Carribean. Cruise line tempat saya bekerja. Darisanalah dia tahu saya berada disini. Kunjungan pagi itu berlangsung cukup lama. Mark meninggalkan secarik kartu nama, meminta saya menghubunginya kapanpun, apapun yang saya butuhkan dan untuk datang mengunjungi ministry seusai proses medical ini. Dia juga meninggalkan kartu telefon interlokal, yang tidak saya pakai hingga saat ini karena merasa tidak ada yang harus saya telfon. Ada juga Alkitab berbahasa Indonesia, seperti sebuah pesan, sudah sekian lama saya tidak menyentuh buku tebal itu.

Sehari setelah proses surgery, saya dipindahkan disebuah hotel untuk proses recovery. Perusahaan yang menanggung semua proses medical ini tidak ingin saya tinggal lama di Rumah sakit. Bisa dimengerti, biaya rawat inap disini jauh lebih mahal ketimbang Hotel Raddison yang saya tempati sekarang. Kamar luas ini resmi menjadi milik saya secara cuma-cuma, untuk beberapa minggu kedepan.

Pagi itu, tubuh ini rasanya sudah siap untuk beranjak keluar hotel, setelah beberapa hari hanya terkapar ditempat tidur. Space Coast Seafarer Ministry letaknya tidak terlalu jauh dari hotel ini. Bangunan putih itu cukup luas, didalamnya saya lihat Mark sedang sibuk mondar-mandir. Terdapat banyak bendera kebangsaan tergantung di atas, berjejer computer, rak buku, ruang telefon, dibelakang saya lihat dapur, bahkan ada meja billiard. Disamping terdapat ruang khusus untuk ibadah persekutuan.

Jpeg

Jpeg

Para seafarer  biasanya datang untuk wifi, skype, telefon interlokal, makan siang sampai shuttle bus antar jemput dan keliling kota, semua fasilitas tanpa dipungut biaya apapun. Dalam sehari mereka hanya memiliki waktu beberapa jam saja disini, sebelum kembali ke kapal untuk bekerja. Sebuah konsep tempat pelayanan yang menarik. Sebagai sebuah organisasi Kristen, ministry ini tidak melulu menekankan tentang menjala orang sebanyak-banyaknya untuk masuk ke agama mereka, meskipun harapanya memang begitu. Namun tindakan nyata akan pelayanan sosial seperti ini menurut saya lebih penting, masalah agama, iman biarlah menjadi urusan pribadi masing-masing.

Dalam mengurus ministry, Mark dibantu oleh para volunteer. Bulan januari seperti ini kebanyakan volunteer adalah para snowbird. Sebuah istilah Amerika untuk orang-orang berumur, para pensiunan yang datang dari berbagai Negara bagian di utara. Dimana mereka menghindari salju musim dingin untuk hidup beberapa bulan mencari matahari di wilayah selatan , seperti Negara bagian Florida ini. Saat winter seperti sekarang, Kota ini ramai didatangi para snowbird, bahkan banyak dari mereka yang berasal dari Canada. Cocok seperti pada lambang Kota pelabuhan Cape Canaveral ini yang bergambar burung pelikan, pantai, kapal serta slogan Space, Sun and Sea. Untuk itulah para snowbird datang berbondong-bondong, matahari dan laut.

Jpeg
Sun Space and Sea

Dick adalah salah satu snowbird asal Michigan, beberapa kali dia mengunjungi saya saat proses recovery di hotel. Suatu pagi Dick mengajak saya untuk pergi ke Barber shop langgananya. Si kakek bungkuk amat baik hati ini sudah tidak tahan dengan rambut awut-awutan saya. Sambil menyetir Dick bercerita banyak tentang kelurga besarnya, kehidupanya di Michigan. Tentang anak-anak dan cucunya yang tumbuh dewasa, tentang danau dibelakang rumah yang saat ini beku menjadi es. Setelah selesai dengan rambut saya, tukang cukur asal Filipina itu memotong rambut putih Dick yang terlihat sudah jarang tumbuh dikepala.

Saya bertanya tentang banyak hal kepada Dick, terutama tentang hidup sebagai seorang Amerika, bangsa penguasa dunia. Suatu hal baru bagi saya, melihat kehidupan para snowbird. Di Negara ini, kakek-kakek pensiunan terlihat amat menikmati hidup mereka dihari senja. Menjadi traveller pencari matahari saat musim dingin, menyewa kondotel dipinggir pantai berbulan-bulan, mengikuti bibble study dipagi hari, dilanjutkan breakfast di  restaurant langganan, tangan-tangan keriput memainkan smartphone mahal. Amerika, setelah beberapa minggu terbiasa dengan kerapian dan bersihnya Kota di Negara ini, saya mulai mengenal berbagai kehidupan warga Negara yang tinggal di dalamnya.

Biasanya saya memilih untuk berjalan kaki dari hotel menuju ministry, saya suka udara disini. Untuk orang dari Negara tropis seperti saya, Kota ini terasa dingin namun menyenangkan. Dingin yang tidak terlalu dingin, matahari bersinar hangat tanpa menyisakan keringat. Semacam sejuk pegunungan di Indonesia. Hari ini saya ada janji dengan Cherryl dan Tom, sepasang snowbird dari Ohio. Dalam misi travelling mencari matahari kali ini mereka menggunakan RV ( Recreational Vehicle ).

Jpeg
Cherryl & Tom’s RV

RV termasuk dalam kategori mobilehome yang memiliki sejarah panjang di Amerika, mulai berkembang pesat pada tahun 1920-an. Di Amerika RV memang identik dengan snowbird. RV bisa diibaratkan sebuah rumah minimalis berwujud mobil. Cherryl dan Tom mempersilahkan saya masuk ke dalam RV yang mereka parkir di halaman belakang ministry. Dan semua yang ada di dalam RV ini mengejutkan saya. Bagaimana tidak, di dalam RV model fifth wheel ini benar-benar seperti berada di dalam rumah minimalis yang fasilitasnya jauh lebih lengkap dari semua kamar kos yang pernah saya tempati.

Dibagian belakang ada ruang keluarga, sofa lipat yang empuk, lengkap dengan TV layar lebar, jendela kaca, meja tulis. Dibagian tengah ada dapur berhadapan dengan meja dan kursi makan. Dibagian depan ada kamar dan toilet. Belum lagi fasilitas seperti lemari es, mesin cuci, pendingin dan penghangat ruangan. “This is so cool, I think I want to have one someday”, canda saya. “We’ve got all what we need here”, kata Cherryl. Mereka menjual rumah permanen mereka di Ohio sebelum musim dingin tiba. Di Amerika harga property tidak seperti di Indonesia yang grafiknya selalu naik. Disini harga sebuah rumah bisa naik turun sewaktu-waktu, sehingga memungkinkan bagi setiap orang untuk menjalani RV lifestyle.

Jpeg
Ruang keluarga
Jpeg
TV
Jpeg
Dapur
Jpeg
Kamar

Tertarik untuk lebih jauh mengenal tentang RV, hari-hari berikutnya saya sering bolak-balik berjalan menuju Jetty Park. Sebuah taman luas dipinggir Cocoa beach. Disini terdapat mobilehome campground, dimana tentunya akan ada banyak jenis mobilhome macam RV disana. Taman, pantai, RV campground, lengkap sudah tempat ini jadi favorit saya menunggu senja. Untuk parkir di campground seperti ini, pemilik RV biasanya harus membayar uang sewa. Mereka akan mendapat asupan listrik, air , ada juga toilet umum dan supermarket kecil di dalam campground. Untuk segala fasilitas itu, ditambah letaknya di pinggir pantai, pemilik RV dikenakan biaya sewa beragam dari mulai $27 per hari, ada juga tarif sewa bulanan. Winter seperti ini, harga sewa jauh lebih mahal dari biasanya. Berjalan berkeliling, saya amat menikmati apa yang saya lihat, bagaimana para snowbird bersantai menikmati matahari diluar RV mereka. Membaca buku, bermain dengan anjing-anjing mereka, makan bersama keluarga. Tidak semua disini kakek-kakek pensiunan, banyak diantara mereka yang masih muda, bahkan juga anak-anak kecil.

Jpeg
Jetty Park RV Campground
Jpeg
Travel Trailer RV
Jpeg
Toy Hauler RV

 

Jpeg
Fifth Wheel RV
Jpeg
RV Class A
Jpeg
RV Class B
Jpeg
Penghuni Jetty Park
Jpeg
Senja Cocoa Beach

Hampir sebulan hidup disini membuat saya akrab dengan para volunteer di ministry, terutama Mark dan Jenny. Seringkali mereka mengajak saya untuk hang out, dari sekedar makan malam di restaurant sampai menghadiri acara gathering para volunteer di Kota sebelah. Malam ini Mark mengundang saya untuk datang ke rumahnya, ada juga David anak bungsu mereka yang usianya beberapa tahun lebih muda dari saya. Mark bilang keluarga mereka kangen akan masakan Indonesia, jadilah malam itu kami berbelanja untuk menu sederhana. Saya cukup terkejut bagaimana di Kota ini dapat ditemukan tempe, tahu, kerupuk, indomie, sampai sambal sate. Karena tahu saya tidak makan daging, mereka menyarankan ada gado-gado, tempe dan tahu untuk menu makan malam. Ada juga sate ayam spesial obat kangen akan Indonesia untuk mereka.

Jpeg
Jenny, Mark, David dan Sate Ayam

Dari derita medis hingga hidup membawa saya ke Kota ini, lepas dari itu semua, segala hal baru dan semua keluarga baru membawa makna dan memori tersendiri. Selalu ada sisi baik dibalik sisi buruk akan segala sesuatu.

 

 

 

New York Pagi Ini

“We can’t discover new land without first losing sight of shore”

USA, November 2015

Daun-daun maple berguguran, meninggalkan ranting bercabang yang menggigil kedinginan. Kekuningan, menari bebas menyambut bumi, dan mereka tidak pernah membenci angin bersuhu 42oF hari ini. Proses alami, fase dari samsara sekumpulan organisme kompleks bernama pohon maple. Roda waktu berputar dan semua fase dalam sebuah kehidupan satu per satu akan dilalui. Perbedaan mendasar adalah kita dapat mengubah fase hidup. Kita manusia mempunyai pilihan akan jalan hidup mana yang kita pilih. Tidak seperti kerumunan pohon maple itu, mereka hanya bisa menerima setiap fase dalam hidupnya, tanpa pernah bisa memilih.

Hari ini, sebuah fase lain dalam hidup saya, memulai menapaki sebuah jalan yang telah saya pilih. Sudah pukul 7 pagi, dan matahari belum muncul.  Dibalik kaca jendela bus ini, terlihat kesibukan Kota megapolitan pengidap insomnia, New York City. Angan melayang kebelakang teringat semua proses panjang berlalu, semua orang yang datang dan pergi. Semua tempat yang terus beganti. Tentang kehidupan di jalan baru yang menanti. Pagi ini ada sebuah perasaan batin yang tak saya kenal. Bukan perasaan yang biasanya muncul ketika berdiri di suatu tempat asing. Kali ini, bukan seperti biasanya.

Jpeg
Liberty menyambut pagi

Sebuah konsep kehidupan aneh, tidak pernah berhenti mempertanyakan diri sendiri. Mencari diri sendiri dengan melihat dunia sebagai perantara. Seringkali jiwa terdalam tersentuh dan terisi bukan oleh hal material, bukan kekuasaan dan kedudukan, bukan sukses karier spektakuler atau popularitas, bahkan bukan doktrin agama. Melainkan oleh rasa ingin tahu, petualangan pencarian, keharuan, keheranan, atau kekaguman yang seringkali misterius.

Naif? bisa jadi. Thoreau adalah salah satu dari banyak tokoh inspirasi saya. Kami sesama pecandu biofilia tingkat akut, tapi tidak. Saya tidak akan membangun sebuah pondok kecil dari kayu di tengah hutan, dan hidup sendiri disana selama 2 tahun. Sebuah isolasi diri dari kehidupan sosial, Thoreau memilih untuk hidup dengan diri sendiri dan alam. Meninggalkan kehidupan “normal” sebelumnya. Meninggalkan keluarga, sahabat dan semua kehidupan sosialnya. Proses peninjauan ulang kehidupan manusia dan pencarian akan hal baru. Fase penting dalam hidupnya. Sinergi harmoni hidup, dan kebahagiaan ala Thoreau.

Berfikir tentang hal itu, bercermin tentang dimana saya sekarang berada. Tentang jalan yang telah saya pilih. Saya merasa hidup ketika menghidupi hidup dengan perjalanan. Ini bukan melulu tentang nominal. Kenapa orang dewasa di bumi selalu berbicara tentang angka. Tidak ada yang salah dengan kehidupan “normal” saya sebelumnya. Semua berjalan lirih mengalun, sinergi diri, sosial, dan alam. Bali adalah titik nol, titik awal, sekaligus titik balik yang mengajarkan banyak makna selama 2,5 tahun terakhir. Kemudian fase itu datang memanggil, selalu bertanya. Dan hati memberi jawaban.

If a man doesn’t keep pace with his companions, perhaps it’s because he hears a different drummer. Let him step to the music he hears. However measured and far away  Henry David Thoreau.

IMG-20150707-WA0001_1_1
Bali, see u soon

 

Terimakasih, keluarga dan semua sahabat…