Tag Archives: Nepal

Pagi Berganti di Himalaya

“To the mountain we go, to lose our mind and find our souls”

DCIM100GOPROGOPR8345.

Nepal, Oktober 2016

Pagi berganti, laju angin meniup lembaran kain warna-warni , memanjang dan saling terikat. Prayer flag berkibar, abadi menghiasi Himalaya. Kelima warnanya melambangkan lima elemen, lima cahaya murni. Biru adalah langit dan angkasa, putih udara dan angin, merah api, hijau air, kuning untuk bumi. Barisan mantra sansekerta Om Mani Padme Hum terpahat pada bebatuan sepanjang jalan, hingga menyatu bersama bunyi dencit, suara putaran prayer wheel. Di depan sebuah rumah batu, asap samar terbang naik, meninggalkan sisa tumbuhan bakaran persembahan puja. Iman, ritual, serta spiritualitas. Bahkan di tempat sejauh ini, setinggi ini, sedingin dan sunyi ini, terasa amat nyata. Sering dari dalam muncul pertanyaan, atau pernyataan? pernyataan tentang kekaguman. Melihat bagaimana mereka penduduk desa, dapat begitu berserah, sepenuh hati, percaya akan apa yang mereka yakini.

Kami para pencari merasa, semakin mencari, semakin banyak hal kami tidak mengerti…

Pagi berganti, tanpa kenal hari, deretan angka waktu terlupakan begitu saja. Hanya tau bahwa saat ini kami berjalan dalam dimensinya. Langkah pelan kaki-kaki lelah terhenti oleh semarak kilauan butiran putih, sisa salju semalam. Mereka hinggap terlelap dipucuk-pucuk dedaunan, sebelum akhirnya terbangun. Perlahan sirna menyatu bebas bersama hangat uap mentari pagi ini. Kerumunan Yaks bermalas-malasan di lembah hijau sebelah Desa. Kawanan Bharal gembira berlari kesana kemari menjelajah ketinggian. Di langit biru sana, para Elang Gunung terbang liar berkejaran dengan bayangan mereka. Sejauh apapun, setinggi apapun mereka terbang, bayangan itu akan tetap memijak bumi. Kebebasan seutuhnya bagi Himalaya dan para penghuninya.

Ketika kebebasan terasa begitu berbeda, tiap detail disekililingmu, keindahan, kejelasan, dan kebersihan pikiran. Semua menjadi satu didalam jiwamu…

DCIM100GOPROGOPR8191.

Pagi berganti, dingin ini makin menjadi. Mengeringkan bibir, kaku terpecah, terbelah perih disemua sisi. Rasa sakit diwajah , pori-pori matang terbakar matahari. Lihat juga beberapa dari mereka  jari-jari kakinya melepuh, lembaran kulit lepas terkelupas. Namaste, sapa ramah mereka yang mengira bahwa aku adalah seorang Sherpa. Sesekali hentakan trekking pole terdengar, menjadi selingan nafas yang sudah terasa makin berat. Di ketinggian lebih dari 4500m, terlihat Helicopter menghampiri. Evakuasi. AMS ( Altitude Mountain Sickness ) ditangani secepat mungkin, sebelum berakibat fatal. Tahapan aklimatisasi menjadi harga mati untuk mencapai ketinggian seperti ini. Jauh dibawah sana, selalu mengalunkan pertanyaan nuansa lama tentang “mengapa”. Lalu disini, semua itu terasa tidak begitu penting, atau mungkin terlalu rumit untuk dapat dimengerti.

Menemukan tempat pelindungan dari rasa sakit dari luar dan dalam batin yang selalu membingkai eksistensi kita sebagai manusia…

Pagi berganti, kembali  meringkasi tiap bawaan ke dalam tas ini. Segala kebutuhan hidup, melekat menyatu menjadi beban dipunggung. Berminggu-minggu, bulan, bahkan tahun, entah kapan akan kembali ke tempat yang mereka sebut rumah. Semua cerita panjang itu menyisakan ruang bagi Himalaya di dalamnya. Kami terbiasa dengan pakaian lusuh yang sama , makanan lokal yang sama, air sungai yang sama tawar, pagi demi pagi. Kemewahan, tampilan, aroma, kilau warna bukan bagian dari cerita sehari –hari. Kerumitan turun-temurun itu tidak menjadi bagian dari beban dipunggung ini, langkah terasa ringan, hidup terasa ringan. Bahwa sesungguhnya kita tidak membutuhkan banyak hal serba lebih untuk hidup. Bahkan gumpalan kering kerontang kotoran Yak, dapat menjadi nyala api alami. Penghangat bagi tiap jiwa yang meringkuk ditengah dinginnya gelap malam Himalaya.

Pemahaman mendalam tentang kesederhanaan hidup, kesadaran meghargai setiap pemberian alam, positivisme dan sukacita dalam segala realita…

Pagi berganti, masih sering kami bercakap panjang tetang sebuah arti. Di atas sini , seseorang akan menatapmu saat kamu berbicara, memberikan makna perhatian seutuhnya, bersatu dalam moment yang ada. I am talking to you, i am thinking about you. Sebuah konsep ringkas namun terasa telah kandas di bawah sana, jauh bagi Himalaya. Mata mereka menerawang terbang saat mendengarmu berbicara lebih dari 20 detik. Mereka sudah memiliki banyak hal lain di pikiran mereka, tentang lawan jenis yang mereka impikan, tentang lima sosial media yang mereka punya, tentang pekerjaan selanjutnya, tentang mobil selanjutnya. Tiap jiwa mencari arti, berlari kesana kemari sepanjang waktu. Sampai pada akhirnya kita temukan kekosongan, namun kita masih tetap terus berlari.

Mengambil beberapa kalimat dari salah satu buku favorit saya:

“ Remember what I said about finding a meaningful life? Devote yourself to loving others, devote yourself to your community around you, and devote yourself to creating something that gives you purpose and meaning

Pagi berganti, kali ini matahari harus menanti. Kala itu langit berhiaskan taburan bintang kala langkah-langkah kecil mengalun diatas tanah berbatu berselimut salju. Perjalanan summit diatas 5000m, sebuah pentas tentang kesunyian abadi. Tanpa kehidupan, sepanjang mata memandang hamparan putih puncak – puncak barisan Annapurna. Kami terus berjalan diiringi mentari meninggi. Secerca kehangatan diantara suhu minus yang tidak karuan. Bingkaian mahakarya megah, keindahan lukisan misteri alam yang telah membaringkan banyak nyawa manusia. Dibalik bukit itu berdiri sebuah tanda, berkibar tumpukan ratusan prayer flag disana. Thorung la pass 5416m, salah satu pass tertinggi  di dunia. Titik tertinggi bagi tiap pribadi dari kami sejauh ini. Annpurna Himalaya, memori dalam perwujudan sebuah mimpi, tentang cerita dan makna, alunan dongeng hidup tentang ketinggian.

DCIM100GOPROGOPR8392.

Pagi berganti,

Lalu kami berjalan terpisah, melalui pagi demi pagi yang tak lagi sama, melanjutkan kisah hidup yang berbeda…

Untuk Oceane dan Annika, jiwa-jiwa seperjalanan…

Annapurna Circuit ( Gallery )

No men ever followed his genius till it misled him. Thought the result were bodily weakness, yet perhaps no one can say that the consequences were to be regretted, for those who life in conformity to higher principles. If the day and the night are such that you greet them with joy, and life emits a fragrance like flowers and sweet-scented herbs, is more elastic, more starry, more immortal, – that is your success.   All nature is your congratulation, and you have cause momentarily to bless yourself. The greatest gains and values are farthest from being appreciated. We easily come to doubt if they exist. We soon forget them. They are the highest reality . . . . The true harvest of my daily life is somewhat as intangible and indescribable as the tints of morning or evening. It is a little star-dust caught, a segment of the rainbow which I have clutched.
Henry David Thoreau, in WALDEN

 

 

Annapurna Circuit Trek (2)

Informasi singkat sepanjang trek

Route  : Ngadi – Manang – Thilicho – Thorung La Pass – Muktinath – Jomsom  & Poon hill

Durasi : 15 Hari

Memulai berjalan dari Desa Ngadi di ketinggian 920m. Naik perlahan, hari berganti, landscape berganti, suhu berganti.  Pola akan selalu sama : bangun pagi, trekking, dan menginap di Tea house berbeda tiap malam. Rata-rata trekker berjalan 5-7 jam/hari. Baik untuk dapat memulai berjalan sebelum jam 8 pagi, sebelum matahari meninggi. Perhatikan estimasi waktu, usahakan sampai di desa tujuan sebelum petang. This is not competition, berhenti berjalan dan istirahatkan tubuh sejenak jika memang sudah merasa lelah. Sampai di ketinggian lebih dari 3500m, ambil 1 atau 2 hari untuk proses aklimatisasi, penting untuk menghindari resiko AMS hingga HACE.

Sebaiknya tidak berekspektasi terlalu tinggi terhadap fasilitas seperti hot shower atau wifi di banyak penginapan. Hot shower biasanya dihasilkan dari water heater jenis gas yang entah bagaimana cerita teknisnya sehingga air yang keluar hanya di beberapa lubang dari total sekian banyak lubang yang ada di shower. Seringkali air keluar juga masih dingin. Mencapai ketinggian 4000m lebih, biasanya ada charge untuk jasa hot shower, terkadang mereka memanaskan air menggunakan tungku dapur. Saya tidak menggunakan Hp ataupun wifi selama trekking. Namun seringkali saya dengar dari trekker lain, bahwa pemilik penginapan beralasan wifi sedang bermasalah, tidak dapat dipakai hari ini. Dan sepertinya alasan yang sama dipakai setiap hari 🙂 Usahakan untuk memesan makanan sebelum tingkat lapar maksimal. Untuk membuat satu jenis menu makanan, rata-rata Tea house memerlukan waktu hampir 1 jam. Bagaimanapun, menurut saya segala keterbatasan tersebut sangatlah wajar. Mengingat Tea House maupun Hostel tersebar di lokasi yang ekstrim ini keberadaanya sudah sangat membatu para trekker.

Tulisan berikut berisi catatan singkat selama trekking Annapurna Circuit, semoga bermanfaat. Sebelum menuju catatan, boleh lihat dulu video pendek saya 🙂

Trekking Day 1

Ngadi – Ghermuphant ( Lunch ) = 4 Jam *** Ghermuphant – Jagat = 2 Jam

Landscape berupa hamparan ladang padi dan tebing-tebing dan perbukitan hijau tinggi menjulang. Jika masih punya tenaga dan waktu, dari Jagat lanjut saja ke Chamje. Ada Rainbow Guest House di Chamje, tempat bermalam dengan view Air Terjun cantik tepat di depan Guest House. Trekking day 1 dan 2 akan melelahkan karena secara umum jalur naik memanjang, banyak tanjakan-tanjakan serta anak tangga.

Trekking Day 2

Jagat – Tal ( Lunch ) = 3,5 Jam *** Tal – Dharapani = 2,5 Jam

Jalur di hari ke 2 ini menyusuri tebing yang dibelah oleh Sungai Marsyangdi. Terletak di lembah tepi sungai, dengan background air terjun di belakang desa, membuat Tal menjadi tempat yang istimewa untuk lunch. Desa lembah cantik yang diapit tebing-tebing tinggi, suara gemercik air terjun dari kejauhan mengisi waktu istirahat siang hari. Di ujung Desa Dharapani, terdapat Guest House dengan view sungai dan gunung dijendela kamar. Suara nyanyian arus sungai mengalun sepanjang malam 🙂

Trekking day 3

Dharapani – Timang ( Lunch ) = 3,5 Jam *** Timang – Chame = 2 Jam

Dari Dharapani menuju Timang, jalur melelahkan berupa anak tangga panjang naik membentang. Timang merupakan desa cantik diantara perbukitan, banyak tempat lunch memiliki rooftop mountain view. Timang – Chame trek relatif datar, akan melewati desa cantik Thanchowk dan pengecekan terekking permit ACAP di Koto. Chame merupakan Desa yang cukup besar & ramai, berbagai barang dan kebutuhan pendakian dijual disini. Jika ingin tempat bermalam yang lebih tenang, berjalanlah menuju ujung desa di seberang sungai. Setelah menyeberangi suspension bridge, ada beberapa Hostel yang dekat dengan Hot Spring.

Trekking Day 4

Chame – Dhikur Pokhari ( Lunch ) = 2,5 Jam *** Dhikur Pokhari – Upper Pisang = 1 Jam

Pada trek ini, tidak terlalu berat dan banyak waktu untuk beristirahat. Landscape juga sudah mulai terlihat berbeda dari hari – hari sebelumnya, jadi nikmati dan tidak perlu terburu – buru. Upper Pisang adalah Desa cantik dipunggung bukit, tempat yang sempurna untuk bermalam. Rekomendasi Hostel : Himalayan Hotel, berjalanlah keujung atas desa, letaknya tepat di bawah Monastri. Hostel sederhana ini memiliki view tower di halaman depan, view ajaib dari jendela kamar dan pemilik yang baik hati 🙂

Trekking Day 5

Upper Pisang – Braga ( Lunch ) = 4,5 Jam ( Take the Road ) *** Braga – Manang = 0,5 Jam

Jalur NATT dari Upper Pisang – Braga membutuhkan waktu yang jauh lebih lama dan medan berat, ditambah lagi saat itu hujan, maka kami putuskan untuk ambil jalur Jalan biasa. Itupun memakan waktu 4,5 jam padahal jalur Jalan tidak terlalu berat. Mencapai ketinggian lebih dari 3000m, kondisi tubuh terasa berbeda, ditambah kelelahan 5 hari berjalan, ditambah lagi hujan, so today all of us looks f*cked up 🙂 Di Braga, setelah lunch sempatkan untuk mengunjungi Braga Gompa. Monastri berusia lebih dari 900 tahun, jika memiliki kesempatan untuk masuk, kamu akan takjub dengan suasana yang ada di dalam sana 🙂

Manang terasa seperti Kota kecil, segala kebutuhan dapat ditemui disini. Terletak di ketinggian 3500 m, desa ini merupakan tempat persinggahan terbesar sebelum titik tertinggi Thorung La Pass. Dari mini market, bakery, laundry, bioskop mini sampai tukang reparasi sepatu semua ada. Tips di Manang: untuk makan di luar hostel, ada beberapa restoran sederhana yang harganya jauh lebih murah. Sulit untuk dapat free room di Manang karena banyak trekker yang stay disini lebih dari semalam untuk aklimatisasi sekaligus rest day. ACAP Office disini menyediakan Dokter untuk konsultasi kesehatan gratis buka tiap jam 3 sore.

Trekking Day 6 = Acclimatization Day & Rest Day

Bisa bangun lebih siang dari biasanya, berlama-lama bermalasan di kasur karena tidak ada trekking hari ini. Hal ini penting selain untuk proses aklimatisasi, juga bertujuan untuk beristirahat. Mengembalikan stamina, kondisi tubuh setelah trekking selama 5 hari beruntun. Hari ini dapat diisi dengan berbagai kegiatan menyenangkan. Jalan santai ke bukit belakang desa, disana ada Danau Ganggapurna. Bermain bersama kerumunan Yaks di lembah sungai. Berkeliling mencicipi berbagai produk bakery. Hingga nonton di bioskop mini yang memutar film-film seperti 7 Years in Tibet, The caravan, Into The Wild, Everest, dll. Well, Everybody loves acclimatization day 🙂

Trekking Day 7 = Side Trip to Tilicho Lake

Manang – Upper Shri Kharka ( Lunch ) = 4 Jam *** Upper Shri Kharka – Tilicho Basecamp = 2,5 Jam

Side trip ini akan memakan 2-3hari ekstra, walaupun begitu saya sangat menyarankan untuk ambil side trip ini. Landscape sepanjang trek sungguh istimewa, juga baik untuk adaptasi tubuh diatas 4000m. Dari Manang ambil jalur Tilicho Lake, ikuti petunjuk jalan dan tanda Putih-Biru ( Side Trail ). Menanjak secara perlahan, akan mulai terlihat landscape Tilicho dari kejauhan. Upper Shri Kharka ada 1 Teahouse, tempat lunch sempurna dengan view indah sepanjang mata memandang. Perjalanan akan berlanjut melewati Land Slide Area. Perlu diperhatikan untuk berhati-hati melangkah, jalur amat sempit dengan tanah dan bebatuan diatas rawan longsor, sedang dibawah adalah jurang tinggi berakhir di dasar sungai. Jika kondisi hujan, lebih bijak untuk menunda lewat jalur ini, tunggu hujan reda, karena terlalu beresiko.

Trekking Day 8

Tilicho Basecamp – Tilicho Lake = Cancel *** Tilicho Basecamp – Upper Shri Kharka = 2,5 Jam

Bermalam di Tilicho Basecamp kamu akan merasakan bagaimana sulitnya untuk dapat tidur lelap pada ketinggian lebih dari 4000m 🙂 Pagi harinya cuaca amat buruk, hujan disertai kabut serta salju membuat jalur menuju Tilicho Lake terlalu beresiko. Memasuki kabut, jarak pandang amat terbatas, ditambah salju dan jalur tanah,bebatuan membeku terselimuti es menjadi amat licin dan berbahaya. Kami dan para trekker lain memutuskan untuk turun kembali menuju Basecamp. Ada perasaan kecewa karena melewatkan Tilicho Lake, salah satu danau tertinggi di dunia. But this is the adventure, sometimes sh*t happen 🙂 Kami melanjutkan perjalanan dan bermalam di Upper Shri Kharka yang jauh lebih sepi dari para trekker ketimbang Lower Shri Kharka. Tidak seperti malam sebelumnya, malam ini kami dapat tidur lelap, mungkin karena proses adaptasi tubuh terhadap kondisi ketinggian.

Trekking Day 9

Shri Kharka – Yak Kharka ( Lunch )= 4 Jam *** Yak Kharka – Ledar = 1 Jam

Perjalanan dari Shri Kharka menuju Yak Kharka menghadirkan perpaduan landscape cantik Annapurna Range – Tilicho. Banyak trekker memilih Yak Kharka untuk bermalam. Yak Kharka memiliki lebih banyak opsi penginapan dibandingkan Ledar. Di Ledar terdapat 3 penginapan : 2 Hostel besar dan 1 Hostel kecil. Jika menginap di Ledar saran saya adalah untuk memilih Hostel kecil. Letaknya diantara kedua Hostel besar tersebut. Tidak terlalu banyak trekker berkumpul. Pemilik baik hati, masakannya enak pula 🙂

Trekking Day 10

Ledar – High Camp = 3 Jam

Mendekati Thorung Phedi, sudah terasa nafas yang semakin berat. Gunung-gunung berselimutkan salju tampak jelas di depan mata. Banyak trekker yang memilih untuk bermalam di Thorung Phedi ketimbang High Camp. Resikonya mereka harus memulai summit lebih pagi. Kami memutuskan untuk bermalam di High Camp. Thorung Phedi – High Camp butuh waktu kurang lebih 1 jam dengan trek menanjak tinggi. Saran saya adalah untuk bermalam di High camp, selain tidak perlu memulai summit terlalu pagi, view di High Camp juga lebih indah.

Trekking Day 11 = Summit Day

High Camp – Thorung La = 3 Jam *** Thorung La – Muktinath = 3 Jam

Penting untuk tidak memulai summit terlalu pagi, guna menghindari bahaya Frosbite hingga Hypothermia. Pada beberapa kasus, hal ini dapat berakibat fatal. Disarankan untuk tidak memulai summit dibawah jam 5 pagi. Kesulitan utama mungkin adalah suhu ekstrim dan jalur cukup licin akibat tertutup es. Disini pemilihan Jaket, Hiking Boot, hingga Gloves yang berkualitas akan terasa sangat membantu. Melangkah secara perlahan, namun konstan, atur nafas. Mencapai ketinggian 5000m, akan melewati bukit-bukit berselimut salju putih dikelilingi Annapurna Range yang tampak di depan mata. Saat matahari mulai muncul, suhu akan terasa lebih hangat ketika akhirnya sampai di titik tertinggi Thorung La Pass 5416m. Setelah prosesi bahagia keberhasilan dan foto-foto, perjalanan berlanjut dengan trek turun melelahkan selama 3 jam menuju Muktinath.

Trekking Day 12

Muktinath – Jomsom = 4 jam

Muktinath sudah seperti Kota kecil, banyak pula berdiri Hotel bertingkat yang tergolong cukup mewah jika mengingat letak desa ini di pegunungan. Muktinath memang menjadi salah satu destinasi wisata cukup populer dan banyak dikunjungi para peziarah. Jadi disini kamu akan temukan hot shower yang dapat berfungsi secara normal 🙂 Trek menuju Jomsom tidak begitu menyenangkan. Setelah melewati desa pertama, trek menyatu dengan Jalan. Para trekker berjalan menembus debu-debu tebal akibat kendaraan yang sudah sering terlihat kesana kemari. Tidak heran bila banyak juga trekker yang memilih untuk menyudahi trek di Muktinath, naik Jeep menuju Jomsom. Jika kamu masih memiliki waktu dan tenaga, lebih baik untuk lanjut berjalan dan bermalam di Marpha, desa cantik dengan nuansa klasik dan jauh lebih tenang dibandingkan Jomsom.

Trekking Day 13

Jomsom – Tatopani = 5 Jam by Bus

Banyak trekker menyudahi trek di Jomsom. Biasanya dari sini mereka naik Bus menuju Pokhara, untuk bersantai beberapa hari di kota itu. Saya ingin melanjutkan trek hingga Poon Hill, jadi saya naik Bus hingga Tatopani. Jomsom-Tatopani sebenarnya juga bisa ditempuh dengan trekking. Namun mengingat jalur trekking menyatu dengan jalan kendaraan, itu sungguh tidak menyenangkan, maka para trekker memilih menggunakan Bus hingga Tatopani. Harga tiket 1200NPR dimana tidak ada kesempatan untuk menawar. Berkendara dengan Magic Bus cukup menyenangkan, melaju berguncang di jalur bebatuan tepi jurang. Terkadang penumpang harus turun dari Bus kemudian naik lagi karena kondisi jalan juga ajaib 🙂

Trekking Day 14 = Poon Hill Trek

Tatopani – Gorephani = 7 Jam

Perjalanan dari Tatopani – Gorephani dapat dilakukan secara nyaman dalam 2 hari, atau bisa juga ditempuh 1 hari secara melelahkan. Saran saya jika kamu mempunyai waktu, pilihlah 2 hari. Dari Tatopani trekking 3 jam dan bermalam di Shirka, desa yang cukup cantik. Saya memilih untuk menyelesaikan dalam 1 hari, dimana sungguh terasa berat. Tatopani-Gorephani memiliki selisih ketinggian sekitar 1000m. Trek naik 1000m  didominasi oleh tanjakan dan banyak anak tangga sepanjang perjalanan amat menyiksa. Rekomendasi Hostel di Gorephani : Green View Hostel. Selain bisa bermalam gratis, tempatnya bersih, masakan enak, pemilik ramah dan hot shower terbaik yang saya temui sepanjang trek 🙂

Trekking Day 15

Gorephani – Poon Hill = 1 Jam ( Sunrise ) *** Gorephani – Nayapul = 7 Jam

Untuk melihat sunrise, trekker berangkat jam 5 pagi. Cukup bawa barang seperlunya, sisanya tinggalkan di kamar hostel. Trek naik menuju Pooh Hill berupa anak tangga dapat ditempuh sekitar 1 jam. Bila langit cerah, view barisan Himalaya dari Dhaulagiri, Annapurna hingga Machhapuchhre terlukis jelas didepan mata. Poon Hill trek termasuk jalur ramai dikarenakan trek tidak terlalu sulit dan dapat diselesaikan kurang dari 1 minggu. Banyak terlihat group trekker berusia diatas 50 tahun, hingga group family lengkap degan anak-anak mereka.

Selesai sunrise, kembali ke hostel untuk sarapan dan packing. Perjalanan menuju Nayapul fast gear memakan waktu 7 jam. Bila memiliki waktu lebih, akan nyaman bila ditempuh dalam 2 hari. Saya memilih untuk menyudahi dalam 1 hari. Meninggalkan Gorephani setelah sarapan, fast gear trekking tiba di Nayapul sekitar pukul 16.00. Beberapa jam terakhir cukup melelahkan berupa trek panjang turunan anak tangga dari desa satu ke desa lain. Dari Nayapul ikut bus menuju Pokhara, perjalanan sekitar 2 jam, tarif normal 100NPR. Namun pada trekking season bisa naik 2-3 kali lipat. Pokhara kota pariwisata yang cukup tenang jika dibanding Kathmandu, menjadi tujuan utama para trekker bersantai melepas lelah.

Annapurna Circuit Trek ( 1 )

Informasi Umum, Persiapan Trekking, Menuju Trailhead

Sore itu dibelakang Desa, bentangan Annapurna mengintip dari puncaknya putih pekat tertutup salju. Hari ke-7 trekking saat tiba di Manang. Desa di ketinggian 3500m, tempat pertama kali terlihat kerumunan Yak. Memasuki Kantor ACAP ( Annapurna Conservation Area Project ), selesai dengan pengecekan kelengkapan permit, mata tertuju menjelajahi lembaran-lembaran tertempel di dinding tua. Pada beberapa kertas tertulis data jumlah trekker dari seluruh Negara tahun lalu. Prancis berada di urutan pertama dengan 1709 warga negaranya, disusul Jerman dengan angka 1438. Cukup terkejut melihat Indonesia hanya tertulis angka 16. Tahun 2015, total hanya 16 WNI menapaki Annapurna Circuit.

Berbincang dengan petugas, tak lama dia mencari data di Komputernya. Di layar terlihat Indonesia dengan angka total 11. Hingga bulan Oktober tahun ini ( 2016 ) ada 11 WNI terdaftar. Mungkin hal ini yang kurang lebih menggerakan jari-jari tangan untuk membuat tulisan ini. Menulis tentang informasi umum, persiapan hingga tips sebenarnya bukan type saya. Karena tiap orang memiliki caranya sendiri dalam mempersiapkan suatu perjalanan. Annapurna Circuit merupakan salah satu jalur trekking tercantik yang ada di dunia, paling berkesan bagi saya sejauh ini. Dan hanya 11 WNI sejauh ini? Nepal tidak sejauh itu, tidak sesulit itu, tidak semahal itu. Semoga tulisan ini berguna, memberi niat, memberi gambaran awal, memberi informasi yang dibutuhkan dalam bahasa Indonesia.

– Informasi Umum

  • Waktu Berkunjung

Trekking season dimulai pertengahan bulan Oktober – November. Memulai awal oktober, selama 16 hari trekking masih saya temui 2 hari hujan gerimis. Bagaimanapun waktu terbaik untuk memulai adalah setelah pertengahan bulan Oktober. Sepanjang perjalanan cuaca cerah, langit bersih. Meskipun trekking season, tidak perlu khawatir akan terganggu keramaian. Jalur panjang memberi waktu untuk menikmati perjalanan secara pribadi. Kerumunan atau perorangan dapat dengan mudah dihindari.

Untuk Annapurna Circuit dibutuhkan kurang lebih 2 minggu jika trekker ingin memulai dari titik awal. Beberapa trekker memangkas waktu menjadi 8-10 hari dengan menyewa Jeep di awal dan akhir trek. Jalur trekking berbeda dari jalur Jeep, resiko dengan Jeep maka akan kehilangan banyak spot.

  • Uang

Seperti pada umumnya, Money Changer di Airport memiliki rate rendah. Cukup tukar $10 di Tribhuvan Airport untuk taxi menuju Thamel. Biaya Taxi Airport – Thamel adalah 600-700NPR. Tempat terbaik untuk menukar uang adalah di Thamel dengan rate 105NPR-106NPR untuk US $1 ( 30 September 2016 ). ATM di Thamel, akan dikenakan charge 500NPR sekali transaksi. Untuk berhemat, perhitungkan estimasi budget di awal, sehingga tidak perlu berkali-kali transaksi di ATM.

Sepanjang jalur Annapurna Circuit ATM hanya akan ditemui di titik Awal dan Akhir. Idenya sederhana, membawa uang secukupnya dari transakasi di Thamel. Pada beberapa buku paduan, estimasi  trekking budget US$ 20-US$25/day. Tidak perlu membawa sebanyak itu. Budget tergantung bagaimana cara kita hidup. Saat trekking saya menghabiskan US$ 10-13/day. Banyak cara untuk berhemat. Ya, saya melakukan dengan cara sederhana, tapi tetap nyaman dan tidak kelaparan 🙂

  • Kedatangan

Biaya VOA : US$ 25 untuk 15 hari, US$ 40 untuk 30 hari, US$ 100 untuk 100 hari. Foto 3×4 diperlukan. Prosesnya mudah, isi formulir dan jawab 1-2 pertanyaan formalitas. Nepal bukan Negara Xenophobia. Visa juga dapat diperpanjang di Kantor Imigrasi Kathmandu dan Pokhara. Biaya perpanjangan US$ 2/hari, namun minimal 15 hari jadi US$ 30.

  • Kathmandu

Kota terpadat di Nepal, biaya hidup di Kathmandu jauh lebih murah daripada biaya hidup saat trekking nanti. Untuk berhemat disini, cukup cari warung makan lokal, menepi dari touristic spot. Pusat aktifitas para traveller ada di Thamel. Letaknya stategis untuk mencapai titik-titik pariwisata di sekitar Kathmandu. Para trekker juga stay disni untuk persiapan permit, gear dan keperluan pendakian lain.

Rekomendasi stay: Hostel One96. Alamat : Jalan Paknajol Marg, didepan People’s Campus. Dorm room, 300NPR/night, dijamin paling murah yang bisa kalian temui disana 🙂 Saya dapat info dari teman lokal di Kathmandu. Hostel masih baru, jadi masih terawat dan tergolong bersih untuk hostel sekelasnya. Jalan kaki cukup 5menit untuk menuju Thamel.

  • Konektivitas

Untuk SIM Card lokal, ada 2 pilihan : NTC ( Nepal Telecom ) dan NCell. Informasi yang beredar NTC memiliki kemampuan koneksi yang baik selama Jalur Annapurna circuit, sedangkan NCell unggul di daerah perkotaan dan padat penduduk. Dalam hal ini saya kurang begitu perduli, karena selama trekking saya memilih untuk tidak pernah menghidupkan HP 🙂

Untuk kepentingan lain selama sebulan di Nepal, saya membeli NCell SIM Card di Thamel. Sama seperti di Indonesia, harga katu beragam. Untuk harga kartu 300NPR, berisi pulsa 255NPR dan 2700 detik Free Local Call. Untuk konfigurasi dan pemilihan paket internet lebih baik meminta bantuan langsung kepada si penjual. Foto dan pengisian data diri dibutuhkan untuk pembelian SIM Card.

-Persiapan Trekking

  • Tentang Annapurna Circuit

Pertama perlu dimengerti bahwa Jalur Trekking Annapurna Circuit sama sekali berbeda dengan Jalur Trekking ABC ( Annapurna Basecamp ). Kebanyakan WNI memilih trekking di ABC karena memakan waktu lebih singkat ( 6-7 hari ). Di ABC trekker akan melalui 1 jalur sama saat naik dan turun. Jalur itu berada diantara Annapurna dan Machhapuchre menuju Basecamp dengan titik tertinggi 4130m. Sedangkan Annapurana Circuit, jalur trekking melingkar membentang mengelilingi seluruh Annapurna Conservation Area, naik melalui distrik Manang dengan melewati titik tertinggi Thorung La Pass 5416m kemudian turun menuju distrik Muktinath. Untuk gambaran awal, dapat dilihat pada peta berikut : http://howadoor.umbra.cz/img/map/Annapurna_1_125000_150_dpi_colour.jpg

Dari tahun ke tahun jalur Annapurna Circuit telah berubah karena adanya proyek pembangunan jalan antar desa. Untuk meghindari kendaraan setelah adanya jalan antar desa, dibuatlah by pass untuk para trekker, dinamai NATT ( New Annapurna Trekking Trail ). Main trails ditandai dengan dua garis berhimpit berwarna merah-putih, dan untuk side trails ditandai warna putih-biru. Tanda tersebut biasanya terdapat di batu, pohon, atau papan petunjuk sepanjang jalur trek.

  • Penginapan dan Logistik

Annapurna Circuit disebut juga apple pie track, karena tersedia Lodge dan Tea house tiap 2-3jam. Dimana Lodge & Tea House ini menyediakan makanan dan penginapan sederhana. Tiap desa memiliki tarif menu berbeda yang sudah distandarisasi. Jadi dalam 1 desa harga makanan dan minuman hampir sama. Semakin tinggi elevasi, harga makanan minuman penginapan di tiap desa semakin tinggi.

Penting : Untuk membawa Water Purification Tablet atau Personal Water Filter. Keduanya dapat dengan mudah didapat di Thamel. Bawa botol minum, dan ambil air yang banyak tersedia di desa ataupun sungai sepanjang perjalanan. Hal ini amat membantu untuk berhemat, di trek harga air minum kemasan amat mahal. Saya lebih memilih Personal Water Filter karena tidak ada unsur kimia. Pernah saya coba air teman yang memakai Water Purification Tablet, rasa chlorine amat kuat. Kelemahan Personal Water Filter adalah tidak dapat menyaring Virus, namun sebagai orang Asia sepertinya tubuh kita tidak perlu terlalu khawatir dengan air pegunungan Himalaya 🙂 Sebagai refrensi saya memakai Lifestraw Personal Water Filter : http://lifestraw.com/products/lifestraw/

Penting : Membawa Tea Bag, Kopi, Jahe, Madu, Susu kental dsb. Harga secangkir kecil teh bisa sangat konyol mahalnya selama trekking. Apalagi setelah sampai di ketinggian lebih dari 3500m. Idenya adalah sederhana untuk memesan air panas dan membuat minuman kalian sendiri. Membawa beberapa Cereal, Snack atau buah juga ide yang bagus jika ingin lebih berhemat.

Memilih Lodge itu tergantung selera masing-masing. Saya sendiri lebih suka memilih Lodge yang tidak terlalu besar, jadi tidak terlalu banyak orang berkumpul. Asalkan tempat bersih dan pemilik tersenyum ramah di awal, sudah cukup. Tarif menginap diantara 200-400NPR.

Penting : Untuk berhemat kita bisa menawar untuk menginap secara gratis, asalkan kita nanti dinner & breakfast di tempat tersebut. Tidak semua trekker tahu tentang hal ini. Biasanya saya berbicara kepada pemilik Tea Host saat tidak ada group trekker lain, dengan mudah pemilik memberi free room tapi meminta saya untuk tidak cerita kepada group lain karena banyak dari mereka membayar untuk room. Sepanjang 16 hari trekking hanya 3 kali saya membayar untuk room, itupun karena sedang malas menawar. Di beberapa tempat saya memberi uang secara sukarela kepada pemilik guest house walaupun dapat free room. Karena keramahan mereka, ataupun sekedar karena saya suka view ajaib dari jendela kamar 🙂

  • Individual Trekker

Jalur yang cukup jelas, dan melimpahnya logistik serta penginapan membuat trekking dapat dilakukan secara mandiri tanpa Guide, Porter, ataupun Tour agency. Gambaran sederhananya, jika memakai guide atau porter, budget akan menjadi 2 kali lipat bahkan lebih. Biaya untuk guide atau porter  rata-rata 1000NPR/day. Itu belum termasuk uang makan dan biaya untuk agency mereka yang biasanya dibayar di muka. Lagipula dengan menjadi Individual Trekker kita juga tidak terpancang jadwal, waktu dan lebih leluasa bergerak.

Tidak perlu takut untuk berjalan sendiri. Dan jika berniat cari teman, nantinya kamu akan bertemu individual trekker lain dan kemudian seringkali memutuskan untuk berjalan bersama. Hari pertama di trek, saya bertemu 2 cewek eropa. Setelah tak lama ngobrol, kita memutuskan untuk jalan bersama. Tidak masalah untuk berjalan sendiri, namun jika ada teman akan terasa berbeda. Empat hari terakhir saya berjalan sendiri dan tidak ada masalah.

Sehari rata-rata trekker berjalan selama 5-7 jam selama kurun waktu 2 minggu dengan jalur naik-turun, beban di pundak, dan suhu ekstrim ketinggian bukan hal yang bisa dilakukan tanpa persiapan fisik dan mental. Memasuki ketinggian 3500m, sangat penting untuk melakukan proses aklimatisasi. Biasanya para trekker stay dua malam di Manang atau Braga, aklimatisasi sekaligus rest day. Sempat di High Camp 4900m saya lihat proses evakuasi 2 trekker Israel menggunakan helicopter, harga yang tidak murah tentunya. Pada ketinggian seperti ini, bahaya hypothermia dan AMS ( Alttitude Mountain Sickness ) dapat berakibat fatal jika tidak segera ditangani.

Penting untuk update kondisi cuaca di desa terakhir sebelum melewati titik tertinggi Thorung La 5416m. Badai salju dapat terjadi kapan saja, bahkan saat trekking season. Seperti tragedi bulan Oktober tahun 2014 lalu, puluhan trekker tewas terjebak badai salju di Thorung La. Untuk persiapan awal, berikut buku paduan yang sangat berguna, menjadi acuan hampir setiap individual trekker :

http://www.nepal-dia.de/Trekking_the_Annapurna_Circuit_with_the_new_NATT_trails_111017.pdf

Bagi yang ingin buku aslinya, dapat diperoleh dengan mudah ditiap toko buku sekitaran Thamel.

  • Gear

Peralatan yang dibawa adalah gear standard trekking tanpa tenda, tanpa cooking equip ataupun climbing equip. Penting : untuk membawa beban seringan mungkin. Percayalah, hidup akan terasa lebih mudah jika berat backpack saat trek ini kurang dari 10kg. Akan lebih baik lagi jika punya ultralight gear. Idenya adalah meminimalis bawaan, terutama pakaian. Cukup bawa beberapa saja, kita bisa cuci dan keringkan selama trekking. Bahan pakaian polyester ataupun quick dry bisa sangat membantu.

Hiking Boot harus benar nyaman di kaki. Salah memilih, kaki akan hancur, karena durasi trekking lebih dari 2 minggu. Waterproof  karena akan melewati beberapa sungai, kubangan air dan terkadang lumpur. Jenis Mid atau Ankle akan lebih safe, sol vibram juga lebih baik lagi untuk cengkraman diatas tanah atau batuan licin yang membeku.

Gunakan Jaket berisolasi, dan waterproof sehingga kehangatan tubuh terjaga sekaligus tidak perlu membawa raincoat.

Polyester Fleece berguna untuk tambahan isolasi sebelum jaket, terutama saat suhu minus. Nyaman pula dipakai tanpa jaket, untuk lapisan luar kaos saat siang hari suhu terasa panas di kulit dan melindungi tubuh dari angin.

Map yang bagus dapat dibeli di Thamel. Periksa sebelum membeli, map yang bagus berisi informasi lengkap dari mulai jarak waktu tempuh antar desa, hingga kelengkapan simbol. Harga rata-rata 300-400NPR.

Pada obat pribadi perlu untuk membawa Dexamethasone, obat untuk antisipasi AMS dan HACE. Dapat dibeli dengan mudah di Apotek sekitaran Thamel. Pelajari dosis dan ketentuan penggunaan terlebih dahulu. Harganya tidak semahal  seporsi Nasi Goreng, tapi dalam keadaan darurat bisa menyelamatkan nyawa 🙂

  • TIMS dan ACAP Permit

Dibutuhkan 2 dokumen untuk Annapurna Circuit Trek : TIMS ( Trekking information Management System ) dan ACAP ( Annapurna Conservation Area Permit ). Permit ini adalah suatu keharusan, di sepanjang trek akan nada kantor pengecekan. Biaya untuk TIMS dan ACAP, masing-masing adalah 2000NPR ( ± US$ 20 ) . Jadi total biaya untuk permit adalah 4000NPR ( ± US$ 40 ) , dan mereka hanya menerima pembayaran dalam NPR. Foto ukuran 3×4 dan pengisian data diri dibutuhkan untuk masing-masing dokumen. Proses mudah dan cepat, dapat dilakukan di Nepal Tourism Board Kathmandu, letaknya di kawasan Bhrikutimandap. Di sudut jalan Durbar Marg, dibelakang Tundikhel. Tidak sulit ditemukan, dari Thamel cukup jalan kaki 20-30 menit.

– Menuju Trailhead

Titik awal untuk memulai trek adalah Besisahar ( 760m ). Cara terbaik menuju Besisahar adalah naik  Bus langsung Jurusan Kathmandu – Besisahar. Bus berangkat tiap pagi dari Gongabu Bus Station. Dari Thamel ke Gongabu Bus Station perlu naik taxi, untuk biaya taxi Thamel-Gongabu saya kurang tahu karena waktu itu saya diantar teman lokal pake motor. Penting: Hindari booking tiket di Tour Agency sekitaran Thamel. Mereka akan menawarkan harga berkali-kali lipat, dan  Bus mereka hanya sampai Dumre. Padahal dari Dumre masih perlu ganti Bus jurusan Dumre-Besisahar. Sebagai gambaran saya ditawari tiket Kathmandu-Dumre 2000NPR, sedangkan tiket Kathmandu-Besisahar hanya seharga 600NPR jika kita beli langsung ke terminal. Malah waktu itu dapat harga 400NPR karena teman lokal yang membelikan tiket saya 🙂

Perjalanan Kathmandu-Besisahar memakan waktu 7-8 jam. Sampai di Besisahar trekker dapat memulai berjalan. Pilihan lain, dari Besisahar naik bus menuju Bhulbhule ( 790m ) atau Ngadi ( 920m ). Bagi trekker yang ingin selesai dalam 8-10 hari, dari Besisahar mereka akan menyewa Jeep untuk naik sampai Jagat ( 1290 m ). Saran saya adalah dari Besisahar naik bus sampai Bhulbhule atau Ngadi, dan memulai berjalan keesokan harinya.

Untuk informasi singkat sepanjang trek, dapat dilihat di tulisan selanjutnya : Annapurna Circuit Trek (2) 🙂